China Membuat Trump Makin Panas Sambil Merapatkan Dunia
Gigin Praginanto
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
berita
Berpikir Merdeka
06 November 2018 10:00
Akhirnya Jepang bersekutu dengan China untuk menghadapi Donald Trump. Dalam kunjungannya ke Beijing bulan lalu, Perdana Menteri Shinzo Abe bersepakat dengan Presiden Xi Jinping untuk mengubah hubungan kedua negara dari kompetisi menjadi kooperasi. Abe dan Jinpin pun saling berjanji untuk menghentikan ketegangan diplomatik akibat sengketa perbatasan, yang mengakibatkan maraknya sentimen anti Jepang di China dan sebaliknya.

Ini mungkin langkah paling berani yang dilakukan Jepang terhadap sekutu terdekatnya Amerika Serikat. Sebab China saat ini sedang terlibat perang dagang sengit melawan negara superkuat ini.

Tak cuma defisit perdagangan yang membuat Trump berang kepada China. Di mata Trump, China perompak teknologi dan diskriminatif terhadap modal asing.

Jepang sendiri  secara ekonomi juga sangat tergantung pada Amerika. Pada 2016, total ekspor Jepang adalah 688 miliar dollar AS, dan 129 miliar dollar AS atau sekitar 18,8 persen ditujukan ke Amerika Serikat. Ekspor Jepang terbesar adalah kendaraan bermotor, elektronik, mesin industri, dan kapal.

Secara militer, Jepang juga tergantung pada Amerika Serikat. Sesuai dengan konstitusinya, yang dibuat oleh Amerika Serikat sebagai pemenang perang dunia kedua, Jepang hanya boleh memiliki pasukan bela diri. Selebihnya ditangani oleh Amerika Serikat. Inilah mengapa sampai sekarang di Okinawa masih bercokol pangkalan militer Amerika Serikat.

Kenekatan Jepang mendekatkan diri ke China tak lepas dari kekhawatiran bahwa Amerika Serikat juga akan melancarkan perang dagang kepada dirinya. Paling ditakuti adalah bila Trump memutuskan untuk menaikkan bea impor mobil dan barang-barang elektronik Jepang, yang bisa berdampak sangat buruk terhadap perekonomian Jepang.

Kekhawatiran ini dipicu oleh rangkaian keluhan Trump tentang defisit perdagangan dengan Jepang. Sebagai contoh, tahun lalu Jepang menikmati surplus perdagangan 69 miliar dolar AS dengan Amerika Serikat. Menurut US Census Bureau, nilai ekspor Jepang ke Amerika mencapai 136 miliar dolar AS,  sementara impornya hanya 67 miliar dolar AS. Maka Jepang menikmati surplus terbesar ketiga setelah China (375 miliar dollar AS), dan Meksiko (71 miliar dolar AS).

Sikap waspada kepada Trump, yang setiap saat bisa mengbil langkah ekstrim, dimulai ketika dia memutuskan menarik diri dari Trans-Pacific Partnership (TPP). Padahal, di bawah Barack Obama, Amerika dan Jepang adalah ujung tombak TPP yang antara lain dirancang untuk membendung ekspansi ekonomi China.

Bila terwujud, TPP adalah blok perdagangan terbesar karena menguasai sekitar 40 persen PDB dunia. Kini 11 anggota TPP tetap maju dengan nama Comprehensive and Progressive Trans-Pacific Partnership (CPTPP). Mereka adalah Jepang, Australia, Brunei, Kanada, Chile, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapura, dan Vietnam.

Dengan PDB total 10.6 triliun dolar AS, CPTPP masih akan menjadi salah satu blok perdagangan terbesar di dunia. Bila pendekatan Abe berhasil, dan membuat China mau bersekutu dengan CPTPP,  maka Trump akan berpikir berulang kali untuk melancarkan perang dagang melawan Jepang-China dkk.

Untuk membuat Trump lebih jinak, China sendiri  melakukan pendekatan ke Uni Eropa (UE) agar tidak ikut-ikutan melancarkan perang dagang terhadap dirinya. Pemerintah China mengingatkan bahwa pihaknya berada dalam posisi yang sama dengan UE dalam melawan proteksionisme yang sedang digalakkan oleh Trump. China juga menawarkan penyelesaian lewat jalan damai atas masalah yang masih menghambat hubungannya dengan UE.

Dalam kunjungannya ke Eropa beberapa pekan lalu, Perdana Menteri Li Keqiang berjanji akan membuka pintu lebih lebar bagi barang dan modal dari Eropa. Dia juga akan memenuhi keinginan anggota UE dan negara negara Eropa lainnya dalam melindungi hak milik intelektual.

China adalah rekan dagang kedua terbesar bagi UE setelah Amerika. Hubungan ekonomi keduanya juga masih tampak akan berkembang.

Pendekatan dengan Rusia juga sudah mulai menuai hasil. Dalam pertemuan tingkat tinggi antara presiden Putin dan Xi Jinping di Vladivostok bulan lalu, keduanya sepakat untuk menggunakan uang lokal dalam transaksi bisnis.

Semua itu menunjukkan bahwa Trump telah membuat kawasan ekonomi terbesar di dunia, kecuali Amerika Serikat, saling mendekatkan diri. Gejala ini tak kepas dari ulah Trump yang mencitrakan diri sebagai sosok menakutkan yang setiap saat bisa menebar teror ekonomi kepada siapa saja.

Sementara itu, Jinping tampaknya sedang membuat Trump makin geram. Caranya dengan membuat nilai yuan merosot untuk meningkatkan daya saing produknya di pasar internasional sekaligus mengimbangi kenaikan bea masuk barang dari China. Padahal Trump sudah berulang kali menuding China bermain curang di pasar internasional dengan sengaja menurunkan nilai mata uangnya berulang kali!

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Nyoman Sudarsa

Ketua DPW KOMBATAN Provinsi Bali

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

FOLLOW US

Kartu Nikah Tidak Diperlukan             Penggunaan Pembayaran Online Harus Memiliki Regulasi             Reformasi Struktural: Darimana Kita Memulai?             Kemenag Perlu Jelaskan Manfaat Kartu Nikah             Focus ke Penetrasi Ekspor Produk Bernilai Tambah Tinggi             Gerindra dan PDIP Diuntungkan pada Pemilu 2019             Darurat, pembenahan Sektor Manufaktur dan Kapasitas SDM (Bagian-1)              Darurat, pembenahan Sektor Manufaktur dan Kapasitas SDM (Bagian-2)             Masih Ada Waktu untuk Perbaharui Komitmen             Penguatan Upaya Pemberantasan Korupsi