Benarkah Kutub Selatan Meleleh?
DR Amanda Katili Niode Ph.D
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka

18 June 2018 10:00

Benua Antartika mengandung 27 juta kilometer kubik lapisan es, yang jika meleleh dapat meninggikan permukaan laut sampai 58 meter, menenggelamkan kota-kota pesisir seperti Miami, New York, Kolkata, Tokyo, bahkan Jakarta.

Majalah Ilmiah Nature minggu lalu menjadi rujukan hampir semua media massa di seluruh dunia, termasuk CNN, Time, Xinhua, dan BBC karena tayangnya serangkaian artikel tentang apa yang sedang terjadi di benua itu.

Benua Antartika. yang luasnya setara dengan Amerika Serikat ditambah Meksiko ini, mencakup seluruh area dari Kutub Selatan sampai ke lingkar kutub selatan. Antartika dengan suhu rata-rata minus 55 derajat Cecius hampir sepenuhnya ditutupi oleh lapisan es yang tertumpuk selama jutaan tahun karena hujan salju. Lapisan es tersebut merupakan salah satu indikator penting untuk pemantauan perubahan iklim.

Kegiatan manusia yang berlebihan dalam penggunaan bahan bakar fosil, perubahan tata guna lahan serta bermacam pencemaran mengeluarkan gas-gas rumah kaca, Inilah penyebab pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim dengan konsekuensi deretan bencana.

Paling mencemaskan adalah pengamatan 88 orang peneliti dari Tim IMBIE, kolaborasi internasional ilmuwan kutub yang mencermati data satelit. Sejak 2012 berkurangnya es di Antartika  meningkat tiga kali lipat, dan hanya dalam waktu 5 tahun permukaan laut global naik sebesar 3 milimeter.

Sebelum 2012, es yang hilang sekitar 76 miliar metrik ton per tahun, namun sejak 2012 kehilangan es meningkat tiga kali lipat menjadi 219 miliar metrik ton per tahun. Ini terjadi karena kombinasi peningkatan laju melelehnya es di Antartika Barat dan Semenanjung Antartika, dan berkurangnya pertumbuhan lapisan es di Antartika Timur.

Indonesia, meskipun negara tropis, juga berkepentingan memahami fenomena di Kutub Selatan, karena apa yang terjadi di sana merupakan indikator kesehatan bumi ini. Ilmuwan Indonesia pertama yang mengikuti ekspedisi ke Antartika adalah Agus Supangat, peneliti oseanografi lulusan ITB yang memperoleh gelar doktor dari Université de Montpellier, Perancis. Di tahun 2002, selama 3 bulan, Agus Supangat dan periset berbagai bangsa mempelajari arus air, es, dan fauna Antartika.

Masih di Majalah Ilmiah Nature terbaru, peneliti S.R Rintoul dan 8 koleganya dari 6 negara memaparkan dua skenario yang dapat terjadi tahun 2070. Pada skenario pertama, emisi gas rumah kaca tetap tidak terkendali, dan respons kebijakan tidak efektif. Akibatnya, lingkungan Antartika terkena dampak gabungan dari pemanasan global, pengasaman lautan, dan penyebaran spesies invasif.

Di skenario kedua, ada tindakan ambisius yang diambil untuk membatasi emisi gas rumah kaca dan menetapkan kebijakan yang mengurangi tekanan manusia terhadap lingkungan. Dengan skenario ini, pada tahun 2070, Kutub Selatan akan tetap berada dalam kondisinya sekarang.

Dr. Agus Supangat, yang menuliskan pengalamannya dalam buku berjudul “Jalan-jalan ke Antartika” menandaskan bahwa memahami krisis iklim ibarat memahami penderitaan para petani yang gagal panen, para nelayan yang gagal melaut, penduduk yang kekurangan air maupun yang kebanjiran,  dan serbaserbi penderitaan yang sering terjadi dan terabaikan,

Menyikapi perubahan iklim jelas memerlukan kesatuan hati dalam pelbagai ihwal termasuk penerapan gaya hidup ramah lingkungan dan dalam proses politik, komitmen dalam negeri dan urun rembug  dengan negara lain. Jika tidak, percuma saja jerih payah ribuan peneliti di tengah ganasnya alam superdingin Antartika.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

FOLLOW US

Kegalauan Anies, Lahirkan Kebijakan Itu             Bukan Sekadar Buat Aturan, Tapi Bangkitkan Rasa Kepedulian              Tidak Ada Alasan Mengabaikan Putusan MK             Keputusan KPU Mengembalikan DPD Khittahnya             Awasi Distribus Beras dengan Benar!             Koordinasi dan Komunikasi Menko Perekonomian Buruk              Bersaing dulu di ASEAN             Harus Ada Transformasi Struktural Industri              Tingkatkan Daya Saing Produk Kita             Perlindungan Anak Harus Libatkan Pengurus RT dan RW