Beginikah Ciri Negara-Bangsa Bakal Hebat & Maju?
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 25 February 2020 11:30
Watyutink.com - Berkali-kali para petinggi negeri ini meyakinkan rakyatnya, bahwa Indonesia dalam tiga dekade mendatang bakal menjadi negara yang hebat. Setidaknya saat itu Indonesia bakal masuk dalam kategori sepuluh dan bahkan lima besar negara yang digdaya sosial-ekonominya. Akan harapan indah ini, tentu saja sebagai warga negara yang baik, saya turut berdoa dan mengamininya.  

Namun, sebanyak-banyaknya doa yang saya lakukan, hanya akan membantu ketika perjalanan bangsa ini menujukkan tanda-tanda yang menguatkan harapan bakal terwujudnya mimpi tersebut. Dengan kata lain, kualitas budaya kehidupan yang dibangun dan terbangun dalam kehidupan sehari-hari, harus memberi sinyal kuat akan terbangun dan hadirnya peradaban sebuah bangsa yang bakal maju.

Tapi sayangnya, sampai detik saya menulis artikel ini, yang dirasakan terjadi justru sebaliknya. Agak menyedihkan memang. Mimpinya menjadi bangsa yang hebat dan maju, tapi kualitas budaya dan peradabannya malah dipicu dan terpicu untuk bergerak dan berjalan mundur. Peradaban seperti itulah yang dirasakan kuat mewarnai kehidupan kita belakangan ini.

Keadaannya seperti berharap tumbuh pohon rindang dengan buah yang lebat, tapi anehnya malah ratusan akar pohon benalu dibiarkan tumbuh melingkar di seluruh batang. Pohon bukan bertambah kuat, kekar, sehat dan besar, tapi malah kurus kering kerontang dan sakit-sakitan. Seperti juga bak sebuah pesawat terbang yang menurut program dan tujuannya berangkat ke Surabaya, lha koq bergerak  terbang menuju arah kota Medan?!

Ironi lewat ilustrasi di atas dapat kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari. Ambil saja tentang heboh kolam renang yang bisa merawat sperma pria sehingga dapat menyerang liang vagina wanita yang berakibat membuahkan kehamilan. Luar biasa...inikah tanda-tanda sebuah masyarakat bangsa yang bakal maju dan menjadi hebat dalam tiga dekade mendatang? Pasalnya karena yang mengatakan hal yang lucu ini seorang pejabat pada institusi publik yang terpandang.

Belum lagi ribut-ribut masalah larangan ini itu seputar rumah ibadah. Hanya karena beda agama, mayoritas penduduk di suatu daerah yang beragama A, melarang dibangunnya bahkan hanya sekadar direnovasinya rumah ibadah dari kelompok minoritas pemeluk agama B. Beda agama ribut. Beda cara pelaksanaan ritual keagamaan ribut. Satu agama beda mashab ribut. Beramal beda cara ribut. Dan masih banyak lagi yang ribut seputar haram-halal, kafir-non kafir, dosa-pahala, dan seterusnya. Apa yang begini ini ciri-ciri dari masyarakat sebuah bangsa yang bakal menjadi hebat dan digdaya?

Soal Pancasila pun sampai hari ini belum juga selesai diotak-atik. Lembaganyalah, salamnyalah, ahlinyalah.., sementara kehidupan masyarakat yang berpandangan hidup Pancasila, sama sekali tak terasakan hadir dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan secara ironi banyak pengamat yang malah menilai kehidupan masyarakat di New Zealand, misalnya, malah dirasakan lebih Pancasilais. 

Berdasarkan amatan, di sana, tidak terjadi sogok menyogok atau korupsi yang begitu vulgar dan mewabah. Kerukunan kehidupan beragama terjamin. Budaya ke-New Zealand-an terjaga baik. Memelihara lingkungan terjaga. Kesehatan fisik dan bhatin rakyatnya terawat baik. Lebih memilih kreatif dari pada reaktif. Lebih memilih Produktif dari pada provokatif. Lebih memilih makanan yang sehat dari pada makan teman dan saudara sendiri, dan seterusnya.  

Betapa kasihannya Bung Karno bila masyarakat Internasional membedah isi perut kualitas budaya kehidupan kita hari ini. Mereka bisa mengatakan...oh begini sebuah bangsa ber-Pancasila ajaran nenek moyang mereka yang digali kembali oleh Bung Karno dan dijadikan sebagai pandangan hidup bangsanya? Realitanya? Kita nyaris sempurna menjadi sebuah bangsa yang korup dan sangat gemar meributkan apa saja. 

Beda pilihan ribut. Beda pendapat ribut. Tapi beda pendapatan, tenang-tenang saja. Banjir datang ribut...dan hebatnya tetap saja banjir selalu datang. Pohon baik-baik meneduhkan ibu kota dibabat, hanya untuk memuliakan dan memuluskan balap mobil yang kelak hanya terjadi paling setahun sekali. Ancaman virus corona datang mengancam, hanya cukup diusir dengan doa. Sementara doa tanpa usaha, menurut para ulama adalah sia-sia. Beginikah ciri-ciri dari masyarakat dan pemimpin sebuah bangsa yang konon kelak bakal hebat dan digdaya?

Dan anehnya lagi, menolak budaya barat, juga budaya aseng-asong, tapi budaya arab mewabah kita bangga. Kerudung yang indah dan yang dulu dikenakan para muslimah sehingga kental terasa ke-Indonesiaannya, sekarang nyaris punah. Untung saja Bu Shinta dan Yenny Wahid masih berkekanan dan konsisten mengenakannya. Melafal ayat suci lewat warna dialek kedaerahan ‘diharamkan’. Semua harus persis seperti orang Arab melafalkan dalam bahasa keseharian mereka. Keragaman digiring ke arah uniformitas. Atas nama beda keyakinan, sikap toleransi terpinggirkan oleh intoleransi yang kian hari kian meninggi. Dan masih banyak lagi.

Nah, ketika sebuah bangsa meninggalkan budaya dan pandangan hidup bangsanya sendiri, saya orang pertama yang lantang mengatakan: Tak mungkin bangsa yang demikian itu menjadi bangsa yang besar, digdaya, berketahanan dan berkelanjutan! Seperti berulang kali saya tegaskan, karena hal itu sama saja membangun sebuah istana di atas pasir tanpa pondasi. Dan ketika badai datang menghampiri, niscaya dalam sekejap akan luluh lantak berantakan diterpa badai.

Sebuah bangsa yang bakal besar dan digdaya ada ciri-ciri minimumnya. Di antaranya memiliki kejelasan tujuan dan pijakan budaya yang pasti. Masyarakat dan pemimpinnya, tak gemar korupsi. Pemimpinnya visioner dan masyarakatnya dirangsang untuk kreatif, inovatif, produktif. Masyarakat diarahkan untuk hidup mandiri, bangga terhadap apa yang menjadi milik sendiri, percaya diri, dan bukan yang tidak tau diri... apalagi tak punya harga diri! Dan masih banyak lagi.

Nah, apakah persyaratan minimal di atas telah kita rasakan hidup dan tumbuh berkembang dalam kehidupan sehari-hari masyarakat bangsa kita? Jawabannya ada dalam diri Anda masing-masing. Ajakan awal yang minimal perlu dilakukan adalah kerja untuk  memperkuat, memperlebar dan memperluas penguatan civil society building yang diarahkan untuk dapat memimpin diri sendiri mewujudkan persyaratan minimal yang dibutuhkan! 

Jangan serahkan nasib dan jalannya Republik ini ke tangan para pemimpin dan institusi kenegaraan yang tak memahami perlunya memenuhi persayaratan minimum sebagaimana terjabar di atas. Karena hanya lewat jalan realita inilah Indonesia kelak bakal digdaya dan benar-benar maju. Tinggal lagi masalahnya; mau atau tidak- berani atau tidak? Minimal berani menolak berbagai kebohongan!  

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)