Infrastruktur Besar atau Kecil?
Farid Gaban
Jurnalis Senior, Praktisi Pertanian
berita
Berpikir Merdeka
07 November 2018 10:00
Presiden Joko Widodo, yang dikenal pula sebagai “Bapak Infrastruktur”, meresmikan penggenangan Bendungan Jatigede, Jawa Barat, tiga tahun lalu. Itu momen bersejarah. Setelah tertunda hampir 50 tahun, waduk itu benar-benar terwujud dan menjadi waduk kedua terbesar di Indonesia, yang diharapkan berfungsi penuh pada akhir 2019.

Namun, dalam beberapa bulan terakhir, air bendungan kembali surut akibat kemarau panjang. Banyak desa yang dulu tenggelam kini nampak kembali. Air memang diperkirakan akan naik kembali ketika musim penghujan. Namun, kekeringan Jatigede memunculkan sejumlah pertanyaan mengenai manfaat jangka panjang bendungan ini.

Bandungan-bendungan besar yang dibangun di berbagai belahan dunia sudah lama dipertanyakan manfaatnya. Studi terbaru, yang diterbitkan September lalu, menambah daftar keraguan tadi. Ditulis oleh antara lain Prof. Emilio Moran dari Michigan State University, AS, studi itu menyebutkan bahwa bendungan besar membawa risiko dan dampak negatif lebih besar ketimbang manfaat yang dijanjikannya.

Ini relevan bagi Indonesia, mengingat Pemerintahan Jokowi juga berencana membangun 49 bendungan besar serupa.

Bendungan memang dibangun dengan tujuan bagus: mengendalikan banjir, mengairi sawah demi swasembada pangan, dan membangkitkan listrik. Tapi, dalam praktik, tujuan baik tidak sepenuhnya tercapai, sementara ongkos sosial dan lingkungannya sangat mahal.

Umur Waduk Saguling lebih pendek dari perkiraan awal 50 tahun akibat pelumpuran, sampah, dan pencemaran ganas Sungai Citarum yang dibendungnya. Waduk Gajah Mungkur di Jawa Tengah juga hampir serupa nasibnya. Kerontangnya Jatigede kini bisa menjadi indikasi tentang kemungkinan umurnya yang lebih pendek.

Di sisi lain, pembangunan waduk memicu gegar budaya bagi masyarakat sekitar. Petani yang tergusur harus mencari tempat tinggal baru dan jenis pekerjaan baru. Dibangun dengan biaya lebih dari Rp6 triliun investasi China, Jatigede menggusur hampir 12 ribu keluarga dan menggenangi lahan pertanian subur seluas hampir 5.000 hektar.

Bendungan menggusur petani dan menenggelamkan lahan pertanian subur yang sering berlawanan dengan motif swasembada pangan itu sendiri. Petani yang kehilangan lahan membabat bukit dan gunung, memperbesar ancaman longsor serta mempercepat pelumpuran waduk.

Pembangunan bendungan menjadi tren kuat secara internasional pada 1970-an, tapi surut sepuluh tahun kemudian. Bendungan besar akhirnya dinilai lebih merupakan problem ketimbang solusi.

Tak heran jika pengalaman seperti Kedung Ombo dan Dam Narmada di India mengilhami gerakan menolak bendungan di seluruh dunia. Arundhati Roy, penulis dan feminis India, salah satu tokoh di garda depan gerakan itu. Bendungan, kata Arundhati, punya daya rusak seperti bom nuklir. Makin besar, kian merusak.

Jika bendungan ditolak, bagaimana nasib pelestarian sumber air, swasembada pangan dan energi?

Pelestarian sumber air dan pengendalian banjir tak bisa lain kecuali merawat aliran sungai alami serta menjaga keutuhan hutan di gunung dan perbukitan. Bendungan besar tak hanya mengubah sungai alami, tapi juga mendorong orang merusak hutan.

Kita masih memiliki banyak sumber energi lain untuk listrik: gas, geotermal, angin, matahari. Bahkan pembangunan bendungan kecil mikro-hidro masih bisa ditoleransi.

Dalam konteks ini, kita bicara skala. Konsep “kecil itu indah” yang diusung ekonom EF Schumacher 40 tahun lalu masih relevan. Dalam konteks bendungan, membuat jaringan waduk-waduk kecil yang dirancang secara matang dengan mempertimbangkan berbagai aspek akan lebih bermanfaat ketimbang bendungan raksasa. Risikonya juga lebih mudah diantisipasi.

Bendungan besar cenderung merangsang pertanian skala besar yang menggusur petani. Swasembada pangan yang berkelanjutan mustahil dicapai tanpa pemberdayaan dan penguatan petani baik dalam aspek manajemen maupun pemanfaatan sains dan teknologi.

Jika kita berpikir membangun pertanian membutuhkan banyak air, sebaiknya belajar dari petani Israel yang bertani di gurun pasir menggunakan sistem irigasi tetes atau drip-system. Mereka berhasil mengekspor bunga dan buah ke Eropa.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Nyoman Sudarsa

Ketua DPW KOMBATAN Provinsi Bali

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

FOLLOW US

Kartu Nikah Tidak Diperlukan             Penggunaan Pembayaran Online Harus Memiliki Regulasi             Reformasi Struktural: Darimana Kita Memulai?             Kemenag Perlu Jelaskan Manfaat Kartu Nikah             Focus ke Penetrasi Ekspor Produk Bernilai Tambah Tinggi             Gerindra dan PDIP Diuntungkan pada Pemilu 2019             Darurat, pembenahan Sektor Manufaktur dan Kapasitas SDM (Bagian-1)              Darurat, pembenahan Sektor Manufaktur dan Kapasitas SDM (Bagian-2)             Masih Ada Waktu untuk Perbaharui Komitmen             Penguatan Upaya Pemberantasan Korupsi