Berikan Mereka Kompensasi
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 06 April 2020 18:40
Watyutink.com - Virus corona atau Covid-19 sudah seperti gas beracun yang memenuhi ruangan udara dunia usaha di Tanah Air, mematikan siapa saja yang menghirupnya, tak pandang bulu. Usaha besar maupun kecil, lama maupun baru, bermodal kuat maupun berutang, dijalankan profesional maupun pribadi, berskala internasional maupun lokal semua dibuatnya tidak berdaya.

Usaha besar, berskala internasional, dijalankan oleh para profesional dan sudah beroperasi lama barangkali memiliki cadangan sumber daya yang cukup kuat untuk bertahan hidup selama wabah Covid-19 merebak. Modal besar  membuat imunitas mereka tinggi menghadapi gejolak ekonomi.

Berbeda dengan para pekerja kecil yang mencari nafkah harian, mingguan atau bulanan mulai dari pegawai swasta, buruh, dan pekerja di sektor informal. Tidak sedikit perusahaan yang diam-diam di tengah hiruk pikuk pemberitaan virus corona telah merumahkan karyawannya tanpa digaji. Banyak juga perusahaan melakukan PHK lantaran tidak sanggup lagi membiayai pegawainya.

Pekerja sektor informal dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagian besar sudah tidak bisa bekerja dan berjualan. Mereka yang mencoba untuk tetap berjualan mengalami penurunan tajam dalam pendapatannya. Sejak masyarakat diimbau untuk tinggal di rumah saja, aktivitas publik di luar berkurang drastis.

Kisah memilukan para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang lumpuh usahanya maupun para karyawan yang terpaksa dirumahkan akibat penyebaran virus corona bisa kita temukan di  laman media-media digital.

Di Pasar Senggol, Tegal, misalnya, nyaris tidak pernah sepi pengunjung di hari biasa. Namun sejak Pemkot menerapkan isolasi wilayah, pembeli di warung-warung ini turun drastis. Satu per satu pemilik warung memilih tutup lantaran sepi pembeli.

Salah satu pemilik warung, Rastin, mengaku sebelum ada isolasi wilayah akibat virus corona, pendapatannya mencapai Rp600.000-Rp700.000 per hari. Kini dia harus puas hanya dengan mengantongi uang Rp50.000 saja per hari. Bahkan pernah tidak ada pembeli sama sekali dalam satu hari.

Nasib serupa dialami pengojek online. Sebut saja Eko yang beroperasi di daerah Jakarta Selatan. Dia mengaku pendapatannya anjlok 80 persen karena sepinya penumpang. Sebelum virus corona memasuki DKI Jakarta, dia bisa mendapatkan 30 perjalanan dalam satu hari. Kini dia hanya memperoleh lima perjalanan. Pendapatannya pun anjlok dari Rp200.000 per hari menjadi Rp20.000-Rp30.000 per hari. Kalau mau mendapatkan lebih banyak, Rp50.000, dia harus keluar subuh hingga larut malam.

Seorang driver taksi online berinisal MS yang beroperasi di wilayah Cibubur bernasib sama dengan Eko.  Pendapatannya anjlok hingga tinggal Rp15.000-Rp20.000 per karena sepinya pesanan, sekalipun dia sudah standby selama 10 jam, mulai dari pukul 13.00 WIB sampai 22.00 WIB.

Di luar sepi, di dalam pun sepi. Mal yang biasanya dipadati pengunjung menjadi sangat lengang. Akibatnya, penjualan toko-toko anjlok. Salah satu pedagang hand phone di Mal Ambasador, Mariska, mengaku tidak ada penjualan pada hari itu karena sepinya pengunjung.

Usaha musiman seperti event organizer maupun wedding organizer, termasuk bisnis ikutannya juga terkena dampak penyebaran virus corona. Dewan Penasehat Asosiasi Perusahaan Jasaboga Indonesia Diana Dewi mengungkapkan karyawan katering mulai dirumahkan. Saat ini sudah tidak ada order sama sekali karena ditundanya pernikahan maupun resepsi pernikahan.

Eko, MS, Mariska, dan Diana adalah sebagian kecil dari 74 juta pekerja informal, atau 58 persen dari 129 juta tenaga kerja di Tanah Air yang bernasib sama. Dominasi pekerja informal dalam dunia ketenagakerjaan membuat ekonomi Indonesia rapuh ketika mengalami gejolak di dalam negeri, seperti merebaknya pandemi Covid-19.

Pukulan terhadap pekerja informal dan UMKM diprediksi akan memukul ekonomi nasional. Wajar jika Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menaksir perekonomian Indonesia akan tumbuh negatif pada tahun ini dengan merebaknya Covid-19.

Namun kita tidak perlu larut dalam kesedihan dan berusaha mencari solusi untuk menyelamatkan masyarakat paling bawah yang paling rentan menghadapi penyebaran Covid-19, sekaligus menahan perekonomian nasional agar tidak terperosok lebih dalam. Berikan mereka kompensasi!  

Untuk seluruh 74 juta pekerja informal di Indonesia dibutuhkan anggaran untuk kompensasi sekitar Rp89 triliun. Jumlah ini berdasarkan hitungan rata-rata penghasilan bersih pekerja informal di Indonesia Rp1,2 juta per pekerja per bulan dikalikan jumlah total pekerja informal. Apakah pemerintah punya uang sebanyak itu? Tentu punya jika mau menggeser prioritas dengan menunda proyek yang tidak mendesak, membatalkan pembangunan yang tidak relevan.

Saatnya pemerintah mengembalikan uang rakyat yang dipungut melalui pajak untuk menyelamatkan anak-anak bangsa. Mereka yang selama ini memilih jalan sepi berkontribusi bagi perekonomian negara melalui usaha mikro, kecil dan menengah dengan menyerap lebih dari separuh angkatan kerja nasional.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF