Hikmah Perhutanan Sosial
DR Amanda Katili Niode Ph.D
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
17 November 2018 10:45
Sampiran puluhan kain tradisional dari Kepulauan Nusantara yang ditenun dengan pewarna alami membuat semarak Rumah Rakuji di Jakarta Selatan, pengayom seni, budaya, dan kerajinan Indonesia. Terlihat beberapa tas tangan terbuat dari kayu eboni asal Palu maupun dari anyaman bemban, tanaman sejenis rotan tetapi berukuran kecil dari pelosok Pulau Kalimantan. Myra Widiono, pendiri Rumah Rakuji, arsitek lulusan ITB dan pegiat perubahan iklim, memperlihatkan ragam kerajinan lainnya, karya para artisan dari daerah tertinggal. 
 
Bahan baku untuk kreasi seni dan kerajinan hanyalah sebagian kecil manfaat yang dapat diperoleh dari program perhutanan sosial yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pola pemberdayaan yang mempertimbangkan pelestarian lingkungan. Masyarakat di sekitar hutan dapat mengajukan hak pengelolaan area hutan kepada pemerintah melalui serangkaian proses guna memperoleh manfaat dari hutan tanpa merusaknya.
 
Warga Desa Menua Sadap di Kalimantan Barat, misalnya, membentuk enam kelompok usaha, yaitu madu, agroforestri, ekowisata, kain tenun dengan pewarna alami, kerajinan rotan, dan perikanan. Sedangkan masyarakat Desa Rempek di Nusa Tenggara Barat mengolah kakao dan kopi dari hutan tanaman produksi Rinjani Barat. Pengembangan juga dilakukan untuk wisata alam serta sarana edukasi kawasan hutan.
 
Perhutanan sosial di Indonesia berlandaskan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor  P.83/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2016 tentang Pehutanan Sosial. Kategorinya terdiri dari Hutan Desa, Hutan Kemasyarakatan, Hutan Tanaman Rakyat, Hutan Adat, dan Kemitraan Kehutanan. Sedangkan pengelolaannya berprinsip keadilan, keberlanjutan, kepastian hukum, partisipatif dan bertanggung gugat. 
 
Presiden Jokowi baru saja menyerahkan 37 unit Surat Keputusan Perhutanan Sosial di Jawa Barat dengan luas 8.617 hektar untuk 5.459 KK. Masyarakat, ujarnya, dapat menanam berbagai komoditas maupun tanaman hortikultura yang cocok dengan lingkungan sekitar. Dengan demikian sejak program Reforma Agraria dan Perhutanan Sosial  dicanangkan di awal pemerintahan Jokowi, realisasi Perhutanan Sosial sampai November 2018 mencapai 2,13 juta hektar atau 16,8 persen dari total target sebesar 12,7 juta hektar. 
 
Perwujudan Perhutanan Sosial tidak berjalan secepat yang diharapkan karena adanya berbagai tantangan seperti pemahaman masyarakat yang perlu ditingkatkan, kesiapan kelompok tani hutan dalam perencanaan pemanfaatan lahan, dan proses perizinan yang tidak mudah. Karenanya, Pemerintah berjanji untuk melakukan penyederhanaan prosedur dan perizinan, penguatan kelembagaan dan kemitraan, pendampingan di wilayah, dan pengembangan sistem monitoring dan evaluasi.

Pemerintah juga mendukung Festival PeSoNa - Perhutanan Sosial Nusantara - ke-3 yang akan berlangsung 29 November hingga 1 Desember 2018 di Kota Jambi. Ini merupakan ajang temu para kelompok tani penghasil produk Perhutanan Sosial non kayu sebagai penjual dengan calon penyalur atau pembeli. Juga sebagai wahana edukasi bagi kelompok tani, untuk memahami rantai pasar berbagai produk Perhutanan Sosial. 

Walaupun banyak tantangan, realisasi perhutanan sosial selayaknya diperjuangkan terus secara konsisten oleh seluruh lapisan masyarakat, khususnya karena hikmah yang dapat diperoleh. Presiden Jokowi mencatat ada 25.863 desa di dalam dan sekitar kawasan hutan, 71 persen menggantungkan hidupnya dari sumber daya hutan, dan ada 10,2 juta orang miskin di dalam kawasan hutan yang tidak memiliki aspek legal terhadap sumber daya hutan. 
 
Hikmah Perhutanan Sosial, selain memberikan hak pengelolaan hutan bagi masyarakat, mendukung mata pencaharian, dan menjaga lingkungan, adalah juga produknya yang mengangkat nama Indonesia di mancanegara.
 
Myra Widiono, pendiri rumah Rakuji yang juga Ketua Perkumpulan Pewarna Alam Indonesia menyampaikan bahwa sejumlah produk kerajinan Indonesia yang ramah lingkungan memperoleh penghargaan World Craft Council. Karya para artisan Indonesia itu antara lain ulos Harungguan, selendang tenun Pileh, tenun Gringsing dengan pewarna indigo dan mengkudu, tenun ikat ulap doyo dan tas laptop dari anyaman bemban.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Bilik Asmara adalah Hak Tahanan yang Harus Dipenuhi             Kedua Kubu Harus Menghormati Proses Hukum             Vandalisme dan Playing Victim sudah Usang             Investasi Dana Haji Untuk Siapa?             Batas Kesopanan Tidak Diatur dengan Jelas             Iklan Shopee BLACKPINK Berpotensi Menentang Norma Kesopanan              Jangan Abai dengan Jalan Rusak Dimusim Hujan             Revisi PP untuk Kemudahan Usaha Sektor Minerba             Tolak Rencana Revisi Ke-6 PP No.23 Tahun 2010              Kembali ke Permurnian Pelaksanaan Undang-Undang