Hoax Ratna, Konspirasi Sarumpaet
Lukas Luwarso
Jurnalis Senior, Kolumnis
berita
Berpikir Merdeka
11 October 2018 10:00
Jika ada kasus yang dapat menjadi contoh faktual kata “hoax” dalam arti yang sebenarnya, maka itu adalah yang dilakukan Ratna Sarumpaet. Hoax adalah aksi tipu-tipu, kebohongan, yang itikadnya sekadar main-main. Sejenis prank untuk mengelabui, sekadar untuk having fun. Dalam konteks Ratna untuk menutupi rasa malu. 

Ratna perlu membuat dalih kebohongan, hoax, untuk menjawab pertanyaan anaknya terkait wajahnya yang babak belur. Tentu agak memalukan bagi Ratna, jika ia jawab secara jujur: habis operasi plastik. Sebagai seorang yang merasa dikenal—dan ingin dikesankan—sebagai “aktivis pejuang demokrasi”, tentu tidak “heroik” jika wajah babak belurnya cuma upaya mempercantik diri di usia 70-an. Maka situasi dramatik perlu dikarang: ia dianiaya.

Kebohongan kecil, hoax domestik, yang niatannya untuk menambal rasa malu, menjadi persoalan besar ketika sang anak merespon dengan menyebar “info penganiayaan” itu. Segera hoax domestik Ratna menjadi hoax politik nasional. Politik perkubuan pilpres menambah dosis eskalasi drama menjadi kisah epik.

Kubu Capres Prabowo dengan antusias mengolah info Hoax Ratna ini menjadi komoditi untuk menyerang kubu Jokowi. Mereka serasa mendapat “durian runtuh”, satu senjata ampuh untuk melumpuhkan benteng kredibilitas dan legitimitas politik Jokowi. Namun sayang kebohongan cepat terungkap, berkat kerja cepat kepolisian. 

Hoax Ratna, karena semula untuk konsumsi domestik, terbukti tidak dirancang dengan baik. Skenario kecil untuk membohongi anak, gagal membohongi politik nasional. Drama ini mestinya selesai, ketika Ratna dengan getir dan malu mengakui kebohongannya dalam konferensi pers. Namun tidak, para pendukung politik tidak mau cerita berhenti hanya sampai pengakuan Ratna.

Ibarat film yang sukses memancing minat penonton, drama Hoax Ratna memerlukan sekuel. Berupaya mencari penjelasan motif, niat dan analisis latar belakang mengapa Ratna melakukan kebohongan itu. Kemudian muncul sejumlah pemaparan konspiratif. Teori konspirasi yang diproduksi dari dua kubu politik lebih epik dan dramatik ketimbang sekadar alur kisah Hoax Ratna.

Konspirasi Sarumpaet, sebagai sekuel dari Hoax Ratna, sedikitnya ada dua teori mainstream dari dua kubu yang berseberangan. Pertama, Konspirasi Sarumpaet sudah sejak awal diskenario. Operasi plastik, pengambilan foto wajah babak-belur, penyebaran foto ke media sosial, aksi Ratna mengadu ke elite Gerindra dan Amien Rais, Prabowo melakukan konferensi pers, dan aksi kecaman yang ditujukan ke kubu Jokowi. Semua rencana itu sudah lengkap partiturnya sebagai orkestrasi untuk menyuarakan nada sumbang ke kubu Jokowi. Ini konspirasi versi pendukung Jokowi.

Kedua, Konspirasi Sarumpaet bahwa Ratna diduga adalah agen intelijen yang ditanam oleh kubu Jokowi untuk merusak soliditas kubu Prabowo dari dalam. Teori Konspirasi yang disuarakan kubu pendukung Prabowo ini mengajak publik menyelidik hilangnya HP Ratna usai debat dengan Menko Maritim Luhut Panjaitan soal penanganan korban Danau Toba, cepatnya polisi membeberkan fakta kebohongan Ratna, serta sejumlah kecurigaan lain tentang sepak terjang Ratna yang patut dipertanyakan. Misi Ratna, menurut teori konspirasi ini adalah: agar Prabowo didiskualifikasi sebagai capres.

Teori Konspirasi Sarumpaet menjadi semakin liar dan bercita rasa global (ala film sekelas James Bond atau kisah novel-novel intrik intelijen internasional ala Tom Clancy), dengan adanya kabar kepergian Ratna ke Chile, Amerika Selatan. Satu versi konspirasi menjelaskan, kepergian Ratna ke Chile adalah upaya mencari suaka politik. Dan ia akan memainkan peran sebagai “prisoner of conscience” mengkampanyekan perjuangan kubu Prabowo dari luar negeri, setidaknya berkampanye terjadinya persekusi politik di era Jokowi. Teori lain menyebut, Ratna berupaya menyelamatkan diri dari kejaran hukum atau kemarahan kubu Prabowo.

Konspirasi Sarumpaet sebagai sekuel Hoax Ratna bakal panjang kisahnya, sekuel-sekuel baru kisah konspiratif akan terus bermunculan, setidaknya sampai usai Pilpres 2019.  Kegemaran para pendukung kubu-kubu politik berkonspirasi adalah simptom politik defisit nalar. Sikap emosional dalam berpolitik mendorong  lenyapnya politik rasional. Dalam wacana politik defisit nalar, hoax kecil Ratna telah menjadi Konspirasi besar Sarumpaet. 

Ini boleh jadi terkait dengan adagium populer bahwa: “tidak ada kebetulan dalam politik.” Setiap gerak dan laku dalam politik dianggap sebagai satu siasat atau skenario, sebagai kesengajaan untuk menelikung lawan demi mencapai kemenangan. Dengan paradigma politik seperti itu, tidak mengherankan kebodohan dan kekonyolan individu, sebagaimana dilakukan Ratna Sarumpaet, pun dianggap sebagai strategi politik. Hoax dan konspirasi akan terus menjadi menu wacana politik di Indonesia sampai tahun depan. Siapkan pop corn, enjoy the show.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Niko Adrian

Advokat, Dosen Hukum Tata Negara FH-UKI

FOLLOW US

Demi Suharto Pemerintah dan Oposisi Bersatu             Petahana Demisioner vs Penantang Bulldozer             Dikhotomi Orde Baru dan Reformasi : Masih Relevankah?              Turn Back Orba             Percakapan Dari Orang ke Sistem             Orde Baru Politik Sesaat dan Tantangan Menuntaskan Reformasi             Pertarungan Idiologi             Bangkit Orde Para Bandit             Pendekatan Dialogue dalam Penyesuaian Konflik Papua Lebih Efektif, Ketimbang Operasi Militer             Dukungan Bagi Bank Syariah Harus Konsisten-Konsekwen