Kebenaran dan Kemaslahatan
Al-Zastrouw
Dosen Pasca Sarjana Unusia, Penggiat seni tradisi dan budaya Nusantara
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi: Muid/Watyutink.com 27 April 2018 10:00
Menyampaikan kebenaran adalah salah satu misi penting dalam ajaran Islam. Meski dalam keadaan sulit dan pahit sekalipun. Ini tercermin dalam Hadits: "qul lil haqqa walau kaana murran" (sampaikan kebenaran walaupun itu pahit).

Hadits inilah yang menjadi acuan bagi sekelompok orang menebar berita yang dianggap benar. Menjadi problem jika kebenaran tersebut ukurannya adalah keyakinan sendiri dan kelompoknya. Akibatnya, meski sebuah informasi fitnah dan penuh kebencian asal sesuai dengan keyakinannya, maka akan terus disebarkan tanpa merasa bersalah.

Orang-orang seperti ini tidak peduli jika "kebenaran" yang disampaikan akan membawa kehancuran tatanan sosial dan berbagai mafsadah (kerusakan) dalam kehidupan. Bahkan mereka akan semakin merasa heroik jika "kebenaran" yang disampaikan menimbulkan kegaduhan dan kontroversial.

Mereka akan semakin garang jika ada yang kritis terhadap "kebenaran" yang mereka sampaikan. Bila perlu melontarkan tudingan nista terhadap alim ulama kharismatik yang berbeda dengan kebenaran versi mereka. Demikian sebaliknya.

Akibat cara-cara menyampaikan kebenaran  yang mengabaikan etika dan norma, bahkan dengan caci maki dan intimidasi, maka terjadi benturan antara kebenaran dengan kemaslahatan. Padahal mestinya kebenaran itu berjalan selaras dengan kemaslahatan.

Untuk melihat hubungan menyampaikan kebenaran dengan etika, perlu melihat teks lengkap dari hadits tersebut: "Dari Abu Dzaar, ia berkata, “Kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan tujuh hal padaku: (1) mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintah agar melihat pada orang di bawahku (dalam hal harta) dan janganlah lihat pada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan padaku menyambung tali silaturahim, walau kerabat tersebut bersikap kasar, (4) beliau memerintahkan padaku agar tidak meminta-minta pada seorang pun, (5) beliau memerintahkan untuk mengatakan yang benar walau itu pahit, (6) beliau memerintahkan padaku agar tidak takut terhadap celaan saat berdakwa di jalan Allah, (7) beliau memerintahkan agar memperbanyak ucapan “laa hawla wa laa quwwata illa billah” karena kalimat tersebut termasuk simpanan di bawah ‘Arsy.” (HR. Ahmad)

Jika dicermati, perintah menyampaikan kebenaran dalam hadits tersebut sangat terkait dan senafas dengan etika sosial dan kemaslahatan. Nabi memerintahkan sabar dan tetap menyambung silaturahim terhadap kerabat yang bersikap kasar dan menyandarkan semuanya pada Allah saat menyampaikan kebenaran. Bukan bertindak dengan kekerasan, butal, dan agitatif atas nama kebenaran.

Untuk mewujudkan kemaslahatan, dalam menyampaikan kebenaran yang disyareatkan, para ahli fiqh menyusun beberapa ketentuan, yaitu: (1) mendahulukan kepentingan yang sudah pasti daripada yang masih mungkin; (2) mendahulukan kepentingan yang lebih besar/lebih luas atas yang kecil/sempit; (3) mendahulukan kepentingan sosial atas individual; (4) mendahulukan kepentingan yang lebih banyak daripada yang sedikit; (5) mendahulukan kepentingan yang berkelanjutan atas yang temporal/insidental; (6) mendahulukan yang substansial/pokok atas yang formal prosedural.

Jika ada suatu pemahaman keagamaan yang kita yakini kebenarannya, maka untuk menyampaikan kebenaran tersebut harus mempertimbangkan ketentuan di atas. Pun saat menerima informasi yang diyakini kebenarannya, perlu mempertimbangkan apakah penyebaran informasi tersebut bisa membawa kemaslahatan atau justru membawa kemafsadatan. Dengan begitu kita akan memiliki self restriction (sensor diri) dalam menyampaikan kebenaran.

Ketentuan fiqh ini penting dijadikan pijakan karena realitas sosial tidak sesederhana yang ada dalam pemikiran. Kebenaran tidak otomatis melahirkan kemaslahatan dalam kenyataan. Kebenaran bisa memancing kerusakan dan kemadlaratan jika disampaikan secara tidak tepat. Itulah sebabnya Nabi berpesan: "Chatibunnas bi qadri uquulihim (berilah penjelasan pada manusia sesuai kadar kemampuan akalnya)". Secara implisit hadits ini menyiratkan, menyampaikan kebenaran harus mempertimbangkan kadar pemikiran, kondisi emosional, dan konstruksi sosio kuktural masyarakat.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk, selain kreativitas tinggi perlu juga kearifan dan kerendahan hati dalam menyampaikan kebenaran. Karena selain beragam secara sosio kultural, ada perbedaan kadar pemikiran dalam menerima dan memahami kebenaran. Jika penyampaian kebenaran dilakukan dengan cara yang salah, mengabaikan etika maka kebenaran tak akan melahirkan kemaslahatan.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pajak lebih Besar untuk Investasi Tidak Produktif             Semua Program Pengentasan Kesenjangan Harus dikaji Ulang             Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi