Indoor Generation Dikepung Virus Corona
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/ watyutink.com 21 March 2020 10:00
Watyutink.com - Di tengah pandemi virus corona, bertebaran cerita humanis tentang “Work from Home,” bekerja dari rumah, “School from Home,” sekolah dari rumah, maupun “Social Distancing,” pembatasan interaksi sosial.

Dari anggota keluarga yang berebut komputer sampai ibu yang berteriak meminta anak dewasanya untuk segera mandi, padahal sedang “video conference,” dengan rekan-rekan sejawatnya. Ada juga pegawai yang dalam sehari harus beberapa kali swafoto dan melaporkan lokasi di mana ia berada kepada pimpinannya melalui ponsel. Belum lagi hampir setiap orang meminta orang tuanya, terutama yang sudah lanjut usia, untuk tidak keluar rumah.

Berbagai kisah itu menggambarkan pengalaman penduduk urban yang disebut sebagai “indoor generation,” yaitu mereka yang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan, menongkrongi layar kaca, dan gawai masing-masing.

Pemicu berkembangnya “indoor generation” adalah kemajuan teknologi yang memudahkan segala aspek kehidupan. Selain itu, menurut situs Soulventure, juga ada peran sosial dan budaya. Karena harga lahan yang tinggi, perencana kota fokus pada pembangunan apartemen dan perkantoran dibandingkan ruang terbuka hijau. Tingkat kriminalitas perkotaan yang tinggi ditambah banyaknya kendaraan lalu lalang membuat orang tua lebih merasa tenang jika anak-anaknya berada di rumah.   

Padahal, sejumlah data ilmiah membuktikan bahwa udara di dalam rumah dan gedung dapat lebih tercemar dibandingkan udara di luar ruangan pada kota-kota industri besar sekalipun. Penelitian lain menunjukkan bahwa secara umum manusia menghabiskan sekitar 90 persen waktu mereka di dalam ruangan. Ini berarti seseorang yang berusia 70 tahun telah menghabiskan 63 tahun hidupnya di dalam ruangan.  

Bagi banyak orang, risiko terhadap kesehatan mungkin lebih besar karena terpapar polusi udara di dalam ruangan daripada di luar ruangan. Kualitas udara dalam ruangan yang buruk terkait dengan gejala seperti sakit kepala, kelelahan, sulit berkonsentrasi, flu dan penyakit virus lainnya, serta iritasi mata, hidung, tenggorokan dan paru-paru.

Media The Guardian mengutip pendapat Marshall Burke dari Stanford University yang secara ilmiah menghitung bahwa udara yang lebih bersih karena mewabahnya virus corona di China dalam beberapa bulan terakhir, mungkin telah mencegah 1.400 kematian dini pada anak-anak di bawah usia lima tahun dan 51.700 kematian dini pada orang di atas 70 tahun.

Kualitas udara dalam ruang yang baik, menurut standar kesehatan dan keselamatan kerja, harus mencakup suhu dan kelembaban yang nyaman, pasokan udara luar yang segar, dan pengendalian pencemar di dalam dan di luar gedung.

Sebenarnya, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2011 Tentang Pedoman Penyehatan Udara Dalam Ruang Rumah telah menetapkan persyaratan kualitas udara dalam ruang rumah yang meliputi kualitas fisik, di antaranya partikulat, suhu udara, kelembaban dan laju ventilasi; kualitas kimia antara lain sulfur dioksida, karbon dioksida, timbal, asbes dan asap rokok; serta kualitas biologi yaitu bakteri dan jamur.

Kualitas udara dalam ruang harus terus dicermati, bukan hanya karena manfaatnya bagi kesehatan, namun juga karena banyaknya perubahan yang akan terjadi karena ancaman virus corona.

Yodi Danusastro, praktisi gedung sehat dan ramah lingkungan di Indonesia yang juga pengamat “indoor generation,” mengatakan bahwa kualitas udara dalam ruang yang baik akan memengaruhi kinerja mereka yang diharuskan bekerja dari rumah seperti sekarang.

Pandangan Yodi memperkuat artikel berjudul “How the Coronavirus Is Already Rewriting the Future of Business” yang menuangkan pendapat para professor dari Harvard Business School tentang bagaimana COVID-19 akan mengubah praktik di dunia kerja. Intinya, pertemuan tatap muka menjadi kurang penting, pola kolaborasi menjadi efisien dalam hal waktu, dan bekerja dari rumah akan lebih strategis. Gaya kepemimpinan juga bakal berubah, menuju budaya berbasis kepercayaan dan komitmen, serta penekanan pada fleksibilitas dan kreativitas.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF