Cuma mau nanya; Sejarah Untuk Siapa?
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
19 September 2017 08:40
Berpakaian tentara yang lengkap dengan atribut bintang empat di pundak dan baret, ditambah tanda jasa yang berderet di bagian dada kiri baju seragamnya, penampilan Gatot Nurmantio memang tampak gagah dan ganteng. Sosok dan kehadirannya sangat menarik perhatian dan penuh makna. Begitu kesan melihat  hasil liputan media yang menjadi viral, saat beliau berziarah ke makam Gus Dur di Jombang, Jawa Timur.

Melihat penampilannya, saya jadi teringat Jenderal Suharto muda yang selalu tampil gagah dan mempesona. Bedanya, Jenderal Suharto murah senyum. Sedangkan Jenderal Gatot murah canda. Dalam berbagai penampilan di mimbar sejumlah seminar, terekam jelas kecerdasan dan luasnya pengetahuan, plus banyak humor jenaka yang terlontar menyegarkan suasana. Pantas saja bila banyak suara, minimal sejumlah ulama, yang mendaulat dan mendoakan Beliau agar maju dan menjadi Presiden pada Pemilu 2019.

Itulah sebabnya, pada saat Jenderal Gatot lantang mengatakan, sebagaimana diliput banyak media bahwa dirinya lah yang memerintahkan pemutaran film G30S PKI, cukup membuat sejumlah kalangan terhenyak. Terutama, ketika dengan tegas bersikap sambil menantang...,, saya yang menyuruh, mau apa..??!’’ Menurutnya, pemutaran film G30S PKI semata agar para prajuritnya tidak buta sejarah; betapa keji dan bahayanya komunis PKI. Gatot pun sempat mengutip pesan Bung Karno, Jas Merah, jangan melupakan sejarah! 

Dengan niat baik ini, Jenderal Gatot juga menegaskan; Yang bisa melarang hanya pemerintah! (baca: Presiden). Kontan saja para pihak yang mempertanyakan dan mempersoalkan pemutaran film G30S PKI, semua jadi terdiam, kecut, ciut, enggan menjawab atau takut?!. Sampai-sampai Presiden Jokowi pun hanya berkomentar lirih dan datar. Intinya tidak berniat melarang pemutaran film G30S PKI yang tujuannya agar para prajurit TNI AD lebih mengenal sejarah. 

Yang menarik dan perlu dimaknai ketika politisi asal Solo ini berpesan agar sebaiknya membuat film lagi dengan tema yang sama namun dengan pendekatan berbeda yang lebih membuat generasi millenial dapat menerima dan mencernanya. Sebagai orang Jawa saya membaca makna yang tersirat, bukan yang tersurat. Begitulah cara para elite Jawa ketika tidak mau frontal mengatakan tidak. Bisa dibaca seperti...,, Njih monggo menawi njenengan ngersake, ning ngapunten, kulo tak mboten tumut kemawon..!’’ (Silakan kalau Anda menginginkannya...tapi maaf, saya nggak ikut ya..)

Dengan demikian Jas Merah pun bisa ditujukan kepada pak Jenderal. Tentunya bila dikaitkan dengan sejarah perjuangan rakyat Indonesia mengakhiri pemerintahan Orde Baru. Belum lagi mempertanyakan sikap kenegarawanan menyaksikan pendeskriditan Angkatan Udara Republik Indonesia yang coba ditanamkan ke benak siapapun yang menyaksikan adegan demi adegan dalam film G30S PKI ini. Juga kesan seakan Presiden Sukarno cenderung berpihak melindungi PKI dalam film tersebut. Inikah sejarah yang dimaksud untuk jangan dilupakan???!

Jangan sampai timbul pemikiran, ini sih persiapan menuju panggung politik 2019?!  Apa lagi, tahun depan pastinya, ada pergantian Panglima TNI. Menurut tradisi pergantian, Kepala Staf TNI AU yang akan mendapat giliran. Nah, dengan kesan bahwa TNI AU cacat kesetiaan pada Republik yang dicitrakan dan sengaja dipesankan dalam film ini, apa jadinya ya?

Sebagai catatan; kita memang perlu belajar sejarah, dan jangan sekali-kali meninggalkan sejarah! Tapi, sejarah yang tidak menjawab tantangan masa depan dan bahkan membawa kita mundur, layak untuk dilupakan!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF