Kejarlah Ekspor Hingga ke Negeri Afghanistan
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi Muid Watyutink.com 20 September 2021 14:00
Watyutink.com – Setelah hampir dua tahun perekonomian terpukul oleh tsunami pandemi Covid-19, Indonesia merengkuh harapan dari perdagangan internasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan surplus neraca perdagangan senilai 4,74 miliar dolar AS pada Agustus 2021, dua kali lipat dibandingkan Agustus 2020 yang sebesar 2,32 miliar dolar AS.

Surplus neraca perdagangan tersebut merupakan rekor tertinggi baru, mengalahkan rekor sebelumnya di 2006 yang mencatatkan kinerja 4,64 miliar dolar AS. Berbarengan dengan surplus neraca perdagangan, Indonesia juga mencatat nilai ekspor yang juga memecahkan rekor baru, yakni 21,42 miliar dolar AS. Jika dirupiahkan dengan menggunakan kurs saat  ini di Rp14.300 per dolar AS nilainya mencapai Rp306 triliun.

Sayangnya kinerja ekspor ini masih berbasis pada komoditas yang secara tradisional memang menjadi keunggulan Indonesia di pentas perdagangan dunia. Kenaikan ekspor tersebut tertolong oleh meningkatnya volume dan harga sejumlah komoditas.

Komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Agustus 2021 adalah batu bara sebesar 11,04 persen secara bulanan, disusul kelapa sawit sebesar 6,85 persen, dan minyak kernel yang juga berasal dari sawit sebesar 4,66 persen.

Surplus necara perdagangan saat ini merupakan sinyal membaiknya ekonomi dunia setelah mengalami resesi yang diakibatkan oleh pendemi Covid-19. Untuk itu Indonesia harus siap dan mampu memanfaatkan potensi pemulihan ekonomi global dan meningkatkan ekspor ke depan.

Peningkatan ekspor dapat dicapai melalui perbaikan efisiensi dan daya saing, penaikan nilai tambah produk ekspor, dan penguatan industri nasional. Daya saing menjadi kunci memenangkan kompetisi. Jika produk Indonesia dapat diterima di Inggris, misalnya, maka produk tersebut memiliki keunggulan dibandingkan barang sejenis dari negara lain.

Indonesia juga harus memiliki produk ekspor unggulan baru yang bisa dijual ke pasar internasional. Pembangunan infrastruktur, perkembangan teknologi, digitalisasi memainkan peran penting sebagai instrumen yang dapat digunakan untuk menciptakan nilai tambah, meningkatkan daya saing, dan memperkuat industri nasional.

Peningkatan ekspor juga dapat dilakukan dengan merealisasikan kerja sama perdagangan multilateral dan bilateral secara lebih masif. Salah satunya dengan Australia. Ada Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif antara Indonesia dan Australia (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement/IA-CEPA) yang berlaku sejak Juli tahun lalu.

Kerja sama ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mengekspor barang-barang otomotif, kayu dan turunannya termasuk kayu dan furnitur, perikanan, tekstil dan produk tekstil, sepatu, alat komunikasi dan peralatan elektronik.

Pelaku usaha di Tanah Air dapat memanfaatkan dihapuskannya tarif bea masuk (tarif preferensi IA-CEPA) untuk meningkatkan ekspor ke Australia. Di samping itu, industri nasional juga mendapatkan manfaat dari ketersediaan sumber bahan baku dengan harga lebih kompetitif karena tarif bea masuk nol persen. Dengan begitu dapat diciptakan jejaring supply global.

Di luar IA-CEPA, ada Perjanjian Kerja Sama Ekonomi Komperhensif (IE CEPA) antara Indonesia dan negara-negara anggota kerja sama perdagangan bebas Eropa (EFTA) di antaranya dengan Norwegia, Swiss, Islandia, dan Liechtenstein yang memiliki potensi pasar bagi produks ekspor Indonesia.

IE CEPA menetapkan tarif bea masuk nol persen ke negara EFTA bagi hampir 8.000 produk dari Tanah Air. Perjanjian dagang itu membuka pasar bagi produk ekspor Indonesia ke negara-negara EFTA yang berada di Benua Eropa itu.

IE CEPA juga akan membuka peluang kenaikan investasi yang berasal dari empat negara EFTA tersebut. Mereka memiliki potensi penanaman modal asing (PMA) yang tinggi yang dapat dimanfaatkan oleh Indonesia.

Selain ke negara-negara yang secara tradisional menjadi tujuan utama ekspor Indonesia seperti AS, China, Jepang, Eropa, dan Asean, Indonesia perlu mencari pasar baru sebagai upaya perbaikan akses pasar. Pemetaan pasar internasional dilakukan terutama di negara negara non-tradisional sebagai pasar ekspor yang prospektif.

Contohnya dengan Afghanistan. Ekspor Indonesia ke negara tersebut ternyata melonjak 361,7 persen pada Agustus 2021, di saat Taliban mengambil alih pemerintahan dan menduduki Kabul, ibu kota Afghanistan.

BPS mencatat nilai ekspor Indonesia ke Afghanistan mencapai 2,28 juta dolar AS, lompat 361,7 persen dibandingkan Juli 2021 yang tercatat sebesar 495.280 dolar AS. Produk yang masuk ke negara itu antara lain barang industri farmasi, buah-buahan, karet dan barang dari karet.

Indonesia harus lebih maju merangkul Afghanistan dibandingkan China dan Rusia yang telah mempertontonkan kemesraannya dengan negara tersebut. Apalagi Indonesia memiliki nepotisme agama sebagai sesama negeri mayoritas muslim.

China menyatakan akan berpartisipasi dalam rekonstruksi dan pembangunan Afghanistan, sementara Rusia yang dipimpin Presiden Vladimir Putin disebut-sebut akan menarik Afghanistan untuk bergabung dalam blok perdagangannya yang dinamakan Eurasian Economic Union.

Tidak tertutup peluang bagi Indonesia untuk membentuk Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA) dengan Afghanistan. Kabarnya negara itu cukup kaya dengan tembaga, batu bara, kobalt, merkuri, emas, dan lithium, senilai lebih dari 1 triliun dolar AS di dalam perut buminya. 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF