“It’s The Economy, Stupid”
Lukas Luwarso
Jurnalis Senior, Kolumnis
berita
Berpikir Merdeka
12 September 2018 13:00
Pertengahan 2018 sampai 2019 kerap dinamai sebagai “tahun politik”. Mungkin karena sepanjang periode ini peristiwa dan isu politik menghisap perhatian publik terkait menjelang pemilihan presiden dan pemilihan anggota legislatif. Seberapa penting sebenarnya politik bagi kehidupan masyarakat? Tidak terlalu penting, bagi masyarakat pada umumnya. 

Dalam sistem demokrasi, politik hanya sekadar ritual kompetisi bagi proses terjadinya sirkulasi kekuasaan. Bagaimana kekuasaan bertahan, berganti, atau beralih tanpa menimbulkan turbulensi yang berarti. Publik pada umumnya hanya menjadi penonton kompetisi politik, dan banyak yang tidak terlalu tertarik.

Cuma politisi, pemain politik, serta fans pendukung yang benar-benar menikmati kompetisi dan polemik politik. Kaum elite politik, sebagian elite bisnis yang kesuksesannya bergantung pada bisnis politik, dan para suporter politisi; merekalah yang antusias menyambut dan menaruh harapan pada tahun politik. Berharap tahun politik akan mengubah keberuntungan mereka.

Kecuali bagi sebagian yang hobi bercakap politik, publik pada umumnya tidak terlalu peduli dengan hiruk pikuk tahun politik. Karena, kompetisi politik betapapun riuhnya tidak berdampak langsung pada hidup sehari-hari. Publik masing-masing tetap harus menjalani rutinitasnya, agar tetap survive menjalani hidup.

Kompetisi politik, sebagaimana kompetisi olahraga, adalah peristiwa selintas (yang rutin dan ada musimnya) dan lebih bermakna sebagai entertainmen. Menjadi tontonan yang sejenak dapat melepaskan kepenatan rutinitas hidup, sembari membersitkan harapan akan adanya perbaikan atau perubahan situasi. Esensi kompetisi politik adalah lomba mewacanakan janji dan persepsi, melalui kampanye. Janji politik, karena bukan kontraktual, tidak ada konsekuensinya. Publik paham, janji politik mirip doa membangun harapan, jika doa itu tidak terwujud publik maklum. 

Dalam kompetisi politik, politikus menawarkan dirinya sebagai solusi datangnya “perubahan dan perbaikan”. Namun publik paham, politikus mirip aktor pemain drama, yang pintar mendramatisasi  perannya. Yang terjadi bukan situasi yang berubah atau membaik, melainkan politikus itu sendiri yang nasibnya berubah membaik (jika memenangkan kompetisi). Kehidupan masyarakat pada umumnya tetap stagnan, tidak berubah.

Indikator paling mudah untuk mengidentifikasi situasi masyarakat membaik atau tidak adalah soal ekonomi. Kondisi ekonomi riil yang membaik segera bisa dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Dan ketika ekonomi membaik, publik umumnya tidak terlalu mempedulikan politik. Itu sebabnya kompetisi politik kerap mewacanakan perbaikan ekonomi sebagai janji utama: pertumbuhan ekonomi, pembukaan lapangan kerja, turunnya harga-harga, peningkatkan ekspor, pengurangan impor, penghematan anggaran, kenaikan gaji, tidak menambah utang negara, adalah beberapa tema ekonomi populer yang selalu didengungkan dalam kampanye dan janji politik.

It’s the economy, stupid” menjadi slogan Bill Clinton ketika memenangkan kompetisi Pilpres di AS pada 1992, menggusur petahana Presiden George H. W. Bush. Tema ekonomi itu disambut antusias warga AS yang saat itu mengalami resesi. Donald Trump memenangkan pilpres tahun 2016 dengan mengusung isu ekonomi: “Make America Great Again ”—slogan sama yang dipakai oleh Ronald Reagan memenangkan Pilpres AS pada 1980.

Politik adalah seni memainkan persepsi atau opini publik, namun ekonomi adalah soal real. Kemampuan daya beli naik atau turun, ekonomi menguat atau melemah bukan wilayah yang bisa dimainkan dengan membangun opini atau persepsi. Polemik isu politik boleh mengasyikkan, namun problem ekonomi real tidak bisa dimain-mainkan.

Polemik politik cuma penting bagi sejumlah elite, ekonomi adalah perkara serius menyangkut hajat hidup masyarakat banyak.

Alih-alih mewacanakan 2018-2019 sebagai “tahun politik”, politikus, intelektual dan media massa sebaiknya menekankan pada “tahun ekonomi”. Indonesia sedang menghadapi potensi krisis ekonomi besar beberapa bulan ke depan, ada baiknya politikus Indonesia serius jika ingin menang. Ini bukan soal politik: "It”s the economy, stupid.”

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Nyoman Sudarsa

Ketua DPW KOMBATAN Provinsi Bali

FOLLOW US

Reformasi Struktural: Darimana Kita Memulai?             Kemenag Perlu Jelaskan Manfaat Kartu Nikah             Focus ke Penetrasi Ekspor Produk Bernilai Tambah Tinggi             Gerindra dan PDIP Diuntungkan pada Pemilu 2019             Darurat, pembenahan Sektor Manufaktur dan Kapasitas SDM (Bagian-1)              Darurat, pembenahan Sektor Manufaktur dan Kapasitas SDM (Bagian-2)             Masih Ada Waktu untuk Perbaharui Komitmen             Penguatan Upaya Pemberantasan Korupsi             Kasus Century Tanggung Jawab KSSK              Komnas Perempuan: BN Korban Pelecehan Seksual yang Dikriminalkan