Biopiracy, Mencuat di Daratan dan di Lautan
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
12 January 2019 10:00
Watyutink.com - Wahana Pirates of the Caribbean adalah arena yang paling menarik pengunjung di taman hiburan Disneyland, California, Amerika Serikat. Sejak pertama kali diluncurkan setengah abad yang lalu, tempat itu sudah mendulang lebih dari 400 juta pengunjung.

Sedemikian tenarnya Pirates of the Caribbean, sehingga kisahnya diangkat Hollywood menjadi seri film layar lebar. Aktor Johnny Depp berperan sebagai Kapten Jack Sparrow, bajak laut perkasa yang mengembara di tujuh lautan, melawan kekuatan sihir, dan memenangkan berbagai pertarungan menegangkan untuk menemukan harta karun yang tersembunyi.

Dongeng bajak laut mungkin saja menjadi inspirasi bagi biopiracy, yaitu eksploitasi sumber daya hayati dan pengetahuan masyarakat lokal tanpa izin dan pembagian manfaat. 

Biopiracy mencuat di daratan dan di lautan, dan umumnya merupakan modus operandi para periset asing dari lembaga penelitian dan perusahaan besar. Mereka menggunakan hak kekayaan intelektual untuk memanipulasi sumber daya genetika dan kearifan tradisional di negara-negara berkembang. Hasilnya kemudian dipatenkan, djadikan produk komersial obat-obatan, kosmetika, dan makanan, serta diperjualbelikan dengan mahal kepada pemilik sumber daya aslinya

Pengetahuan tradisional diakui merupakan kunci bagi sandang, pangan dan kesehatan bagi penduduk dunia. WHO, Organisasi PBB untuk Kesehatan Dunia, bahkan menyatakan bahwa tiga perempat obat-obatan modern didasarkan pada informasi dari pengetahuan tradisional masyarakat adat.

Beberapa kasus biopiracy klasik, seperti ditulis Martin Khor untuk SciDevNet adalah hak paten untuk kunyit yang diperoleh dua orang peneliti di Universitas Mississippi, Amerika Serikat. Padahal kunyit sudah digunakan di India dan berbagai negara secara turun temurun, baik sebagai penyembuh luka, anti bengkak maupun bumbu masakan. Amerika Serikat juga memberikan hak paten untuk protein dari labu pahit Thailand, padahal sebelumnya seorang ilmuwan di Negeri Gajah Putih itu menemukan bahwa senyawa labu pahit Thailand dapat digunakan untuk melawan infeksi HIV.

Selain di daratan, biopiracy juga marak di lautan, yang merupakan habitat ribuan organisme. Di dasar lautan ditemukan makhluk hidup yang telah beradaptasi dengan tantangan lingkungan luar biasa keras seperti suhu dingin, kadar garam sangat tinggi, dan tekanan besar. Sifat-sifat genetik yang terkandung dapat diterapkan untuk berbagai kepentingan, sehingga nilai komersialnya menjadi tinggi.  

Indonesia beberapa kali kecolongan hak para penelitinya karena pelanggaran etika dari periset negara maju baik yang berafiliasi dengan lembaga penelitian maupun perusahaan besar yang semena-mena membawa keluar berbagai informasi hayati tanpa melibatkan peneliti Indonesia maupun memberi kompensasi kepada komunitas lokal.

Bagaimana cara mencegah biopiracy? Ada beberapa kesepakatan internasional yang menanganinya, termasuk Konvensi Keanekaragaman Hayati dan turunannya yaitu Protokol Nagoya tentang Akses pada Sumber Daya Genetik dan Pembagian Keuntungan yang Adil dan Seimbang yang Timbul dari Pemanfaatannya atas Konvensi Keanekaragaman Hayati.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2016 tentang Paten mengatur pemanfaatan sumberdaya genetik dan kearifan tradisional. Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menetapkan beberapa peraturan terkait peneliti asing dan biopiracy.

Meskipun sudah ada batasan-batasan untuk akses dan pembagian manfaat sumber daya hayati, pelaksanaannya masih belum memadai karena ada celah yang dapat dimanfaatkan berbagai pihak. 

Penegakan hukum tetap merupakan cara paling efektif untuk mengatasi biopiracy, namun juga harus disertai dengan langkah aktif peneliti untuk menggali dan mendokumentasikan kekayaan hayati Indonesia. Meningkatkan pengetahuan komunitas lokal juga penting guna memahami dan melindungi nilai kekayaan yang ada.

Biopiracy harus diperangi untuk dihentikan, meskipun Kapten Jack Sparrow, tokoh Pirates of the Caribbean, dengan kapalnya The Black Pearl, bertekad untuk sebebasnya dan selamanya mengarungi tujuh lautan sebagai bajak laut legendaris.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

FOLLOW US

Polisi Tunduk Pada Hukum             Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan             Penggalian Nilai Budaya Dibalik Kebaya             Berkebaya Adalah Kesadaran             Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?