Jadikan 2019, Tahun Kemenangan ‘Sejatinya Akal Sehat’
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
07 January 2019 11:15
Watyutink.com - Menyambut Tahun Baru 2019, semoga saja para pemimpin di negeri ini mendapat curahan rahmat dan hidayah-Nya, amin. Rakyat sangat berharap agar para pemimpin mampu melahirkan cara dan pemikiran baru yang mampu mengantar bangsa ini menyelesaikan tahapan pemilu-pilpres dengan damai. Terutama tentunya mampu mengakhiri perhelatan akbar ini di mana kehidupan rakyatnya tetap terjaga dalam semangat kekeluargaan untuk tetap hidup bersatu walau dalam berbagai perbedaan. 

Dalam kaitan ini, duet Jokowi-Prabowo di pangung politik Pemilu-Pilpres 2019, merupakan sentral dan sumber kekuatan paling penting dan paling menentukan. Tentunya dalam hal mengarahkan bagaimana kelak warna dan tingkat kualitas bangsa Indonesia dalam menyelesaikan amanat Undang-Undang Dasar ’45 yang mengharuskan terselenggaranya pemilu setiap 5 tahun sekali. Hal sangat penting inilah yang belakangan ini justru tergerus posisinya ke prioritas paling bawah, tergusur oleh nafsu politik perebutan kekuasaan yang memunculkan semangat saling meniadakan, dengan segala cara.

Sikap dan pola pikir saling memisahkan diri dengan garis demarkasi politik aliran yang sangat kental ini, belakangan terasa semakin menguat. Hal mana dikarenakan pilihan politik para pemimpin negeri ini yang dengan kekuatan mereka miliki, berhasil hanya memunculkan dua calon pasangan capres-cawapres. Dengan demikian, berbekal masa cukup panjang untuk mengentalkan permusuhan  lewat suntikan politik aliran yang cukup intensif, berawal sejak pasca kekalahan kubu Prabowo pada Pilpres 2014, dipertajam dengan kemenangan Anies-Sandi pada Pilgub DKI, dan berlanjut pada Pilkada-Pilgub di Jabar, Jateng, dan Jatim, pilihan untuk hanya menghadirkan dua pasangan calon ternyata telah melahirkan buah simalakama. Lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya!

Dengan akumulasi perbenturan panjang antar dua kubu yang terpelihara dengan baik ini, maka terbangunlah dua kelompok komunitas bangsa yang terbelah dua dan berpotensi akan terus saling berhadapan dan saling meniadakan yang berkelanjutan. Tidak mengherankan bila dalam kampanye pemilu-pilpres yang digelar sebagai agenda nasional, berseliwerannya hoax, derasnya ucapan kebencian, dan serangan terhadap pribadi capres-cawapres yang melampaui batas, mendominasi dunia perpolitikan nasional. Kian hari kekalahan akal sehat pun semakin nyata. Sementara kelompok yang konon giat sesumbar berpihak pada akal sehat pun, turut tergelincir ke dalam kubangan akal busuk yang sama sekali tidak menyehatkan.

Yang menyedihkan lagi para politisi yang sudah banyak makan garam dan tergolong sudah layak disebut sebagai politisi gaek, bukannya bertambah arif dan bijaksana, malah kembali seperti anak kecil dalam berpikir dan berperilaku. Bukannya menebar air bersih yang menyejukkan, tapi malah gemar bermain di tempat becek, berlumpur, kotor, dan jorok. Akibatnya cipratan air yang kotor dan jauh dari kata jernih pun,memperkeruh suasana dan menambah tidak karuannya warna masyarakat kita sebagai bangsa yang beradab. 

Di atas kekacauan dan hingar bingar yang rendah mutu ini, ada baiknya kita pertanyakan kembali; bukankah telah diprediksi oleh para pendiri Republik, bahwa akan demikian lah bangsa ini ketika Liberalisme menjadi pilihan dalam banguan politik-demokrasi kita. Sehingga siapa pun yang mengaku berakal sehat dan sesumbar sebagai yang paling berakal sehat, ada baiknya menyehatkan pikirannya kembali. Utamanya atas pilihan-pilihan pijakan politik-demokrasi semacam apa yang tepat dan akan berjalan sesuai dengan cita-cita membangun Indonesia sebagaimana amanat Pembukaan UUD’45.

Tawaran ini sering kali dianggap kuno dan klise justru oleh mereka yang selalu bersuara dan mengidentikan diri dengan gerakan akal sehat. Sementara ‘akal sehat’ yang ditawarkan oleh kelompok kaum liberal, terbukti malah menghasilkan  berkembangnya masyarakat yang akalnya tak sehat. Kegemaran mereka justru berputar pada lingkaran keahlian untuk lihay berakal-akalan. Dengan kata lain, pilihan terhadap liberalisme yang pasti diikuti dengan kapitalisme, telah membuat kita sebagai bangsa pandai berputar-putar di tempat, melingkar di batang benalu, dan selanjutnya membusuk! 

Nah, mengawali tahun baru 2019, semoga para pemimpin bangsa ini dicerahkan kembali pemikiran dan pandangannya; agar akal sehat yang ditawarkan adalah akal sehat yang lahir dan tumbuh dari rahimnya gerakan Indonesia merdeka. Dengan demikian hanya akal sehat yang berasal dari puncak-puncak capaian budaya lokal jenius lah yang patut kita posisikan sebagai ‘sejatinya akal sehat’ yang diperlukan bangsa ini. Hanya lewat pilihan ini, kehadiran gerakan membangun akal sehat akan berhasil membangun Indonesia menjadi sebuah bangsa besar yang beradab dan berperadaban tinggi! Bukan akal sehat versi kaum liberal yang terbukti menyesatkan!

Sekali lagi, Selamat Tahun Baru 2019, semoga pikiran baru, gagasan baru, semangat baru, dan pembaharuan berdasarkan ‘sejatinya akal sehat’, menjadi pilihan bersama ke depan dan seterusnya!

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Ruang Steril Sopir Bus AKAP Belum Diatur             Susi Cuma Orang Kecil             Wajar Ada Ketidakpuasan Terkait Kinerja KKP             Hidupkan Lagi Direktorat Keselamatan Jalan             Masalah Klasik Pidana Penjara             Pelesiran Setya Novanto, Biasa Itu!             Kinerja Menkumham Benahi Lapas Tidak Memuaskan             Maskapai Asing, Investasi yang Buruk Bagi Ekonomi Nasional              Hilangnya Kompetisi di Pasar Penerbangan Domestik             Masalah pada Inefisiensi dan Pengkonsentrasian Pasar