Falsafah Kartini untuk Hari Bumi
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
24 April 2018 13:00
Di akhir pekan lalu, dua hari peringatan menghampiri mereka yang hirau pada sesamanya dan demi alamnya. Hari Kartini 2018 dirayakan dengan tema “Kartini Percaya Pendidikan adalah Kunci Perempuan Meraih Kesetaraan,” serta Hari Bumi 2018 diramaikan dengan tajuk “Akhiri Polusi Plastik.”
 
Perbincangan seru di Hari Kartini acapkali berputar pada semangat untuk menuntut kesetaraan perempuan dan laki-laki di berbagai bidang. Padahal sejatinya  perempuan dan laki-laki memang berbeda secara fisik dan mental. Ini sudah dibuktikan oleh banyak penelitian di ranah paleontologi, etnologi, psikologi, neurologi, dan biologi.
 
Perbedaan antara perempuan dan laki-laki ternyata berimbas pada bagaimana mereka menyikapi permasalahan lingkungan. Penelitian tentang kepedulian lingkungan dalam beberapa dekade terakhir secara konsisten menunjukkan bahwa perhatian perempuan terhadap lingkungan hidup sedikit lebih besar dibandingkan laki-laki. Perbedaan ini dibuktikan di seluruh sampel, negara yang diteliti, waktu penelitian, dan aspek kepedulian lingkungan yang diukur.
 
Dibandingkan dengan laki-laki, perempuan lebih sedikit membuang sampah, lebih banyak mendaur ulang, dan meninggalkan jejak karbon (seperti penggunaan energi dan pola konsumsi) yang lebih kecil.
 
Sebuah hasil penelitian dengan 2000 responden, Amerika dan China, yang diterbitkan di majalah Scientific American, menyimpulkan bahwa laki-laki menghindari perilaku ramah lingkungan karena sikap demikian dianggap mengusik maskulinitas.
 
Dalam salah satu eksperimen, para peserta baik perempuan maupun laki-laki menganggap bahwa seseorang yang membawa tas kanvas, yang dapat digunakan kembali untuk berbelanja di super market, lebih feminin dibandingkan dengan yang menggunakan kantong plastik — terlepas apakah yang berbelanja itu laki-laki atau perempuan.
 
Sebenarnya, laki-laki bukannya tidak peduli dengan isu lingkungan, tetapi mereka ingin merasa macho, dan khawatir bahwa dengan berperilaku ramah lingkungan mereka dicap sebagai feminin.
 
Jika saja dipahami bahwa sebuah kantong plastik rata-rata digunakan hanya selama 20 menit dan membutuhkan lebih dari 400 tahun untuk hancur, maka stereotipe bahwa perilaku ramah lingkungan kurang macho tidaklah tepat . Apalagi kini setiap tahunnya sekitar satu triliun kantong plastik digunakan di seluruh dunia. Sebagian besar kantong plastik ini berakhir di Tempat Pembuangan Akhir, sisanya terbuang ke perairan dan lautan sehingga mengancam kehidupan biota yang ada.
 
Pada hakikatnya, perbedaan antara laki-laki dan perempuan adalah juga sumber kekuatan untuk melindungi planet bumi yang kini sedang sekarat dengan berbagai permasalahan lingkungan global. Conservation International menyatakan bahwa melibatkan perempuan dalam proyek air dapat meningkatkan keefektifannya hingga 6 sampai 7 kali, sedangkan peran laki-laki dan perempuan yang seimbang dalam pengelolaan hutan mengarah ke kondisi hutan yang lebih baik.
 
Pendidikan adalah kunci untuk kemajuan, sehingga dalam memperingati Hari Bumi masyarakat diingatkan untuk membangun warga global yang fasih dalam masalah lingkungan dan solusinya. Warga masyarakat juga mutlak memiliki pengetahuan untuk bertindak dalam membela lingkungan guna kesejahteraan mereka sendiri.
 
Lebih dari seabad lalu Kartini telah menuliskan falsafahnya tentang pendidikan (yang diterjemahkan oleh Sulastin Sutrisno): “Kecerdasan otak saja tidak berarti segala-galanya. Harus ada juga kecerdasan lain yang lebih tinggi, yang erat berhubungan dengan orang lain untuk mengantarkan orang ke arah yang ditujunya. Di samping otak, juga hati harus dibimbing, kalau tidak demikian peradaban tinggal permukaannya saja.”

 

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir