COP 25 Madrid - Memperjuangkan Pemecahan Krisis Iklim
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com) 30 November 2019 10:00
Watyutink.com - Berlanjutnya protes anti-pemerintah di Santiago, menyebabkan Presiden Chili, Sebastian Pinera, mengumumkan negaranya batal menjadi tuan rumah Conference of Parties/COP 25, yaitu Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim.

Sejatinya, pertemuan tahunan Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) ini bergilir dilaksanakan di lima wilayah PBB yaitu Afrika, Asia, Amerika Latin dan Karibia, Eropa Tengah dan Timur serta Eropa Barat dan Lainnya.

Krisis iklim adalah masalah lingkungan di tingkat global sehingga untuk mengatasinya diperlukan UNFCCC sebagai konvensi internasional, karena solusi dan mobilisasi sumber daya perlu dilakukan secara global pula. 

Keputusan pembatalan oleh Chili satu bulan sebelum pertemuan diadakan merupakan petaka logistik, karena banyak hal telah direncanakan di jauh hari dan biaya besar terlanjur dikeluarkan untuk berbagai hal seperti perjalanan, akomodasi, pengiriman barang dan konstruksi tempat pertemuan.

Untunglah COP 25 akan tetap berlangsung sesuai rencana yaitu 2 – 13 Desember di bawah kepemimpinan Chili dengan dukungan logistik dari Pemerintah Spanyol dan bertempat di Madrid.

Pesertanya merupakan perwakilan Para Pihak (saat ini terdiri dari 196 negara dan satu organisasi integrasi ekonomi regional) dan negara peninjau, insan pers, serta perutusan organisasi pengamat. Pada COP 24 tahun lalu di Katowice, Polandia, peserta  yang hadir mencapai 20.000 orang.

Pertemuan di Madrid dirancang untuk mengambil langkah-langkah penting berikutnya dalam proses penanganan perubahan iklim terutama menyelesaikan beberapa hal yang terkait dengan operasionalisasi penuh Persetujuan Paris.

Persetujuan Paris tentang Perubahan Iklim yang disepakati tahun 2015 dimaksudkan untuk mempercepat dan mengintensifkan tindakan dan investasi yang diperlukan untuk masa depan yang rendah karbon dan berkelanjutan. Pada perjanjian internasional ini, negara-negara berkembang juga menyatakan komitmen untuk mengurangi emisi karbon mereka.

Sebagaimana diketahui, emisi atau pancaran gas rumah kaca ke atmosfer karena kegiatan manusia disebabkan oleh  penggunaan bahan bakar fosil dan perubahan tata guna lahan, yang terbukti memicu perubahan iklim global dan mengancam bumi beserta isinya. Guna memudahkan komunikasi, maka istilah emisi beberapa jenis gas rumah kaca disederhanakan menjadi emisi karbon.

COP 25 di Madrid juga berfungsi untuk membangun ambisi menjelang tahun 2020, tahun di mana negara-negara telah berkomitmen untuk menyerahkan rencana aksi iklim nasional yang mutakhir. Aksi iklim yang penting akan ditingkatkan di berbagai bidang termasuk keuangan, transparansi aksi iklim, hutan dan pertanian, teknologi, pengembangan kapasitas, kehilangan dan kerusakan (loss and damage), masyarakat adat, kota, lautan dan gender.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai National Focal Point untuk UNFCCC mempersiapkan Delegasi Republik Indonesia (Delri) untuk persidangan-persidangan di bawah UNFCCC serta bekerjasama dengan Kementerian dan Lembaga serta pemangku kepentingan terkait lainnya dalam menyusun substansi posisi negosiasi maupun pernyataan tertulis Indonesia.

Delri menuju COP 25 dikategorikan menjadi delegasi tingkat menteri, tim negosiator, tim Paviliun Indonesia  dan anggota delegasi lainnya.

Salah satu misi Delri adalah memperjuangkan kepentingan Indonesia dan berkontribusi pada upaya global dalam menanggulangi krisis iklim.  Selain itu, juga dibangun Paviliun Indonesia untuk menyuarakan aksi dan inovasi Indonesia kepada dunia internasional, tentang komitmen nasional dalam penurunan emisi gas rumah kaca.

Paviliun Indonesia merupakan tempat berlangsungnya serangkaian acara seperti pameran, diskusi informal, pertunjukan seni dan budaya serta 40 talkshow.

Salah satu talkshow yang menarik adalah Storytelling to Communicate Climate Crisis yang akan membahas bagaimana bertutur tentang krisis iklim melalui berbagai media.

Narasumber mancanegara yang siap tampil dalam talkshow itu termasuk perwakilan dari Asosiasi Komunikasi Lingkungan Internasional untuk latar belakang teori, Climate Reality untuk kiat  mengarusutamakan krisis iklim, dan 350.org untuk digital storytelling. Sedangkan narasumber dari Indonesia adalah aktor Nicholas Saputra yang akan berbagi informasi tentang pengalamannya sebagai produser Semesta film dokumenter tentang solusi krisis iklim di Indonesia.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir