Bawang Putih Menguji Ketahanan Pangan Indonesia
Anthony Budiawan
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS)
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 11 February 2020 10:00
Watyutink.com - Sektor pertanian khususnya produk hortikultura Indonesia menghadapi banyak tantangan pada awal 2020. Harga cabai rawit di Jakarta melambung, sempat menembus Rp100 ribu per kg. Kenaikan harga cabai yang tinggi membuat Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian menggelar operasi pasar pada Jumat lalu (7/2/2020). Harga pun mulai berangsur turun.

Seiring dengan kenaikan cabai rawit, harga bawang putih juga bergejolak naik tajam, menembus Rp 70 ribu per kg, naik sekitar dua kali lipat dibandingkan harga pada awal tahun. Yang mengkhwatirkan, harga ini masih bisa naik. Bahkan ada yang memperkirakan harga bawang putih bisa mengikuti harga cabai, menembus Rp 100 ribu per kg. Kalau ini terjadi, apakah BKP akan menggelar operasi pasar lagi, seperti yang dilakukan pada komoditas cabai?

Kemungkinan keberhasilan menggelar operasi pasar bawang putih sangat kecil, karena Indonesia tidak mempunyai stok bawang putih yang berasal dari budidaya di dalam negeri. Kebutuhan konsumsi bawang putih Indonesia yang mencapai lebih dari 550.000 ton sebagian besar dipenuhi dari impor, terutama dari China yang mencapai sekitar 90 persen. Sisanya dari negara lain, seperti India.

Kenaikan harga bawang putih akhir-akhir ini menunjukkan stok nasional sudah menipis. Menurut info, hanya mampu bertahan sampai akhir bulan ini. Jumlahnya diperkirakan di bawah 50.000 ton, padahal kebutuhan konsumsi mencapai 47.000 ton per bulan. Kalau data ini benar, maka operasi pasar tidak akan efektif, seperti menggarami laut.

Untuk menstabilkan harga melalui operasi pasar, Indonesia harus menambah stok dengan mengimpor komoditas tersebut. Tanpa impor, mustahil dapat dilakukan operasi pasar. Harga pun mustahil bisa turun, karena produksi bawang putih lokal belum mampu memenuhi kebutuhan. Kalau pun ada, sebagian besar digunakan untuk bibit. Salah satunya untuk program bibit bantuan pemerintah yang diberikan kepada petani.

Hasil penanaman bawang putih dari bantuan pemerintah ini pada prinsipnya harus dijadikan bibit lagi untuk penanaman berikutnya. Yang masih menjadi kendala, hasil penanaman ini belum sesuai harapan. Oleh karena itu, bawang putih lokal sulit ditemui di pasar, baik tradisional maupun modern (supermarket).

Indonesia mau tidak mau harus mempercepat impor bawang putih. Masalahnya, China sebagai negara eksportir bawang putih terbesar dunia dan pemasok terbesar ke Tanah Air sedang dilanda musibah virus Corona yang sangat memprihatinkan. Banyak pihak menganjurkan untuk menunda impor dari China. Tetapi, kalau tidak impor dari China, mau impor dari negara mana?

China adalah produsen bawang putih terbesar dunia, dengan total produksi sekitar 25 juta ton per tahun, menguasai 78 persen produksi dunia, jauh melampaui kemampuan produsen terbesar kedua, yakni India yang hanya mampu produksi kurang dari 1,5 juta ton per tahun. Ranking ketiga dunia hanya mampu memproduksi di bawah 400 ribu ton per tahun

Dengan demikian, tidak ada negara lain yang mampu menggantikan posisi China untuk memenuhi supply bawang putih ke Indonesia. Jadi, hampir dapat dipastikan impor bawang putih dari China akan terus berlanjut, terlepas dari musibah yang sedang melanda China. Virus Corona sepertinya tidak mampu menghentikan impor bawang putih China ke Indonesia.

Keterlambatan membuka kran impor akan memberi dampak serius. Bukan tidak mungkin harga bawang putih akan menyusul harga cabai seperti yang diperkirakan banyak pihak, melampaui Rp 100 ribu per kg. Hal ini merupakan konsekuensi atas ketergantungan bawang putih Indonesia dari impor, khususnya dari China yang menjadi pemasok terbesar.

Mari kita berandai-andai, bagaimana jadinya dengan ketersediaan serta harga bawang putih di Indonesia kalau virus Corona merebaknya di Jinxiang, pusat perdagangan bawang putih China dan dunia?

Oleh karena itu, program food security bawang putih harus lebih diperkuat dengan melakukan penanaman lokal secara lebih agresif. Kebijakan wajib tanam 5 persen bagi para importir sudah pada jalur yang benar. Untuk mempercepat, mungkin wajib tanam dapat ditingkatkan menjadi 10 persen.

Sasaran food security bawang putih setidak-tidaknya bisa memenuhi 50 persen total kebutuhan konsumsi nasional dari produksi dalam negeri. Agar permasalahan yang melanda negara eksportir di luar negeri tidak menjadi musibah bagi Indonesia, mari kita doakan semoga musibah virus Corona di China dan tempat lain dapat segera berakhir.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Tauhid Ahmad

Executive Director INDEF

Agus Herta Sumarto

Peneliti INDEF

Deniey Adi Purwanto

Peneliti INDEF