Demi Perut, Lahan Pertanian Jadi Kebun Plastik
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
08 October 2019 10:00
Watyutink.com - Satu stasiun TV yang terafiliasi dengan stasiun TV global menanyangkan ‘kreativitas ‘ seorang pemilik kebun yang menyulap lahannya menjadi lokasi wisata ribuan kincir angin plastik berlabel Bumi Kitiran di Desa Binangun, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur.

Sepintas terlihat hamparan ‘pohon’ kincir angin (kitiran) setinggi 50 cm di perbukitan, tertata rapi dalam aneka warna hijau, kuning, turquoise, biru langit, lime green, dan merah muda berselang-seling dalam satu blok warna dengan warna lainya, membuat konfigurasi yang indah dipandang mata.

Ditambah lagi dengan lansekap perbukitan, naik turun bak gelombang di lautan, membawa pengunjung ke titik terbawah melihat hamparan warna di atasnya yang menggunung, lalu naik ke atas bukit menatap hamparan ‘bunga’ di bawahnya bak permadani  yang nyaman dinaiki dan berkhayal dapat membawa terbang kemana saja yang disuka.

Menikmati keindahan artifisial di tengah perbukitan berhawa sejuk diharapkan menghadirkan perasaan rileks, nyaman, tenang, dan damai di hati pengunjung. ‘Nilai tambah’ ini yang dijual pemilik lahan, menjadi magnit bagi pengunjung untuk datang menikmati suguhan yang tidak biasa.

Objek wisata baru ini menjadi sumber penghasilan yang nyaris tak terbatas sepanjang orang masih datang berduyun-duyun menikmatinya. Ditambah lagi dengan suguhan suvenir kincir angin yang dijual terpisah dengan tiket masuk ‘kebun bunga’, membawa kenangan tersendiri bagi pengunjung saat bercerita kepada saudara atau temannya.

Namun di sinilah ironinya. Lahan tersebut semula adalah kebun jeruk. Sepanjang mata memandang, hamparan hijau dedaunan menutupi setiap jengkal lahan, menyegarkan mata, menebarkan kesejukan lewat oksigen yang dilepas ke udara dari hasil fotosintesis daun. Kini tidak lagi didapati hal-hal yang natural, semuanya diganti dengan plastik.

Ini menjadi dilema moral bagi petani dan kegagalan bagi pemerintah dalam mewujudkan ekonomi yang lebih baik bagi mereka.  Petani sejatinya ingin tetap bercocok tanam sesuai dengan keahlian dan kompetensinya. Namun harga komoditas seperti jeruk yang sangat fluktuatif dan cenderung menurun dari tahun ke tahun dibandingkan produk manufaktur dan jasa, membuat penghasilan petani tidak sebanding dengan kerja kerasnya.

Keputusan yang sangat rasional jika kemudian petani tersebut mengubah komoditasnya ke ‘tanaman berduit’. Mereka tidak mau terus-terusan merugi seperti dikeluhkan pengelola lahan tersebut saat diwawancara.  Mereka harus banting setir ke bisnis lain demi menyelamatkan priuk nasi. Jadilah Bumi Kitiran seperti sekarang.

Derita petani yang merugi karena harga komoditas yang anjlok dari tahun ke tahun terus terjadi tanpa ada solusi yang jelas. Kita menyaksikan beberapa kejadian dimana petani membuang hasil panenannya atau membiarkan buah-buahannya membusuk di pohon karena  harga jual jauh di bawah biaya produksi.

Berbagai kajian sudah sering dilakukan dan diajukan kepada para pemangku kepentingan di Tanah Air untuk meningkatan nilai tambah dan harga yang wajar di tingkat petani. Strategi seperti meningkatkan mutu hasil pertanian dan mengolahnya menjadi bahan setengah jadi, menaikkan harga komoditas, penyediaan modal yang terjangkau, memberikan subsidi pupuk, mengadakan unit pengolahan dan pemasaran hasil pertanian, mengefisiensikan biaya produksi dan memangkas mata rantai pemasaran,  dan  membatasi impor produk,sekaligus meningkatkan ekspor produk pertanian sudah menjadi resep umum.

Namun semua strategi tersebut hanya ada di atas kertas. Nyaris tidak ada kemauan politik yang kuat untuk membangun sektor pertanian yang unggul seperti dalam pembangunan infrastruktur yang sangat masif. Infrastruktur boleh bagus dan dicita-citakan dapat membawa hasil pertanian ke tangan konsumen lebih cepat, namun tanpa perbaikan pengelolaan pertanian dan tata niaganya, maka hanya akan menjadi mimpi bagi petani untuk hidup sejahtera.

Indonesia perlu  lebih maju lagi dengan mengembangkan nilai tambah bagi produk pertanian. Dibandingkan dengan produk segar, produk olahan memberikan keuntungan lebih besar bagi petani. Harus diakui daya saing komoditas Indonesia masih rendah dibandingkan negara tetangga, karena mengandalkan keunggulan komparatif dengan kelimpahan sumberdaya alam dan tenaga kerja tak terdidik, sehingga produk yang dihasilkan didominasi oleh produk primer berbasis  sumber daya alam.

Semoga ada kemauan politik yang kuat untuk membangun sektor pertanain yang unggul, sehingga kita tidak melihat lagi lahan pertanian berubah fungsi jadi kawasan wisata artifisial hanya karena alasan ekonomi, tetapi melupakan ancaman kerusakan ekologi yang lebih besar.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Defiyan Cori, Dr.

Ekonom Konstitusi

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

FOLLOW US

Figur Menjadi Penting untuk Melaksanakan Dua Peran BUMN             Restrukturisasi, Reorganisasi untuk Efisiensi dan Efektivitas BUMN             Kembalikan Proses Pemilihan Pejabat BUMN kepada Spirit Reformasi             Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong             Data Angka Konsumsi dan Investasi Masih Menunjukkan Peningkatan             Rakyat Harus Diuntungkan dalam Jangka Pendek             Jangan Kejar Target Pembangunan Fisik Saja             Kemampuan Investasi dalam Menyerap Tenaga Kerja Semakin Rendah