Belajar New Normal dari Corona
Lukas Luwarso
Jurnalis Senior, Kolumnis
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 28 May 2020 15:00
Watyutink.com - Wabah Covid-19 telah mencabut 357.432 nyawa manusia, membuat sakit 5.789.571 dan yang sembuh baru 2.497.618 di seluruh dunia. Di Indonesia sedikitnya 1.473 meninggal, 23.851 terinfeksi, dan 6.057 sembuh. Ini data korban per 28 Mei 2020, kurang dari tiga bulan setelah Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi oleh World Health Organization (WHO) pada 11 Maret 2020. Jutaan manusia terinfeksi virus, dan miliaran harus menghentikan aktivitas normalnya agar tidak tertular atau menularkan virus.

Kesibukan manusia menjalani rutinitas untuk bertahan hidup, atau menikmati hidup, mendadak berhenti. Manusia mengunci diri, menjauhi kerumunan, atau bertemu orang. Beruntung ada gajet dan teknologi internet untuk mengakses informasi, berkomunikasi, atau bermain game. Namun kengerian pada sesuatu yang tak tampak, bernama virus, tetap membayangi. 

Ngeri untuk hal-hal yang sebelumnya biasa dan aman-aman saja, seperti mendorong atau memegang gagang pintu, duduk berdekatan, apalagi jabat tangan. Bumi menjadi tempat yang berbeda tiga bulan terakhir, begitu berbahaya dan mengancam. Info terus bertambahnya korban, khususnya kabar kematian orang-orang yang dikenal, membuat kita mulai bertanya soal kehidupan. Hidup yang ternyata begitu rapuh.  

Virus telah berkali-kali menginfeksi manusia selama ribuan tahun sejarah manusia sebelum wabah Covid-19 ini. Namun kini beda. Kita mengalami langsung aura kengerian, kesakitan, dan kematiannya. Sebelumnya wabah hanyalah informasi yang kita baca terjadi di masa lalu dan di negeri lain. Saat ini kita ikut mengalami sendiri. Kita bertanya-tanya, ada apa dan mengapa menimpa kita?

Bahkan ketika dunia medis modern sudah bisa mengidentifikasi dan memahami virus, kita masih terkaget tiba-tiba wabah terjadi. Wabah flu atau demam berdarah, yang rutin terjadi, juga menyakitkan. Namun, karena rutin, kita menganggapnya sebagai hal biasa, lumrah, atau normal.   

Pandemi Covid-19 sempat mengagetkan dan menakutkan karena rutinitas hidup berjalan “tidak normal”. Namun setelah beberapa bulan hidup berdampingan dengan virus Corona, kekagetan dan ketakutan mulai sedikit berkurang. Manusia pada akhirnya taklid, pasrah, berdamai dan menyesuaikan dengan ketidak-normalan ini. Dengan meneguhkan dan mengamini istilah "new normal”, kenormalan baru.

New normal adalah istilah atau frasa yang agak dipaksakan sebenarnya, karena mencoba “hidup normal” dalam situasi yang tidak normal. Kebiasaan lama coba disesuaikan dengan situasi baru yang berubah. Dalam konteks pemahaman itu, sebenarnya tidak ada yang disebut “normal” dalam sejarah peradaban manusia. Segala sesuatu selalu berubah, perilaku, pemikiran, teknologi, dan segala produk kebudayaan. Perubahan adalah normal, satu keniscayaan, pasti terjadi. Normal adalah yang mengikuti perubahan, yang tidak mengikuti perubahan: abnormal.

Kekagetan terhadap wabah Covid-19 telah mulai reda, dengan mantra “new normal” manusia harus mengikuti pola dan gaya hidup baru. Aktivitas ekonomi, sosial, dan yang terkait kerumunan harus mengikuti protokol kesehatan. Kerja di rumah menjadi normal, aktivitas di luar rumah yang tidak begitu penting menjadi tidak normal.

Jika vaksin atau obat untuk menangkal virus Corona tidak segera ditemukan, bisa dipastikan berbagai sektor bisnis akan kelimpungan. Bisnis restoran, bioskop, konser musik, festival, perayaan, pusat perbelanjaan, penerbangan, perhotelan, pariwisata, dan aktivitas lain yang mengundang kerumunan. Sebaliknya, sejumlah sektor bisnis akan mengalami booming, khususnya yang ‘“anything digital”, seperti pelatihan, pendidikan, konsultan, dan kesehatan yang berbasis online.

Aspek lain dari “new normal” yang mungkin juga berlaku adalah perubahan paradigma manusia, setidaknya pada tiga aspek berikut. 

Pertama, manusia memahami dunia virus dengan lebih baik. Publik menjadi lebih rasional, virus bukanlah “tentara Allah” (seperti kata Ustadz Somad), dan tidak bisa ditanggulangi dengan Doa Qunut (seperti ajakan Wapres Ma’ruf Amin). Wabah virus adalah peristiwa alam biasa, bukan fenomena spiritual atau supranatural (dunia ghaib) sebagaimana perspektif dogmatis agama. Juga bukan hasil rekayasa konspirasi negara tertentu untuk menguasai dunia.

Kedua, kapitalisme akan mengalami revisi dan reaktualisasi. Sistem kapitalistik murni yang menjadi “operating system” dunia manusia terbukti rapuh, mudah bangkrut. Kapitalisme bertekuk lutut, tak berdaya, juga tak berguna, menghadapi wabah virus. Egosentrisme kapitalistik  akan dipaksa berubah mengikuti semangat komunalisme pasca-Covid. Norma  gotong royong, saling membantu, sikap peduli pada sesama (caring society) akan menjadi new normal. Skema “Universal Basic Income”, sebagai moda untuk menjembatani jurang kaya-miskin mulai serius dipertimbangkan. Situasi kapitalistik “jahanam”—25 orang terkaya di dunia memiliki harta setara 4 miliar orang termiskin; di Indonesia 4 orang terkaya setara 100 juta warga termiskin—tidak boleh dibiarkan.

Ketiga, perubahan paradigma antroposentrisme menjadi ekosentrism (environmentalism). Dari manusia sebagai pusat segalanya, menjadi pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Paradigma antroposentris menyebabkan manusia serampangan mengeksploitasi lingkungan untuk memuaskan kerakusannya. Kesadaran dan tanggung jawab perlunya menjaga lingkungan ekosistem bumi perlu menjadi norma baru, bukan semata untuk lingkungan, tapi demi keberlangsungan kehidupan manusia sendiri.

“Pelajaran dari virus Corona” seperti terurai di atas, pada hakekatnya adalah refleksi atas kelambanan manusia untuk berbenah. Keterlambatan menyadari banyak kesalahan dalam menjalani kehidupan. Virus Corona membantu manusia mengakselerasi banyak hal bagaimana menjalani hidup yang lebih baik di masa depan (new normal), dan meninggalkan gaya hidup selama ini yang abnormal.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF