Ketika Agama Jadi Berhala
Al-Zastrouw
Dosen Pasca Sarjana Unusia, Penggiat seni tradisi dan budaya Nusantara
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid watyutink 12 December 2019 11:00
Watyutink.com - Dalam "The Trancendent Unity of Religions" Frithjof Schuon menyebut soal konsep eksoteris dan esoteris agama. Dimensi eksoteris terkait dengan aspek eksternal, dogmatis, ritual, etika dan moral suatu agama. Inti dari dimensi ini adalah kepercayaan pada dogma dan kepatuhan pada hukum moral dan ritual suatu agama. Dimensi ini bersifat eksklusif.

Dimensi esoterik terkait dengan aspek metafisik yang berada pada posisi terdalam (internal) dari agama. Esensi dari esoterisme adalah kebenaran total yang tidak teredusir oleh eksoterisme yang terbatas sehingga menjadi sempit dan dangkal. Dimensi esoterik merupakan pancaran dari spirit ketuhanan yang universal dan absolut (inkkusif) yang menjadi ruh dan isi dimensi eksoterik yang eksklusif. 

Secara sederhana bisa dipahami dimensi esoterik adalah isi, substansi yang universal, abstrak dan inklusif sedangkan eksoterik adalah wadah atau tempat bersarang esoterik agar bisa ditangkap, dipahami dan diamalkan oleh manusia. Tanpa ada dogma, ritus, simbol, hukum moral yang menjadi kerangka (wadah) maka dimensi esoterik akan sulit diamalkan, diajarkan dan dipahami manusia. Sebaliknya tanpa ada dimensi esoterik maka eksoterik akan kosong, kering dan keras.

Dalam konteks Islam dimensi eksoterik identik dengan syariat dan tarekat. Suatu ritual, simbol dan mekanisme beragama untuk mengekspresikan iman dan ajaran ketuhanan yang universal. Sedangkan dimensi esoterik adalah hakekat dan makrifat, substansi yang menjadi isi dari syariat, ritus, simbol, hukum moral dan dogma (aqidah) Islam. 

Dogma, syariat, ritus dan simbol agama Islam pada  sebagai dimensi esksoterik hakekatnya adalah sebagai instrumen untuk mengejawantahkan wujud Allah yang universal dan mutlak. Ini artinya, pelaksanaan syariah, penggunaan simbol agama dan penerapan dogma (akidah) Islam harus sejalan dengan misi ketuhanan yang dibawa oleh Nabi yaitu rahmatan lil'alamin dan liutammimal nakarimal akhlak (menyempurnakan akhlak mulia). Selain itu juga harus mencerminkan ketuhanan yang universal

Umat beragama dituntut untuk mewujudkan terjadinya integrasi antara dimensi esoterik dan eksoterik, antara dimensi syariah dan tarekat dengan dimensi hakekat dan makrifat. Kekagagalan dalam melakukan hal ini bisa menyebabkan terjadinnya distorsi agama yang mengarah pada pengabaian Tuhan dan dehumanisasi.

Kegagalan ini terlihat pada perilaku kaum ekstrimis radikal yang mengedepankan dimensi eksoterik dengan mengabaikan esoterik. Mereka mengagungkan simbol, ritus dogma dan syariah namun mengabaikan nilai dan spirit ketuhanan yang universal seperti rahman rahim, kejujuran, akhlakul karimah, keadilan dan sejenisnya. Pemuliaan yang berlebihan pada dimensi eksoterik agama telah menjadikan agama sebagai Tuhan dan berhala. 

Cara pandang inilah yang membuat orang menjadi mudah marah ketika simbol agamanya disinggung, ritus dan dogma agamanya diganggu. Mereka rela melakukan tindakan menista, fitnah, bikin kerusuhan bahkan membunuh dan berbagai tindakan brutal yang bertentangan dengan spirit dan ajaran agama itu sendiri. Karena agama sudah jadi Tuhan dan berhala maka mereka tega melakukan apa saja demi dan atasnama agama. 

Munculnya fenomena orang ngajak takbir sambil menista dan memaki. Tindakan merusak rumah ibadah di Bromo dan beberapa tempat lain, adanya intimidasi dan tindak kekerasan terhadap kelompok lain yang berbeda dengan mengatas namakan agama merupakan cermin terjadinya pemberhalaan terhadap agama. Karena apa yang mereka lakukan sama sekali tidak sesuai dengan spirit dan nilai ketuhanan yang menjunjung tinggi kemanusiaan.

Melihat kelakuan orang-orang yang telah memberhalakan agama sehingga mengabaikan kemanusiaan, timbul suatu pertanyaan: agama itu sesungguhnya untuk Tuhan apa manusia? Jika agama itu untuk manusia, mengapa mereka tega menista dan membunuh sesama atas nama agama? 

Jika agama untuk Tuhan, apakah Tuhan senang dibela dengan cara-cara yang keji dan menista kemanusian? Apakah Tuhan menerima jika dibela dengan menebar permusuhan dan kebencian sehingga terus menciptakan kekacauan dan kerusakan?

Jika manusia gagal mengintegrasikan dimensi esoterik dengan eksoterik, menyatukan dimensi syariat dan tarekat dengan hakekat dan makrifat sehingga manusia terjebak pada sikap menjadikan agama sebagai berhala, maka agama akan menjadi sumber kekacauan. Sebaliknya jika umat beragama mampu mengintegrasikan dan menempatkan tiap-tiap dimensi agama secara proporsional maka agama akan menjadi sumber kedamaian dan kebahagiaan dunia akherat.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)