Inkonsistensi Pernyataan MUI dalam Kasus Teroris
Al-Zastrouw
Dosen Pasca Sarjana Unusia, Penggiat seni tradisi dan budaya Nusantara
berita
Berpikir Merdeka
18 November 2019 10:00
Watyutink.com - Pernyataan Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahwa teroris tidak beragama menunjukkan sikap dan nalar yang inkonsisten. Pertama, inkonsistensi ini terletak pada perlakuan terhadap jenazah para pelaku teror bom bunuh diri

Semua jenazah pelaku bom bunuh diri dimakamkan secara Islam. Bahkan di beberapa tempat dilakukan seperti layaknya pahlawan dan syuhada sehingga didatangi ribuan massa. Pemakaman para teroris di Indonesia seolah menjadi momentum membangkitkan semangat jihad Islam.

Kalau memang MUI konsisten bahwa teoris itu tidak beragama, mengapa MUI membiarkan mayatnya dikubur dengan ritual dan tata-cara Islam. Apakah MUI tidak mengetahui hukum dan tata cara ritual dan pemulasaraan jenazah seorang Muslim dan perbedaannya dengan yang non-Muslim? Ataukah MUI menganggap orang yang tidak beragama jenazahnya bisa dikubur dengan ritual dan tata cara Islam? 

Kalau konsisten dengan pernyataannya, mestinya MUI membuat fatwa atau rumusan hukum fiqh yang menyatakan status jenazah orang yang tidak beragama itu seperti orang Islam. Sehingga harus diperlakukan dan diupacarakan sesuai dengan ritual pemakaman pemeluk Islam. Atau sebaliknya, jika jenazah orang yang tidak beragama statusnya  berbeda dengan orang Islam, maka MUI harus mengeluarkan fatwa melarang menyolati dan menguburkan pelaku bom bunuh diri secara Islam. Jika tidak demikian maka pernyataan MUI tersebut merupakan sikap inkonsistensi yang cenderung mempermainkan hukum Islam dan membohongi publik.

Kedua, soal pemahaman keagamaan para teroris dan pelaku bom bunuh diri. Rata-rata para teroris memiliki paham keislaman yang kaku, puritan tekstual skriptural sehingga menimbulkan sikap intoleran, keras dan kasar. Jika pelaku teror yang memiliki paham keagamaan seperti ini dianggap tidak  beragama maka paham seperti ini adalah pahamnya orang yang tidak beragama. Dan ini artinya MUI harus menyatakan bahwa itu paham yang sesat karena dianut oleh orang yang tidak beragama. Paham ini tidak saja mendistorsi ajaran Islam tetapi juga membulkan kemadlaratan (kekacauan) dan mafsadah (kerusakan) sehingga menciptakakan kesan dan persepsi Islam sebagai agama yang merusak kehidupan.

Pernyataan MUI itu mungkin ingin cuci tangan dan membersihkan Islam dari tindakan kotor para teroris, dengan cara mengeluarkan (mengeksklusi) pelaku teror dari Islam melalui klaim teroris sebagai orang yang tidak beragama. Melalui pernyataan ini diharapkan akan timbul asumsi Isam sudah dibajak oleh oleh orang yang tidak beragama. Alih-alih membersihkan Islam, yang terjadi justru menjadi bahan ejekan dan tertawaan.

Pernyataan MUI itu tidak hanya menunjukkan sikap inkonsisten tetapi juga mencerminkan perilaku kekanak-kanakan. Seperti anak kecil yang ketangkap mencuri permen dengan barang bukti yang ada di tangan dan mulut. Untuk menjaga dan melindungi diri dia ngotot tidak mencuri sambil menyatakan barang bukti yang ada di tangan adalah bukan permen. Dengan argumen naif, dangkal dan inkonsisten yang khas anak-anak dia meyakinkan semua orang bahwa dia bukan pencuri.

Jika kita percaya dengan argumen anak kecil yang inkonsisten ini maka dia akan terus mengulang melakukan pencurian dengan berlindung di balik argumen-argumen tersebut. Artinya pernyataan MUI yang inkonsisten tersebut justru bisa menjadi tempat berlindung para teroris dalam melakukan aksinya. Meski mereka dinyatakan bukan orang beragama, toh mayat mereka tetap diperlakukan secara Islam, bahkan ada yang menganggapnya syahid, sebagai martir yang menggugurkan kewajiban umat Islam lainnya dalam berjihad.

Jika pernyataan MUI tidak dibarengi dengan sikap konsisten dalam memberlakukan para teroris dan paham keagamaan yang mereka yakini, maka pernyataan tersebut justru akan dianggap sebagai basa basi dan cuci tangan yang bisa menjadi tempat berlindung para teroris. Dan ini membahayakan bagi kedaulatan bangsa.

Agar hal ini tidak terjadi, maka MUI perlu bersikap konsisten dan tegas dengan pernyataanya. Ini bisa dillakukan dengan membuat fatwa haram menyolati dan memakamkan teroris dengan cara Islam karena mereka tidak beragama. Juga fatwa bahwa paham keagamaan teroris adalah sesat karena tidak sesuai ajaran Islam.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Teguh Santoso, S.E., M.Sc.

Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB Unpad, Peneliti Center for Economics and Development Studies

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir