Generasi Upin dan Ipin
Ade Irwansyah
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
07 April 2018 13:00
Saban hari anak lelaki saya yang berumur empat tahun punya tontonan favorit: serial Upin dan Ipin yang tayang di MNC TV. Di stasiun TV milik konglomerat cum politisi Harry Tanoesoedibyo itu, si kembar identik Upin dan Ipin menyapa anak saya tiga kali sehari, pagi, siang, dan selepas magrib.

Karena sering menemaninya menonton, saya hafal setiap episodenya. Selalu berulang. Tidak ada cerita baru. Meski begitu putra saya dan jutaan anak Indonesia lain tak peduli. Rating seri Upin dan Ipin acap masuk 10 besar tontonan terpopuler. TV penayangnya masuk deretan 5 besar TV paling banyak ditonton. (Rating Nielsen 26/3/2018, Upin & Ipin no.10, MNCTV peringkat 5.)

Di buku Tipping Point (2000), Malcolm Gladwell mengutip apa yang disebut Teori James Earl Jones yang mengatakan anak-anak menyukai tayangan Sesame Street saat aktor James Earl Jones berulang kali mengeja huruf. Ketika nonton tayangan berulang-ulang, anak tak hanya paham, tapi juga bisa memprediksi kejadian berikutnya. Ini dipercaya bisa meningkatkan harga diri.

Masalahnya satu. Beda generasi dengan ayahnya yang tumbuh menonton serial Si Unyil produksi negeri sendiri, anak saya nonton Upin dan Ipin bikinan negeri jiran Malaysia. Ia tak cukup beruntung punya tontonan populer sekaligus edukatif bikinan anak bangsa sendiri seperti di tahun 1980-an.

Karena saban hari nonton serial Malaysia, anak saya punya kecakapan bahasa melayu. Ia mengerti "cik gu" selain kata "guru". Katak dan lembu selain kodok dan sapi. Atau lebih dahulu akrab dengan istilah kembar seiras daripada kembar identik.

Selain soal bahasa, Upin Ipin tanpa disadari telah jadi agen budaya Malaysia pada kita, tetangga dekatnya. Bila generasi '80-an punya acara Titian Muhibah di TVRI, generasi sekarang punya Upin dan Ipin. Dari sini saya bertanya-tanya, tidak seperti abang-abang mereka yang punya sentimen kebencian pada Malaysia, apa generasi anak-anak saya justru kebalikannya: bersikap akrab dengan jiran kita itu?

Kita tahu hubungan cinta-benci Indonesia dan Malaysia mengalami pasang surut. Bung Karno pernah menganggap Malaysia wakil nekolim dan memerintahkan mengganyangnya. Negerinya Mahathir itu juga kerap kita gugat karena mengklaim sejumlah budaya asli Indonesia.

Tapi di saat bersamaan produk budaya pop mereka juga kita gemari. Itu sebabnya saat ramai demo anti Malaysia, salah satu isi orasinya "Ganyang Malaysia, Selamatkan Siti Nurhaliza!" Itu baru urusan budaya pop. Kita belum bicara ekonomi. Saat ini ada 2,7 juta tenaga kerja kita yang menggantungkan hidupnya di sana.

Banyak bangsa punya hubungan cinta-benci. Amerika dengan Kanada, India dengan Pakistan, Korea dengan Jepang. Beberapa punya jejak historis tak mengenakkan. Lainnya didasari rumput tetangga kelihatan lebih hijau. Orang Amerika, misalnya, kerap mengejek Kanada sambil dalam hati memendam rasa iri karena jirannya itu serba teratur, rapi, dan tingkat kriminalitasnya rendah.

Di jurnal Prisma (Oktober 2009) Dhaniel Dhakidae mensinyalir, (keberhasilan ekonomi dan kesuksesan) Malaysia adalah pesan kegagalan bangsa ini menghidupi anak-anaknya sendiri. Malaysia jadi cermin yang membuka bopeng sendiri. Di sini berlaku pepatah buruk muka cermin dibelah.

Sebagai bangsa, kita ini rapuh. Barat, lalu Timur Tengah, bahkan negara tetangga sangat leluasa dan begitu sistematis 'menjajakan' produk budayanya dan ditelan habis oleh anak-anak hingga remaja kita. Generasi anak-anak kita tak punya lagi ruang mengenal diri dan bangsanya sendiri...apalagi bangga menjadi Indonesia..!

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Rekonsiliasi Politik di Level Elit Diharapkan Terjadi di Level Sosial.              Tak Ada yang Salah dengan Pertemuan Jokowi Prabowo             Perhatikan Lag antara Demand Side dan Regulasi dari Sisi Supply Side             Tantangan yang Harus Dihadapi Masih Besar             Kemiskinan Makin Sedikit, Sulit Dikurangi             Bansos Tak Efektif Kurangi Kemiskinan             UNHCR Harus Keluar             Pembangunan Negara Hukum Harus Jadi Agenda Prioritas             ‘Visi Indonesia’ Tidak Prioritaskan Pembangunan Hukum dan HAM             Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung