Fakta, Prasangka dan Logika
Lukas Luwarso
Jurnalis Senior, Kolumnis
berita
Berpikir Merdeka
06 November 2019 16:55
Watyutink.com - Prasangka sedang mewabah di Indonesia. Virus sosial yang menyerang otak manusia ini cukup berbahaya, karena mengakibatkan melemahnya daya pikir dan kegagalan memahami fakta peristiwa. Bagi manusia yang terpapar, kecenderungan bersikap linglung, bingung dan mudah berprasangka sangat kentara.

Wabah itu terutama menyerang orang-orang yang terlalu antusias mendukung dan merespon geliat politik-partisan lima tahun terakhir. Imunitas para pendukung politik partisan ini sangat lemah, baik para pendukung kekuasaan atau mereka yang anti. Mereka begitu fanatik dalam dukung-mendukung idola politik, sehingga paradigma berpikir mereka menjadi sangat antik atau bernuansa mistik.

Serangan virus prasangka menumpulkan kemampuan mereka dalam berlogika atau bahkan sulit memahami fakta yang begitu gamblang dan sederhana. Setiap peristiwa atau fakta yang terkait dengan politik diputar-balik sedemikian rupa untuk tujuan menyerang lawan atau memuaskan hasrat mengejek mereka yang tidak satu kubu.

Hal ini terindikasi, misalnya, dalam keriuhan komentar atau opini yang tersebar di media sosial, terkait dengan aksi kejahatan mencelakai Wiranto, Menko Polhukam, dan Novel Baswedan, penyidik KPK. Dua aksi kejahatan itu bernuansa “politik”, meskipun mungkin tidak sepenuhnya bermotif politik.

Menko Polhukam Wiranto ditusuk dengan senjata tajam oleh seorang pria di Pandeglang, mengakibatkan luka tusuk di tubuh. Penusukan itu juga melukai tiga orang pengawal. Pelaku penusukan diduga anggota jaringan JAD. Tak lama setelah peristiwa penusukan itu tersiar di media, berbagai komentar dan posting di media sosial bernada sinisme mempertanyakan keaslian kasus penusukan itu. 

Pendukung kubu politik anti-kekuasaan (Jokowi) menganggap kejahatan itu hanya “setingan" atau skenario untuk menyudutkan kelompok Islamis fundamentalis yang menolak Presiden Jokowi. Uniknya sejumlah postingan media sosial insinuatif itu dilakukan oleh sejumlah istri perwira militer aktif.

Di sisi lain, ada kasus kejahatan penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan, penyidik KPK  pada 11 April 2017 dini hari. Novel disiram air keras oleh dua pria yang mengendarai sepeda motor diduga terkait dengan sejumlah kasus yang dia tangani. Siraman air keras itu menyebabkan mata sebelah kiri Novel mengalami kebutaan.

Menurut hasi temuan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF)—yang dibentuk kepolisian atas permintaan presiden—cairan H2SO4 (asam sulfat tidak pekat) disiramkan ke Novel. Fakta itu, menurut TGPF, menunjukkan niat pelaku bukanlah untuk membunuh Novel, melainkan hanya berniat  menyengsarakan, "Kalau asam pekat pasti sudah bolong-bolong wajahnya,” kata Kepala Divisi Humas Polri, mengutip hasil temuan. 

Lebih dari dua tahun setelah aksi kejahatan penyiraman air keras itu, pelaku penyiraman belum ditemukan. Dan proses perseteruan politik perkubuan Pilpres ditambah dengan proses revisi UU KPK, membawa kasus kejahatan pada Novel menjadi perseteruan politik. 

Kubu pro-kekuasaan mempertanyakan faktualitas aksi penyiraman itu, menganggapnya sebagai “setingan” Novel untuk menyudutkan kekuasaan atau kepolisian. Satu postingan di media sosial yang viral bahkan berani secara gegabah menuduh Novel melakukan aksi penipuan dengan berpura-pura buta menggunakan lensa kontak.

Akibat perseteruan dukung-mendukung politik secara fanatik telah membenamkan logika para “cepret” (cebong-kampret, julukan untuk pendukung Jokowi) dan “kadrun” (kadal gurun, julukan untuk kelompok Islamis penolak Jokowi). Mereka menebarkan prasangka dengan berbagai cara, gemar mem-forward atau memposting info hoax demi memuaskan hasrat permusuhan. Hoax dan perang poin atas fakta kejahatan yang menimpa Novel Baswedan dan WIranto mereka jadikan senjata untuk saling serang dan pembenaran.

Padahal dengan sedikit logika dan akal sehat, jika mau, mereka bisa menelaah betapa bodoh dan konyolnya prasangka mereka. Fakta kejahatan yang menimpa Novel dan WIranto begitu gamblang dan bisa ditelusuri faktualitas dan validitasnya, jika mereka serius tertarik mencari fakta kebenarannya. Tapi cepret dan kadrun memang tidak tertarik dengan fakta, dan tidak mau memakai logika. Mereka cuma ingin menebar prasangka, memicu perseteruan, atas nama fanatisme politik pada idola atau ideologi mereka.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Defiyan Cori, Dr.

Ekonom Konstitusi

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

FOLLOW US

Figur Menjadi Penting untuk Melaksanakan Dua Peran BUMN             Restrukturisasi, Reorganisasi untuk Efisiensi dan Efektivitas BUMN             Kembalikan Proses Pemilihan Pejabat BUMN kepada Spirit Reformasi             Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong             Data Angka Konsumsi dan Investasi Masih Menunjukkan Peningkatan             Rakyat Harus Diuntungkan dalam Jangka Pendek             Jangan Kejar Target Pembangunan Fisik Saja             Kemampuan Investasi dalam Menyerap Tenaga Kerja Semakin Rendah