Fundamentalisme Liberal-Sekuler dalam Kasus Macron
Al-Zastrouw
Budayawan, Dosen Pasca Sarjana UNSIA Jakarta, Kepala UPT Makara Art Center UI Jakarta
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 30 October 2020 14:45
Watyutink.com - Ada tesis yang menyatakan bahwa proses globalisasi yang ditandai dengan era digital akan menghapus identitas dan jatidiri suatu bangsa atau komunitas beserta kebudayaan yang ada di dalamnya. Di era digital, sering juga disebut era milenial, semua akan ditelan dan digerus oleh kekuatan budaya besar atau kekuatan budaya global, terutama budaya Barat.  

Pandangan seperti ini ditentang oleh seorang futurolog dari AS, John Naisbitt. Dalam bukunya yang berjudul Global Paradox (1988) Naisbitt menunjukkan terjadinya paradoks dari fenomena globalisasi. Fenomena inilah yang disebut Naisbitt sebagai global paradoks. Paling tidak ada empat tesis menarik dari buku Naisbitt tersebut, pertama, semakin besar dan semakin terbuka ekonomi dunia, justru perusahaan-perusahaan kecil dan sedang akan semakin mendominasi; semakin seseorang menjadi universal, tindakannya justru akan semakin bersifat kesukuan; muncul kecenderungan berpikir lokal, bertindak global; semakin kuat tekanan arus universal, akan semakin kuat memunculkan identitas lokal, sektarian dan kelompok.

Tesis ini selanjutya diperkuat dalam buku yang ditulisnya bersama Patricia Aburdene, dengan Megatrend 2000. Dalam buku ini mereka menyebutkan bahwa pada era millenium manusia cenderung mengalami arus balik menuju kebangkitan agama dan menyangkal kepercayaan buta terhadap sains dan teknologi. Selanjutnya dalam buku suntingannya yang berjudul High Tech High Touch, dia menyebut adanya gejala mabuk tehnologi yang ditandai dengan 1). Masyarakat lebih menyukai menyelesaikan masalah secara instan, mulai dari masalah agama sampai masalah gizi; 2) Masyarakat sangat memuja teknologi; 3) Masyarakat mengaburkan perbedaan antara yang nyata dan yang semu; 4) Masyarakat menerima kekerasan sebagai sesuatu yang wajar; 5) Masyarakat mencintai teknologi dalam bentuk mainan; 6) Masyarakat menjalani kehidupan yang berjarak dan terenggut dari lingkungan (John Naisbitt et. Al, 2002; p. 23-24). Paparan Naisbitt ini menjelaskan bahwa teknologi tidak hanya memiliki dampak positif, tetapi juga ada dampak negatif yang bisa membahayakan manusia dan lingkungan.

Melihat peristiwa yang terjadi di Prancis akhir-akhir ini, rasanya sulit untuk menolak kebenaran beberapa tesis Naisbit. Artinya, prediksi Naisbit yang terkait dengan agama dan kekerasan menjadi kenyataan. Sebagaimana yang dilansir di berbagai media sosial, kekerasan yang terjadi di Prancis bermula dari perilaku seorang guru bernama Samuel Patty yang menunjukkan gambar kartun Nabi Muhammad yang melukai hati umat Islam. Patty melakukan itu atas nama kebebasan berekspresi.

Sikap Petty yang lebih mengedepankan kebebasan dengan mengabaikan perasaan umat lain dengan melecehkan sesuatu yang disucikan dan dihormati telah berakibat fatal. Petty mati terbunuh dengan dipenggal kepalanya oleh remaja berusia 18 tahun bernama Abdullah Anzuroy. Peristiwa ini memancing reaksi keras Presiden Prancis Emmanuel Macron sehingga membuat pernyataan yang menyudutkan dan melecehkan. Alih-alih meredakan persoalan, pernyataan Presiden Macron ini justru membuat suasana semakin keruh dan memancing konflik yang semakin melebar.

Kasus Patty yang diamplifikasi oleh Macron ini mencerminkan terjadinya fenomena kebangkitan fundamentalisme liberal-sekuler. Merujuk pada pengertian etimologi fundamentalisme yang ada di KBBI, fundamentalisme merupakan doktrin yang lebih mengarah untuk memperjuangkan sesuatu secara radikal. Fundamentalisme merupakan sebuah paham yang memiliki keinginan untuk mengembalikan keyakinan mereka sebagai landasan atau pondasi dalam kehidupannya. Definisi etimologis ini netral, obyektif, tanpa muatan ideologis. Artinya pengertian fundamentalis di sini tidak dikaitkan dengan agama, keyakinan atau ideologis tertentu.

Ini berbeda dengan pengertian fundamentalisme yang dirumuskan oleh sosiolog atau teolog. Frans Magnis Suseno, misalnya, mendefinisikan fundamentalisme sebagai paham teologis atau keagamaan seseorang yang menjadikan agama dan kitab suci yang diyakini sebagai pandangan dunia dan dasar seluruh praktik kehidupannya. Martin E. Marty mencirikan Fundamentalisme sebagai gerakan oppisituinalism, penolakan terhadap hermeneutika, penolakan terhadap pluralisme dan relatifisme dan penolakan terhadap perkembangan historis sosiologis. Kedua definisi ini mengkaitkan fundametalisme dengan agama.

Berpijak pada, pengertian etimologi fundamentalisme, maka fundamentalisme bisa terjadi pada kelompok sekuler-liberal yaitu mereka yang mengagung-agungkan kebebasan dan sekularisme sehingga menabrak kebebasan dan mengabaikan perasaan kelompok lain sebagaimana yang dilakukan oleh Petty dan Macron. Mereka ingin menjadikan liberalisme dan sekularisme sebagai suatu keyakinan dan ingin menjadikan keyakinan tersebut sebagai pondasi dalam kehidupan dengan cara menyingkirkan keyakinan kelompok lain, dalam hal ini Islam.

Fundamantalisme liberal-sekuler ini mendapat reaksi langsung dari kelompok fundamentalis agama, dalam hal ini Islam. Respon kaun fundamentalis Islam ini tidak kalah mengerikan dengan sikap yang ditunjukkan oleh kaum fundamentalis liberal-sekuler. Dengan kata lain, apa yang dilakukan oleh kaum fundamentalis sekuler menjadi bahan bakar yang dengan mudah menyulut bara api kaum fundamentalis Islam yang mudah menyala.   

Apa yang terjadi terjadi di Prancis menunjukkan bahwa sikap fundamentalis tidak mati tergerus oleh arus globalisasi dengan sistem teknologi informasi yang canggih. Sebaliknya derasnya arus informasi yang masuk dalam seluruh celah kehidupan manusia, sampai pada level yang paling pribadi, justru menumbuhkan sekat-sekat dan segregasi sosial yang makin menyuburkan tumbuhnya fundamentalisme.

Ada baiknya kita merenungkan kembali prediksi yang dikemukakan oleh Naisbitt. Kita perlu menjadikan tesis-tesis yang dibangun Naisbitt sebagai peringatan dalam membaca dan menyikapi realitas kekinian. Yang lebih penting lagi, kita perlu mengingat peringatan Allah kepada manusia agar tidak bersikap berlebihan, karena Allah tidak suka terhadap orang yang berlebihan. Larangan berlebihan ini termasuk dalam sikap beragama. Sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Ibnu Abbas, Nabi Muhammad bersabda:“Jauhkanlah diri kamu dari berlebih-lebihan dalam agama karena orang-orang sebelum kamu hancur hanya sebab berlebih-lebihan dalam agama”. Fundamentalisme adalah salah satu bentuk sikap berlebihan baik terhadap agama maupun keyakinan lain termasuk dalam memegang keyakinan liberalisme-sekularisme.

Sejarah telah telah membuktikan rusaknya suatu bangsa atau kaum akibat sikap fundamentalis. Mereka saling menghancurkan atas dasar keyakinan masing-masing. Apa yang dilakukan oleh Petty dan Macron ditunjukkan adanya sikap fundamentalisme liberal-sekuler. Melalui sikap fundamentalis tersebut mereka menunjukkan bahwa liberalisme dan sekularisme yang mereka agung-agungkan itu tidak ada bedanya bedanya dengan sikap fundamentalisme agama, yaitu sama-sama membahayakan kehidupan manusia, memancing timbulnya konflik dan sama-sama merendahkan kemanusiaan.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

Revolusi Akhlak Kiai Juned

25 November 2020

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF