Dilema Beragama di Era Post Truth
Al-Zastrouw
Dosen Pasca Sarjana Unusia, Penggiat seni tradisi dan budaya Nusantara
berita
Berpikir Merdeka
11 March 2019 10:00
Sudah tiga Jumat Pak Mijan tIdak mengikuti shalat Jumat di masjid. Bukan karena malas atau sengaja mengabaikan perintah agama. Pak Mijan justru orang yang taat beribadah dan rajin menjalankan syariat agamanya, meski dia tergolong orang yang awam ilmu agama. Itu semua dilakukan sebagai wujud ketaatan pada ajaran agamanya. Selain itu juga karena dia merasa memperoleh ketenteraman dan ketenangan hidup dari ibadah yang dia jalani. Agama bagi Pak Mijan adalah tempat berteduh dan berserah diri menghadapi kenyataan.

Namun akhir-akhir ini Pak Mijan merasa tidak lagi memperoleh semua itu dari praktik beribadah yang dia jalani. Beberapa kali dia mengikuti pengajian di majelis taklim yang dia temukan justru keresahan dan kebingungan. Yang lebih membuat Pak Mijan sedih, muncul sekat-sekat yang memisahkan antar sesama atas nama agama. Hubungan yang semula akrab dan bersahabat menjadi retak. Sikap yang ramah dan penuh kekeluargaan menjadi berjarak. Kehidupan seolah terbelah menjadi aku dan dia, kami dan mereka. Perasaan benci dan curiga pada kelompok lain yang berbeda faham keagamaan dan pilihan politik menyebar menjadi benteng pemisah antar sesama. Dan sekat itu dirasakan pak Mijan makin lama makin tebal dengan jarak yang makin jauh.

Anehnya, semua ini terjadi karena ceramah agama yang disampaikan di majelis taklim dan di mimbar agama. Hampir semua majelis yang didatangi Pak Mijan menyuarakan kebencian, caci maki dan penistaan pada kelompok lain yang berbeda dan pemerintah yang sedang berkuasa. Semua dilakukan atas nama amar makruf nahi mungkar. Alih-alih menjadi kritik dan tadzkiroh pada sesama, Pak Mijan justru melihat ini sebagai ungkapan kemarahan, dendam dan kebencian yang dibungkus dengan ayat. Inilah yang membuat Pak Mijan menjadi semakin resah.

Sebenarnya dia berusaha bertahan dan mencoba menguatkan diri untuk mendengar semua itu. Tapi hatinya semakin berontak. Lebih-lebih ketika dia melihat banyak umat yang terpengaruh oleh isi ceramah yang provokatif dan tidak mencerminkan ajaran dan etika agama.

Sebelum memutuskan tidak mengikuti shalat Jumat dia pernah mencoba pindah masjid beberapa kali, mencari khatib yang benar-benar bisa menyejukkan, memyampaikan pesan agama dan kritik secara santun dan  beretika. Tapi selalu saja dia menemukan khatib dan penceramah yang meteri dan gaya ceramahnya sama. Hingga akhirnya dia memutuskan diri untuk tidak lagi mengikuti shalat Jumat karena merasa mimbar Jumat sudah menjadi ajang caci maki, mengumpat, menebar kebencian dan permusuhan pada orang-orang yang tidak sefaham dan berbeda pilihan politik.

Sebagai orang awam Pak Mijan tidak tahu apakah yang disampaikan para khatib di mimbar dan para penceramah di majelis taklim itu fitnah atau kebenaran. Adaikan itu suatu kebenaran dia merasa tidak layak disampaikan dengan cara seperti itu, apalagi jika itu suatu fitnah. Karena bagi Pak Mijan cara-cara seperti itu justru bisa  membuat agama menjadi sumber perpecahan dan keresahan umat. Dan ini adalah bentuk nyata pemelintiran dan penyalahgunaan ajaran agama.

Keputusan Pak Mijan tidak menjalankan shalat Jumat ini diambil karena dia takut hatinya terkotori oleh rasa benci, prasangka dan amarah karena terprovokasi oleh ceramah agama dan materi khotbah. Daripada mendengarkan caci maki dan penggunaan ayat suci untuk mengumpat sesama, lebih baik dia tenang di rumah menjalankan shalat dzuhur sendiri.

Apa yang dialami Pak Mijan merupakan cerminan dilema beragama di era post truth, di mana kebenaran ditentukan oleh selera atau emosi pribadi/kelompok dengan berbagai kepentingan politik yang melingkupinya. Era ini telah.membuat orang-orang seperti Pak Mijan menjadi terasing dan terjepit dalam dilema.

Kegelisahan Pak Mijan dan keputusan sikapnya tidak mengikuti shalat Jumat ini bisa menjadi bahan kajian menarik bagi para ulama, khususnya ahli fiqh. Bolehkan meninggalkan shalat Jumat demi menghindari kemudharatan diri? Bagaimana hukumnya khotbah dan ceramah yang penuh caci maki mengobarkan kebencian dan kemarahan? Jawaban ini perlu diberikan agar Pak Mijan tidak terlalu lama terjebak dalam dilema. Sehingga dia  bisa kembali shalat Jumat dengan hati tenang, atau terus sendiri menjalankan shalat dzuhur di hari Jumat dengan perasaan lega.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Mimpi Komunikasi Politik Bisa Lancar             Prioritaskan Revitalisasi Industri             Dukung Investasi UKM Naikkan Daya Saing             Aparat Terlalu Berlebihan             Semua Harus Menahan Diri             Dunia Usaha Tunggu Kepastian             Stabilitas Sangat Berdampak Pada Ekonomi             Tarik Investasi Tak Cukup Benahi Regulasi             Tidak Bijak Membandingkan Negara Lain             Semangat Reformasi Perpajakan