Dibalik Perayaan Keanekaragaman Hayati
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 23 May 2020 10:00
Watyutink.com - Keanekaragaman hayati merupakan pilar untuk membangun peradaban karena berbagai sumber daya yang disediakannya untuk kesejahteraan manusia. Sebagai contoh, ikan menyediakan 20 persen protein hewani bagi sekitar 3 miliar orang, sedangkan lebih dari 80 persen makanan manusia berasal dari tumbuh-tumbuhan. Sebanyak 80 persen penduduk pedesaan di negara berkembang mengandalkan obat-obatan nabati tradisional untuk perawatan kesehatan dasar mereka.

Di Indonesia, yang merupakan negara megabiodiversitas, setidaknya ada 5529 sumber daya hayati tanaman pangan, dengan 100 jenis sumber karbohidrat, 100 macam kacang-kacangan, 250 jenis sayuran dan 450 macam buah-buahan.

Keanekaragaman hayati sering dipahami sebagai diversitas tanaman, hewan dan mikroorganisme. Namun sebenarnya juga mencakup perbedaan genetika dalam setiap spesies dan juga berbagai ekosistem seperti danau, hutan, gurun, dan lanskap pertanian, yang menampung beraneka jenis interaksi di antara manusia, tanaman, dan hewan.

Mengingat pentingnya pendidikan publik dan kesadaran tentang urusan ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa memutuskan untuk merayakan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional yang setiap tahun jatuh pada 22 Mei.

Tema perayaan tahun 2020 adalah "solusi kita ada di alam" untuk menekankan harapan, solidaritas dan pentingnya bekerja sama di semua tingkatan guna membangun masa depan kehidupan yang selaras dengan alam.

Konsep Solusi Berbasis Alam didasarkan pada pengetahuan bahwa ekosistem alami yang sehat dan terkelola menghasilkan beragam layanan yang menjadi sandaran kesejahteraan manusia, mulai dari menyimpan karbon, mengendalikan banjir, menstabilkan garis pantai dan lereng hingga menyediakan udara dan air bersih, makanan, bahan bakar, obat-obatan, dan sumber daya genetika.

Karena adanya pandemi, maka perayaan di berbagai belahan dunia dilakukan secara digital untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dan memaparkan kegiatan terkait biodiversitas. Bentuknya antara lain diskusi panel tingkat tinggi virtual, webinar, nonton bareng film dokumenter, kontes foto, kelas ilmu biodiversitas, membuat video clip dengan pesan-pesan melindungi sumber daya alam, dan merekam suara alam di halaman rumah.

Selain itu, FAO dan UNEP,  Organisasi Pangan dan Pertanian serta Organisasi Lingkungan Hidup PBB meluncurkan "The State of the World’s Forests 2020: Forests, Biodiversity and People." Laporan dua tahunan ini menggambarkan status hutan, kebijakan terbaru, perkembangan kelembagaan, dan isu-isu utama di sektor kehutanan.

Hilangnya keanekaragaman hayati mengancam kesehatan dan kehidupan semua orang, sehingga dengan memahami potensinya, kita dapat mengembangkan kebijakan dan kegiatan untuk melindungi kontribusi penting dari alam untuk masyarakat.

Keanekaragaman hayati merupakan isu global, maka sebuah konvensi disepakati untuk menyikapinya secara global pula. Konvensi Keanekaragaman Hayati yang mulai berlaku pada tahun 1993 berupaya untuk mengatasi semua ancaman terhadap keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem, termasuk ancaman dari perubahan iklim. Ini dilakukan melalui kajian ilmiah, pengembangan alat, insentif dan proses, transfer teknologi, dan praktik-praktik yang baik dan keterlibatan penuh dan aktif dari para pemangku kepentingan termasuk masyarakat adat dan komunitas lokal, pemuda, LSM, perempuan dan pelaku bisnis.

Di Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan merupakan pusat kontak dari Konvensi, sedangkan Yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI) bertindak sebagai katalisator untuk menemukan cara-cara inovatif dalam melestarikan, mengelola dan memanfaatkan biodiversitas Indonesia secara berkelanjutan.

Salah satu acara penuh manfaat dalam merayakan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2020 adalah sebuah webinar bertajuk “Mengenal Sumber Pangan Lokal dan Makanan Tradisional Indonesia.” Sejumlah praktisi memaparkan informasi tentang keberagaman pangan lokal, kiat menjayakan kuliner tradisional Indonesia, serta cara bertutur tentang makanan Nusantara. Webinar tersebut dirancang untuk lebih dari 2000 biodiversity warriors, gerakan anak-anak muda binaan KEHATI yang dididik untuk mempopulerkan biodiversitas  melalui media sosial, baik dari sisi keunikan, manfaat, serta pelestariannya. 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF