Bersatulah Pelacur, Bongkar Kepalsuan Mereka
Gigin Praginanto
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
berita
Berpikir Merdeka
10 January 2019 11:35
Kasus pelacuran Vanessa Angel memang menghebohkan. Bukan karena dampak buruknya terhadap kepentingan umum namun sebagai berita hiburan, yang bisa bisa membuat banyak orang terpingkal-pingkal. Demikian hebohnya kasus ini sampai pelacuran politik dan intelektual yang sedang naik daun seperti tenggelam ditelan oleh tsunami.

Masyarakat tampaknya memanfaatkan kasus Vanessa untuk melepaskan diri dari ulah para pelacur politik dan intelektual yang telah membuat ketegangan sosial memuncak dengan cepat. Maklum, para pelacur berpendidikan tinggi ini gemar  mengorbankan kepentingan publik. Salah satu hasilnya adalah kemarahan dan kebencian secara meluas.

Para pelacur ini memang piawai dalam melakukan hipnotis secara massal. Para korbannya pun sampai menjadikan politik bagai agama. Lalu menganggap siapa saja yang berbeda dengan dirinya  sebagai kaum sesat.

Sumber kekuatan hipnotis para pelacur  politik dan intelektual adalah kemampuan memutar-balikkan fakta, termasuk menjadikan  kepentingan pribadi seolah kepentingan umum. Maklumlah, mereka memang sangat berpengalaman dan cerdas sehingga banyak yang menyandang status sebagai tokoh publik, akademik, pers, aktivis HAM, dan bisnis.

Duit gelap yang beredar tentu sangat banyak. Bagi para pelacur jenis ini, tarif Vanessa Angel mungkin hanya uang receh. Mereka bahkan bisa memborong wanita seperti Vanessa kapan saja mereka mau, sementara mulut komat-kamit mengumbar celoteh  tentang arti kejujuran dan pentingnya berkomitmen untuk membangun kesejahteraan rakyat.

Para pelacur ini sesungguhnya memang tak berbeda dengan penipu. Menipu publik agar percaya bahwa orang tolol yang mereka tokohkan adalah manusia cerdas, dan masih banyak lagi muslihat lain untuk mencuci otak masyarakat.

Meski secara politik berseberangan, mereka tentu saja punya mimpi yang sama. Yakni memperoleh kekuasaan dan kekayaan sebanyak mungkin. Soal pandangan bahwa mereka adalah manusia berkepridian ganda seperti DR Jeckyll and Mr Hyde, tak menjadi soal. Bagi mereka apalah artinya kehormatan dibandingkan harta dan tahta.

Media-media partisan, terutama TV dan koran besar (termasuk online) yang secara telanjang menjadi corong politik adalah sarana mereka untuk membuai publik agar membuta pada kenyataan. Mereka tak perduli bahwa fanatisme yang dibangun secara massal berakibat ketegangan bahkan konflik sosial yang tak kunjung reda.

Sungguh ironis karena penegakan hukum tampak sangat tegas ketika berhadapan dengan kaum wanita seperti Vanessa Angel. Sementara itu, para pelacur politik dan intelektual yang kerap muncul di layar TV dan media lainnya bisa tetap santai meski kerusakan sosial akibat kelakuan dan kebohongan yang mereka tebar jauh lebih mengerikan.

Semua itu mengingatkan pada puisi karya WS Rendra  Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta.  Dalam puisi ini Rendra menulis "Ketika kubaca di koran bagaimana badut-badut mengganyang kalian. Menuduh kalian sumber bencana negara. Aku jadi murka." Pada bagian lain puisi ini berbunyi "Mulut-mulut yang latah bahkan seks mereka politikkan."

Rendra berharap agar para pelacur beraksi dan "Telanjangi kaum palsu." lalu menyarankan "Naikkan tarifmu dua kali dan mereka akan klabakan. Mogoklah satu bulan dan mereka akan puyeng. Lalu mereka akan berzina dengan isteri saudaranya."

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

FOLLOW US

Konglomerasi Media dan Pilpres             Kuatnya Arus Golput: Intropeksi Bagi Parpol             Golput Bagian dari Dinamika Politik             Parpol ke Arah Oligharkhis atau Perubahan?             Melawan Pembajak Demokrasi             Pilih Saja Dildo             Golput dan Migrasi Politik             Golput Bukan Pilihan Terbaik             Golput dan Ancaman Demokrasi             Edy Rahmayadi Cuma Puncak Gunung Es Rusaknya Tata Kelola Sepakbola