Bius Optimisme Penemuan Vaksin
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 31 August 2020 19:30
Watyutink.com – Hari ini jumlah dokter yang meninggal sejak pandemi coronavirus diseases 2019 (Covid-19) meletup di Tanah Air dalam lima bulan terakhir menyentuh level psikologis, 100 orang. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat seluruh dokter yang gugur tersebut dinyatakan positif terinfeksi Covid-19.

Jumlah dokter yang meninggal tersebut jika dibagi per bulan maka dalam satu bulan rata-rata 20 dokter meninggal. Jika dirinci lagi menjadi per hari, maka kehilangan itu hanya jeda sepertiga hari saja. Setelah itu, Covid-19 kembali memangsa korbannya.

Sedih, geram, jengkel berkecamuk di hati para dokter menyaksikan kematian rekan sejawat yang masih terus terjadi. Sedih karena kehilangan, geram dan jengkel karena penularan virus itu sebenarnya bisa dicegah jika fasilitas kesehatan memadai, protokol kesehatan dijalankan dengan ketat, alat pelindung diri tersedia dengan baik, dan cukup anggaran untuk menangani Covid-19.

Di sisi lain, atas desakan beberapa pihak dengan tameng kebutuhan ekonomi memaksa dilakukannya pelonggaran kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tempat-tempat keramaian seperti mal, pusat belanja, bioskop sudah mulai dibuka kembali.

Maraknya kembali kegiatan masyarakat di luar rumah itu bisa dikatakan berbarengan dengan optimisme ditemukannya vaksin yang bisa melawan Covid-19. Bermacam-macam formula vaksin kini berseliweran di jagat farmasi untuk diujicobakan kepada para relawan dan diharapkan akan memberikan hasil dalam waktu dekat.

Bahkan Presiden Joko Widodo mengklaim langkah pemerintah yang terus berusaha mengadakan vaksin corona sejatinya sudah di atas jalan yang benar (on the right track) sebagai salah satu cara untuk mengatasi pandemi virus corona di Tanah Air. Hal ini dipertegas dengan pernyataan beliau bahwa Indonesia sudah mengantongi komitmen pengadaan vaksin Covid-19 Merah Putih sebanyak 290 juta sampai akhir 2021. Sementara pada tahun ini sebanyak 20 juta sampai 30 juta pada 2020.

Jumlah vaksin sebanyak itu tentu lebih dari cukup untuk membentengi seluruh rakyat Indonesia dari serangan virus corona. Bila sudah bisa diproduksi, Presiden meminta vaksin segera didistribusikan ke masyarakat. Bahkan, kalau kebutuhan dalam negeri sudah tercukupi, diekspor ke negara-negara yang belum siap dengan vaksin.

Tentu tidak ada yang salah dengan langkah pemerintah untuk memproduksi vaksin agar rakyat mempunyai perlindungan diri, kebal terhadap infeksi Covid-19. Apalagi kalau mendengar jumlah yang akan diproduksi mencapai 290 juta vaksin, membuat nyaman tidur, tanpa dihantui rasa takut menderita sakit akibat terinfeksi virus corona.

Namun berita mengenai rencana produksi vaksin yang cukup spektakuler ini bisa menjadi bumerang bagi penanganan pandemi Covid-19. Alih-alih dapat meningkatkan kepercayaan pelaku pasar, dunia usaha seperti diharapkan presiden, upaya membatasi penyebaran virus corona menjadi kendor. Toh sebentar lagi akan ada vaksin, kenapa harus repot-repot melaksanakan PSBB.

Pemerintah sepatutnya kembali kepada kebijakan membangun rasa kegentingan (sense of urgency) dengan adanya pandemi Covid-19. Penting untuk membentuk rasa kegentingan demi membangun kerja sama yang lebih erat semua pihak, bahu membahu melawan virus mematikan ini. Sebaliknya, jika yang dibangun rasa percaya diri menemukan vaksin maka upaya mengatasi virus tidak akan kemana-mana.

Dengan rasa kegentingan yang rendah maka sulit menghimpun semua elemen masyarakat dan pemerintahan yang memiliki kemampuan dan kredibilitas dalam menangani pandemi Covid-19 agar dapat diarahkan atau diyakinkan mengenai pentingnya penanganan wabah virus corona secara total.

Selanjutnya presiden perlu membangun koalisi antarkementerian, dengan pemerintah daerah, asosiasi profesi, industri kesehatan dan farmasi, ormas, parpol, dan pihak-pihak lain membangun misi penanganan wabah corona. Penyelesaian masalah besar sulit untuk diselesaikan, sehingga butuh kekompakan untuk menjaga proses penanganannya berjalan dengan baik.

Jangan sampai pemerintah terlalu sibuk dengan pembuatan vaksin, sementara daerah keteteran dengan semakin bertambahnya jumlah orang yang terinfeksi virus corona dan tingkat kematian yang juga masih terus meningkat.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF