Formula E yang Semakin Tersohor
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 15 February 2020 10:00
Watyutink.com - Balapan mobil listrik Formula E, yang semakin dikenal dan disukai generasi muda, kini meraup keuntungan yang terus meningkat bagi penyelenggaranya.

Kejuaraan ABB Formula E, didukung oleh Federasi Otomotif Internasional (FIA), mulai dilaksanakan tahun 2014 dan kini memasuki musim keenam. Penyelenggaranya melaporkan bahwa pada musim kelima (2018/2019), acara ini mencatat pendapatan lebih dari 200 juta Euro, meningkat lebih dari 50 persen dibandingkan musim sebelumnya.

Selain itu, jumlah penonton video balapan meningkat 61 persen dibanding tahun sebelumnya, menjadi 850 juta. Sebanyak 42 persen adalah penggemar Formula E yang berusia di bawah 25 tahun.

Kejuaraan Formula E sebenarnya hampir sama dengan Formula 1, yang sudah berlangsung selama 70 tahun, baik dari sisi kepiawaian para pembalapnya, ketegangan ketika mereka saling susul, kompetisi teknologi, maupun usaha untuk bantuan sponsor dan dukungan pesohor.

Aktor Leonardo DiCaprio membentuk Venturi Grand Prix Formula E Team dan menjadi produser film dokumenter berjudul “And We Go Green.” Film ini berkisah tentang para pembalap Formula E, serta upaya kejuaraan ini untuk memerangi perubahan iklim dan polusi udara perkotaan yang mematikan.

Baru-baru ini Formula E bermitra dengan BTS dari Korea Selatan, boyband yang termasyhur dan termahal di dunia, untuk meningkatkan kepedulian terhadap krisis iklim global.

Formula 1 dan Formula E sama-sama menggunakan mobil balap dengan pengemudi tunggal dan kokpit terbuka. Perbedaan utamanya, Formula E menggunakan kendaraan listrik, sehingga tingkat kebisingannya jauh lebih rendah. Selain itu, menurut Science Focus, berat mobil Formula 1 (termasuk pengemudi) adalah 702 kg dengan kecepatan maksimum 378 km per jam, dibandingkan dengan berat 898 kg dan kecepatan 225 km per jam untuk Formula E.

Kelebihan utama kejuaraan Formula E adalah pelaksanaannya yang lebih ramah lingkungan. Meskipun, tidak dapat dipungkiri bahwa jumlah tempat pertarungan maupun banyaknya penonton dua kejuaraan itu jauh berbeda.

Jejak karbon dari kegiatan musim kelima Formula E adalah 45.000 ton karbon dioksida, termasuk perjalanan para penonton, sedangkan total emisi karbon Formula 1 di tahun 2018 (belum termasuk transportasi para penonton) berjumlah 256.000 ton karbon dioksida. 

Formula E, yang menggunakan jalan-jalan kota sebagai sirkuitnya, menyatakan bahwa mereka secara aktif mempromosikan mobilitas listrik dan solusi energi terbarukan untuk mengurangi polusi udara dan memerangi perubahan iklim di seluruh dunia.

Kejuaraan ini sudah mendapatkan ISO 20121, sebuah standar internasional untuk “sustainability” dalam berbagai acara besar. Target utamanya adalah mengurangi jejak lingkungan setiap individu pada acara yang diikuti, menciptakan model keuangan yang sukses untuk pertumbuhan ekonomi, dan menjadi lebih bertanggung jawab secara sosial.

Acara-acara yang mendapat sertifikasi ISO 20121 termasuk pertandingan tenis Prancis terbuka di Roland Garros, kejuaraan sepakbola Eropa UEFA, dan Olimpiade Tokyo 2020.

Selain karena klaim menjaga Bumi, popularitas Formula E melesat di kalangan generasi muda sebab strateginya dalam menggunakan platform media sosial, melalui konten kreatif dan interaktif, sangat berhasil.

Alejandro Agag, penggagas dan CEO Formula E nampaknya belum puas dengan perhelatan internasional yang semakin tersohor itu. Ia kemudian merancang Extreme E, sebuah lomba balap mobil off-road yang menggunakan kendaraan listrik. Lokasi pertarungan berada di daerah terpencil dengan medan yang sangat menantang.

Selain sebagai ajang uji kemahiran pembalap dan kinerja kendaraan listrik,  arena lomba juga merupakan katalis untuk menyikapi krisis iklim pada berbagai ekosistem.

Musim pertama Extreme E akan berlangsung pada awal 2021 di Greenland, Denmark, sebuah area yang terkena dampak buruk perubahan iklim. Ini terlihat nyata dari es di sana yang terus meleleh secara masif dan memengaruhi tinggi permukaan laut global.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF