Benturan Simbol Agama dan Habitus Capres-Cawapres
Al-Zastrouw
Dosen Pasca Sarjana Unusia, Penggiat seni tradisi dan budaya Nusantara
berita
Berpikir Merdeka
11 January 2019 11:10
Ada pertanda baik katika beredar video Prabowo sedang merayakan Natal bersama keluarga dan joged-joged sang capres di beberapa acara. Selain itu juga video cara berwudlu Sandiaga Uno yang berbeda dengan madzhab fiqh yang dianut mayoritas ummat Islam Indonesia. Juga beberapa keganjilan lain yang terkait dengan penggunaan simbol agama yang dilakukan oleh pasangan Capres-Cawapres No. 02.

Meski sempat mengundang kontroversi yang gaduh di dunia maya, namun jika dicermati ada hal baik yang muncul, di antaranya: pertama,  berbagai peristiwa tersebut bisa menurunkan tensi isu sektarian agama karena ternyata isu tersebut menjadi blunder politik bagi mereka. Kedua, berbagai kejadian tersebut bisa menjadi momentum untuk kembali pada isu-isu nasionalisme dan profesionalisme dalam pilpres mendatang.

Kedua orang tokoh tersebut adalah figur yang dididik dan dibesarkan dalam lingkungan sosial sekuler materialis. Meski keduanya memiliki komitmen yang tinggi terhadap Islam, namun mereka kurang memahami seluk ritual peribadatan dan menjalankannya secara detail. Pendeknya habitus mereka bukan habitus keislaman yang legal formalistik simbolik, tetapi lebih pada Islam kultural. Akibatnya, mereka gagap ketika secara spontan dipaksa menjalankan cara-cara berislam yang simbolik formal.

Habitus adalah proses sosial yang amat panjang yang membentuk pola pikir, cara pandang yang menghasilkan konstuksi budaya dan perilaku yang tertanam secara kuat dalam pribadi seseorang (Bourdieu; 1984). Habitus ini tidak bisa dihilangkan secara mendadak. Dia akan muncul secara spontan di luar kendali kesadaran nalar seseorang ketika menghadapi tekanan atau merespon sesuatu yang mengejutkan. Meski ditutupi dengan berlapis-lapis simbol dan berbagai tindakan basa-basi habitus yang merupakan karakter sosiologis asli seseorang, akan muncul secara spontan setiap saat. Apa yang dilakukan oleh Prabowo-Sandi merupakan permunculan habitus mereka, penampakan wajah dan karakter sosiologis-kultural yang sebenarnya yang selama ini dibungkus rapat dengan simbol, atribut dan narasi keagamaan.

Berbagai kejadian itu juga menunjukkan bahwa sebenarnya ada beban berat pada diri Prabowo-Sandi karena dituntut melakukan tindakan yang di luar habitus mereka. Bisa dipahami Bowo-Sandi menjadi korban kaum islamis politik yang ingin meraih kekuasaan dengan memanfaatkan simbol-simbol agama. Kaum islamis politik memberikan legitimasi keagamaan kepada Prabowo-Sandi, misalnya sebutan Capres-Cawapres pilihan Ijtima' Ulama, Capres Pembela Islam, Santri Post Islamis, Ulama Millenial dan sebagainya. Semua ini dilakukan agar mereka bisa memasukkan agenda politik mereka dengan membonceng Prabowo-Sandi.

Berbagai simbol dan atribut keagamaan yang hebat itu sama sekali tidak bisa mengubah habitus Prabowo-Sandi secara mendadak. Ibaratnya bangunan yang sudah jadi, tidak bisa berubah secara mendadak hanya karena ditutup kain bertuliskan kalimat Tauhid. Serapat apapun kain tersebut menutupi bangunan, wajah aslinya akan tampak ketika ada angin kecil menyingkap kain tipis penutup bangunan tersebut.

Dalam kondisi demikian maka penggunaan isu agama yang sektarian tidak akan mengangkat citra mereka sebagai ulama atau pejuang Islam, sebaliknya justru semakin menambah beban Prabowo-Sandi. Beban yang makin berat akan memancing munculnya habitus kedua figur tersebut di depan publik. Jika ini terjadi akan bisa menciptakan blunder dan pukulan balik.

Untuk itu ada baiknya jika Prabowo-Sandi mulai mengurangi penggunaan atribut dan simbol agama dalam kampanye dan pelan-pelan keluar dari jebakan politik sektarian. Selanjutnya kembali pada isu kebangsaan, program dan gagasan cerdas mensejahterakan rakyat. Dengan cara ini kampanye menjadi lebih sehat dan fair dan wajah agama lebih bisa diselamatkan.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

FOLLOW US

Konglomerasi Media dan Pilpres             Kuatnya Arus Golput: Intropeksi Bagi Parpol             Golput Bagian dari Dinamika Politik             Parpol ke Arah Oligharkhis atau Perubahan?             Melawan Pembajak Demokrasi             Pilih Saja Dildo             Golput dan Migrasi Politik             Golput Bukan Pilihan Terbaik             Golput dan Ancaman Demokrasi             Edy Rahmayadi Cuma Puncak Gunung Es Rusaknya Tata Kelola Sepakbola