Berebut Tafsir Banjir Jakarta
Al-Zastrouw
Budayawan, Dosen Pasca Sarjana UNSIA Jakarta, Kepala UPT Makara Art Center UI Jakarta
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 22 February 2021 16:10
Watyutink.com - Bencana banjir telah melanda di sebagian wilayah negeri ini. Di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Kalimantan Selatan banjir menggenangi beberapa kota, termasuk di DKI Jakarta. Di tempat-tempat tersebut, tak ada perdebatan yang berarti terkait dengan penanganan banjir. Ini berbeda dengan di Jakarta. Banjir di Jakarta menjadi kontroversi yang berkepanjangan, terutama di dunia maya.

Para netizen seolah menjadikan banjir di Jakarta sebagai momentum melampiaskan berbagai dendam kesumat, uneg-uneg dan berbagai ganjalan hati yang selama ini terpendam. Di sisi lain, banjir yang terjadi di Jakarta saat ini menjadi sarana mempromosikan tokoh idola atau ajang “setor muka” kepada atasan dengan menjadi pembela yang gigih dari serangan orang-orang yang membencinya.

Ramainya kontroversi banjir Jakarta bisa dilihat melalui perdebatan yang terjadi di media sosial. Tagar dan komen di medsos yang menyerang Gubernur Anies menjadi trending dan viral. Tagar (#)AnisTenggelamkanJakarta jadi trending di medsos hanya dalam waktu singkat, disusul kemudian #BanjirKotanyaKaburGabenernya yang juga menjadi trending. Selain itu, komentar yang tajam dan pedas terhadap Gubernur DKI, Anies Baswedan, juga bertebaran di berbagai laman medsos.

Komentar pedas para netizen yang kontra ini segera mendapat tanggapan dari kubu Anies. Rocky Gerung (RG), misalnya menyatakan bahwa bajir paling parah bukan terjadi pada saat Gubernur Anies, tetapi pada era Presiden SBY. Menurut RG banjir di Jakarta pada saat itu sampai masuk ke Istana Negara, sehingga presiden harus turun tangan. Dan Gubernur DKI saat itu adalah Jokowi. Jadi, menurut RG, kalau para para netizien atau buzzer mengatakan bahwa banjir paling parah itu terjadi sekarang, pada masa Gubernur Anies, itu merupakan kesalahan dan melebih-lebihkan.

“Berbalas pantun” dan saling serang dengan berbagai argumen ini terus terjadi di medsos. Apa yang terjadi menunjukkan terjadinya kesenjangan antara antara fakta lapangaan dunia maya. Di lapangan para korban banjir berusah payah menyelamatkan nyawa dan harta dengan segala cara. Para relawan menolong sesama dengan bertaruh nyawa tak kenal waktu. Mereka tidak pernah peduli siapa gubernurnya, apakah gubernurnya memperthatikan mereka atau tidak, apakah banjir ini terjadi karena ketidak-becusan gubernur mengelola pemerintahan atau tidak, yang penting pagi para relawan adalah mereka bisa menolong sesamanya dengan cepat dan aman.

Dalam konteks ini terjadi kontestasi tafsir terhadap banjir di Jakarta. Lapis pertama terjadi perbedaan tafsir secara vertikal yaitu antara rakyat dan relawan di level bawah dengan para elite politik di level atas. Kedua perbedaan tafsir secara horizontal, yaitu tafsir antar sesama rakyat yang ada di bawah, maupun sesama kaum elite yang ada di atas.

Pada level bawah terdapat perbedaan tafsir horizontal antara rakyat yang menjadi korban banjir dengan para relawan. Bagi rakyat yang menjadi korban, banjir ditafsirkan sebagai musibah yang bisa mengancam jiwa dan harta benda mereka. Maka untuk merespon kenyataan tersebut adalah berupaya menyelamatkan harta dan nyawa keluarga dengan mencari tempat yang aman untuk berlindung. Bagi para relawan, banjir merupakan momentum untuk memberikan pertolongan pada sesamanya, baik melalui tenaga, pikiran maupun berbagi bantuan materi.

Pada level elite, terjadi tafsir banjir sesuai dengan kepentingan masing-masing. Pertama, tafsir kepentingan politik. Pada kelompok ini, banjir ditafsirkan sebagai tafsir untuk mendapatkan keuntungan secara politik. Di satu sisi, banjir ditafsirkan oleh kubu yang anti penguasa sebagai media menyerang penguasa untuk menjatuhkan reputasi dan legitimasinya. Di sisi lain banjir ditafsirkan sebagai momentum untuk mempertahankan kekuasaan dengan mengambil simpati dan hati rakyat melalui pemberian berbagai bantuan dan sumbangan kepada rakyat, melakukan kunjungan untuk menunjukkan sikap peduli dan sejenisnya.

Kedua, tafsir kepentingan ekonomi. Dalam konteks ini, banjir ditafsirkan sebagai momentum menangguk keuntungan secara ekonomi. Banjir adalah momentum untuk mendapatkan berbagai proyek yang bisa mendatangkan keuntungan secara meterial, mulai penyediaan bahan kebutuhan pokok, peralatan sampai proyek pembangunan setelah banjir.

Berbagai tafsir ini sekarang sedang berkontestasi dan berebut pengaruh di depan publik. Kontestasi tafsir banjir yang berada pada level bawah tidak banyak menimbulkan masalah. Tafsir yang muncul dari para korban dan relawan sama-sama berorientasi penyelamatan dengan spirit pertolongan. Tetapi kontestasi tafsir yang terjadi antar elite bisa berbahaya, karena jika perebutan tafsir pada level elite ini terjadi secara berlebihan, maka ujungnya bisa mengabaikan proses pemberian pertolongan para korban banjir dan pencarian solusi mengatasi banjir dalam jangka panjang.

Untuk menghindari terjadinya perebutan tafsir banjir yang terjadi di kalangan elite yang dapat mengorbankan kepentingan masyarakat yang menjadi korban, maka semua tafsir tersebut sebaiknya berpangkal pada kepentingan rakyat yang lebih luas.

Dalam hal ini Pemerintah DKI perlu mencari solusi penanggulangan banjir yang benar-benar efektif. Program-program yang pernah dilakukan pemerintah sebelumnya yang benar-benar bisa menjadi solusi efektif penanggulangan banjir harus dilanjutkan, bukannya malah diganti dengan program baru yang asal beda tetapi tidak memiliki manfaat jelas dalam penanggulangan banjir. Demikian juga dalam menentukan skala prioritas pembangunan daerah. Sebagaimana dijelaskan banyak ahli bahwa banjir merupakan ancaman warga DKI yang perlu penanganan serius. Ini artinya pembangunan untuk menanggulangi banjir merupakan prioritas. Tapi anehnya, Pemda DKI malah mencoret anggaran yang terkait dengan pembangunan penanggulangan banjir. Langkah-langkah dan kebijakan inilah yang membuat gubernur mendapat kritik tajam dari netizen ketika banjir melanda Jakarta saat ini.

Memang harus diakui, tidak semua netizen yang melakukan kritik dan menyerang Anies secara kasar adalah lawan politik yang ingin membalas dendam dan menjatuhkan. Tapi banyak juga netizen yang melakukan kritik secara tulus untuk mencari kebaikan. Oleh karenanya tidak sebaiknya kritik-kritik tersebut dijawab dengan pernyataan apologis dan rangkaian kata-kata. Berbagai hujatan dan kritik itu akan lebih baik jika dibalas dengan karya-karya yang memberikan manfaat nyata bagi rakyat.

Apapun yang terjadi banjir di Jakarta adalah musibah. Faktanya banjir telah menuntut korban jiwa dan harta. Yang diperlukan sekarang adalah adalah menolong korban dan mencari jalan keluar untuk meminimalisir dampak negatifnya, bukan berebut tafsir banjir di media sosial. Berebut tafsir banjir di medsos tidak akan menyelesaikan masalah, tanpa dibarengi upaya kongkret menolong korban dan mencari solusi penanggulangan banjir secara serius. Apalagi jika tafsir tersebut hanya untuk mengamankan kepentingan golongan dan citra diri di hadapan publik.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF