Berharap Pada Ekonomi Digital
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 23 February 2021 13:00
Watyutink.com - Masyarakat Indonesia pandai mencari hikmah dari satu peristiwa. Sikap tersebut secara jelas terefleksi dalam ungkapan yang sering kita dengar ketika satu peristiwa—umumnya kejadian tidak mengenakan—terjadi, ‘Untung orangnya selamat’, ‘Untung tidak semuanya hilang’ dan sederet pernyataan sejenis yang memiliki makna sebangun

Bisa jadi ini merupakan satu budaya positif yang dimiliki masyarakat Indonesia dalam melihat persoalan bahwa jangan terlalu bersedih memandang satu persoalan yang rumit, tidak menggembirakan, membahayakan, merugikan. Toh masih ada kebaikan yang tersisa dari peristiwa tersebut.

Begitu juga dengan merebaknya pandemi coronavirus diseases 2019 (Covid-19) di Indonesia. Orang-orang membenci peristiwa ini. Gara-gara virus ini ribuan orang harus meregang nyawa, ekonomi lumpuh, tidak leluasa berpergian, dan berbagai kesempitan yang disebabkan oleh virus ini.

Namun ada hikmah yang dapat diambil dari peristiwa merebaknya Covid 19. Kendala berupa pembatasan pertemuan langsung untuk menghindari penularan virus corona memaksa orang untuk mencari cara yang aman untuk tetap berinteraksi dan bertransaksi. Teknologi informasi menjadi pilihan satu-satunya saat ini dalam mengatasi masalah tersebut.

Pandemi covid-19 telah memaksa hampir seluruh masyarakat beralih ke teknologi digital. Kecenderungan ini bisa menjadi peluang untuk mengembangkan ekonomi digital di dalam negeri secara besar-besaran.

Tak mengherankan jika riset yang dilakukan oleh Google, Temasek dan Bain & Company bertajuk e-Conomy SEA 2020 at Full Velocity: Resilient and Racing Ahead, memproyeksikan bahwa pada 2025 mendatang ekonomi digital Indonesia bakal meningkat tiga kali lipat dari 40 miliar dolar AS menjadi 133 miliar dolar AS atau setara dengan Rp1.862 triliun, dengan asumsi kurs Rp14.000 per dolar AS.

Rinciannya, pertumbuhan di sektor e-commerce diperkirakan bakal mencapai 82 miliar dolar AS atau meningkat hingga empat kali lipat. Sementara untuk sektor online traveling bakal meningkat dua kali lipat, dari 10 miliar dolar AS menjadi 20 miliar dolar AS.

Adapun untuk sektor media diproyeksi bakal meningkat dari 3,5 miliar dolar AS menjadi 9 miliar dolar AS, serta jasa transportasi on demand (ride hailing) bakal meningkat tiga kali lipat dari 5,7 miliar dolar AS menjadi 18 miliar dolar AS.

Apa yang dihitung oleh Google, Temasek dan Bain & Company tersebut baru sebatas proyeksi bahwa potensi ekonomi digital Indonesia sangat besar. Potensi itu bisa terwujud atau bisa juga meleset jika infrastruktur yang ada tak mendukung sektor digital untuk berkembang.

Karena itu pemerintah buru-buru menyiapkan ‘sambutan’ agar potensi ekonomi digital tidak lewat begitu saja. Sedikitnya Rp413 triliun disiapkan untuk pembangunan infrastruktur dan Rp30 triliun untuk transformasi digital pada 2021.

Dana itu untuk membangun jaringan internet di lebih dari 12 ribu lokasi layanan publik di seluruh Tanah Air agar masyarakat bisa saling terhubung, digitalisasi sektor pendidikan. Selain itu, dibangun juga pusat data nasional, pembaruan data, dan pemutakhiran data mereka yang menerima bantuan sosial.

Pemerintah boleh saja mengalokasikan dana cukup besar untuk menopang pertumbuhan ekonomi digital. Namun tidak ada jaminan ekonomi digital akan tumbuh berkali-kali lipat seperti diproyeksikan oleh Google, Temasek dan Bain & Company kalau kendala yang ada belum diatasi.

Kendala yang dihadapi oleh Indonesia adalah kurangnya SDM berkualitas dan transaksi digital yang belum optimal. Pertumbuhan teknologi digital yang sangat cepat tidak diimbangi dengan penyiapan sumber daya manusia berkualitas.

Indonesia sebenarnya tidak kekurangan talenta dengan bonus demografi yang dimilikinya. Hanya saja mereka belum matang. Solusinya, datangkan tenaga ahli dari luar negeri agar orang-orang di sini bisa belajar dari mereka.

Infrastruktur dalam ekonomi digital juga masih kedodoran. Menurut survei Google, kurang dari satu dari dua pengguna internet di Asia Tenggara—termasuk Indonesia-- yang menggunakan transaksi digital. Artinya, tingkat penggunaan transaksi digital di Indonesia masih kurang.

Menurut Survei Google dan Temasek pada 2018 bertajuk e-Conomy SEA 2018 Southeasy Asia’s Internet Economy Hits an Inflection Point, Indonesia menempati urutan kedua untuk penggunaan transaksi digital terbanyak di Asia Tenggara sebesar 46 persen.

Namun kondisi tersebut masih belum didukung oleh penyediaan alat transaksi digital. Usaha mikro dan kecil yang menjadi bagian terbesar ekonomi Indonesia masih belum menggunakan alat transaksi digital. Mereka tidak mendapatkan informasi mengenai hal itu.

Kendala yang ada perlu di-manage dengan baik. Dalam perspektif manajemen strategi, sebuah kendala adalah tantangan dan tantangan adalah peluang. Tinggal bagaimana  mengelola potensi ekonomi digital yang besar dan peluang yang ada menjadi keuntungan bagi bangsa ini.

Virus corona memang bikin susah, tapi mari mencari hikmahnya dan itu nyata ada. Dengan begitu bisa saya katakan, ‘Untung ada pandemi Covid-19, ekonomi digital jadi cepat berkembang’.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI