Garuda Wisnu Kencana bagi Bumi dan Negeri
DR Amanda Katili Niode Ph.D
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka

04 August 2018 09:00

Kata-kata Swadharma Ning Pertiwi tertera pada undangan syukuran penyelesaian karya seni monumental Garuda Wisnu Kencana yang diselenggarakan 4 Agustus di Desa Ungasan, Pulau Bali.

Persembahan untuk Negeri dalam rangka kemerdekaan RI ke 73 yang digagas oleh I Nyoman Nuarta, lulusan Seni Rupa ITB, merupakan patung yang dibuat dari kuningan, tembaga dan baja seberat 3000 ton dengan tinggi 121 meter dan lebar 64 meter. Mahakarya yang digambarkan dengan Wisnu mengendarai Garuda ini sarat akan makna cinta yang sangat mendalam bagi bumi dan negeri.

Garuda Wisnu Kencana (GWK), tutur Nuarta, melambangkan tanggung jawab manusia atas kehidupan. Wisnu merupakan simbol kehidupan, sedangkan Garuda yang memanggul kehidupan dengan gagah perkasa melambangkan jiwa manusia yang harus memelihara kehidupan ini, termasuk lingkungannya, dengan baik.

“Sekarang ini,” lanjut Nuarta seperti ditulis Majalah Fortuga (Forum Alumni ITB Angkatan 1973), “lingkungan kita banyak yang rusak, karena kita sudah tidak menghargai kehidupan. Jika kita bertanggung jawab terhadap kehidupan, hal demikian tidak akan terjadi.”

Apakah karya seni memang dapat menyampaikan pesan ilmiah yang kemudian merubah perilaku manusia menjadi lebih ramah terhadap lingkungan hidup?

Menurut Amy Lipton, kurator Ecoartspace di Amerika Serikat, pada abad ke 20 seniman diibaratkan sebagai penyendiri yang berkarya dalam pandangan sempit. Di abad ke 21, para pekerja seni mulai bekerjasama dengan ilmuwan, menggunakan imajinasi dan keindahan guna meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan hidup.

Ecoartspace telah bekerjasama dengan lebih dari 500 seniman di 9 negara dalam berbagai pameran dan  karya seni publik selama lebih dari 20 tahun. Amy menegaskan pentingnya imajinasi seni yang diterjemahkan di tempat-tempat yang mempunyai fungsi infrastruktur, seperti area pembuangan sampah, instalasi pengolahan air limbah, dan taman-taman kota. Para seniman tangguh di bidang ini umumnya menghabiskan waktu antara 5 sampai 20 tahun untuk menekuni sebuah proyek.

Nyoman Nuarta memerlukan waktu 28 tahun untuk menyelesaikan GWK yang dibangun di atas lahan bekas penambangan kapur liar seluas 67 hektar dan kini menjadi taman kebudayaan dengan berbagai fasilitas untuk penginapan, pertokoan, dan pertunjukan seni.

Berbagai tantangan dihadapi Nuarta seperti menemukan bahan baku yang tepat untuk patung yang ditempatkan di luar ruang agar tidak cepat lapuk. Ia mempatenkan teknik untuk membesarkan sebuah desain menjadi tiga dimensi dengan presisi yang akurat. GWK dibangun dengan teknik cor las terbesar di dunia, keping demi keping dengan pemasangan di ketinggian yang sangat tergantung pada kondisi alam.

Tantangan lain adalah besarnya dana yang diperlukan untuk menyelesaikan GWK, sehingga ia kemudian menjual sahamnya pada pengembang properti agar karya itu dapat selesai. Harapannya, GWK dapat menjadi landmark budaya yang menjadi kebanggaan bangsa dan meningkatkan jumlah wisatawan sehingga membuka lapangan kerja dan menambah pendapatan.

Dalam kata-kata I Nyoman Nuarta kepada Fortuga sebelum acara syukuran GWK berlangsung: “Perjalanan panjang ini teramat berat, tetapi api di dalam diri saya tidak pernah padam, karena yang saya perjuangkan adalah sebuah persembahan dan harapan bagi bangsa Indonesia. Kini, meski usia tidak lagi muda, api di dalam diri ini tetap ada dan bersamanya saya akan segera menuntaskan janji kepada negeri. GWK adalah sebuah pernyataan dari saya, dari kami, dan dari anak-anak bangsa, yang masih percaya bahwa kita adalah bangsa yang tangguh!”

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Tabrani Yunis

Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Melibatkan Institusi Polri dalam Politik Birokrasi Sangat Berbahaya             IPW Tak Yakin Syafruddin Bisa Selesaikan Masalah Birokrasi Di Indonesia             Susahnya Wujudkan Birokrasi yang Profesional dan Netral             Implementasi Ekonomi Kerakyatan, Berharap Kepada BPIP             Mencari Solusi Mengatasi Pelemahan Rupiah (Bagian-1)             Mencari Solusi Mengatasi Pelemahan Rupiah (Bagian-2)             Menanti Efektivitas Pengetatan Moneter BI (Bagian-1)             Menanti Efektivitas Pengetatan Moneter BI (Bagian-2)             Jadikan Asian Games 2018 Titik Awal Merubah Kebiasaan Buruk             Pendidikan Budi Pekerti Sangat Penting!