Bangsa Kekanak-kanakan
Al-Zastrouw
Dosen Pasca Sarjana Unusia, Penggiat seni tradisi dan budaya Nusantara
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com) 28 November 2019 12:25
Watyutink.com - Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) kekanak-kanakan merupakan turunan dari kata anak-anak, yang berarti orang yang belum dewasa. Kekanak-kanakan adalah kata sifat yang berarti bertingkah laku seperti kanak-kanak. Dari pengertian KBBI bisa dikatakan, kekanak-kanakan adalah orang dewasa yang memiliki atau sikap seperti anak-anak.

Secara psikologis ada beberapa ciri dari anak-anak, di antaranya, tidak bisa bertanggung jawab, egois, cenderung apatis, tidak mau mengalah, sensitif (mudah tersinggung) dan suka mengeluh, tidak mandiri (selalu bergantung pada orang lain), tidak punya pendirian. Pendeknya anak-anak adalah sosok yang masih labil, belum bisa menggunakan akal dan pikirannya secara proporsional dan tidak memiliki sikap bijak (wisdom). Akibatnya, dia tidak bisa membedakan mana yang penting dan tidak penting. Kekanak-kanakkan adalah orang dewasa yang belum bisa menggunakan akalnya secara proporsional sehingga kelakuannya menjadi seperti anak-anak.

Melihat pengertian dan ciri-ciri kekanak-kanakan dan mengaitkan dengan situasi yang terjadi saat ini, bisa dikatakan bangsa ini adalah bangsa yang kekanak-kanakan. Hal ini ditandai dengan tiga ciri utama; pertama, maraknya sikap egois dan tidak mau mengalah (mau menang sendiri). Pelarangan pendirian tempat ibadah, pembubaran acara ritual tradisional, meningkatnya tuntutan pembubaran terhadap kelompok tertentu, munculnya perasaan superior baik sebagai mayoritas maupun elite sehingga menuntut diberlakukan secara lebih dengan privelese tinggi dan lain sebagainya. Sikap yang sama juga tercermin dalam praktik politik; kompetisi yang mengabaikan etika dan moral, menggunakan segala cara untuk merebut kekuasaan, bahkan melalui fitnah, caci maki dan persekusi demi kemenangan golongan dan kelompoknya. Semua ini merupakan cerminan dari sikap kekanak-kanakan tersebut.

Bangsa yang dewasa tidak akan melakukan semua itu. Bangsa yang dewasa akan bisa memahami kebutuhan sesamanya termasuk kebutuhan melaksanakan ibadah sesuai keyakinannya. Tidak akan melarang orang lain beribadah di luar tempat ibadah, sementara dirinya sendiri melakukan ibadah di sembarang tempat. Bangsa yang dewasa tidak akan menggunakan agama dan keyakinannya untuk melarang dan mempersekusi keyakinan dan kepercayaan orang lain yang dilindungi undang-undang. Mereka akan menggunakan kearifan untuk menyikapi berbagai perbedaan tersebut dan menggunaka etika dalam kompetisi politik. 

Ciri kedua, meningkatnya sensitivitas yang berlebihan sehingga menafikan akal sehat. Hanya gara-gara orang keselip lidah bisa dianggap melecehkan dan menista agama, upaya menegakkan hukum atas ulama yang melakukan pelanggaran dianggap mengkriminalisasi ulama, hanya karena melarang berkibarnya bendera ormas dianggap merusak dan menista kalimat tahuid. Karena sensitivitas yang terlalu tinggi maka persoalan yang sederhana itu telah menggerus emosi massa sehingga mendatangkan gelombang kegaduhan seperti anak kecil berebut mainan. Padahal bagi orang yang sudah dewasa persoalan-persoalan tersebut bisa diselesaikan melalui dialog dengan nalar yang jernih dan sikap yang bijak.

Ciri ketiga bangsa kekana-kanakan adalah hilangnya kemampuan untuk menentukan mana yang penting/pokok karena memiliki dampak luas dan panjang, dan mana yang tidak penting karena hanya persoalan remeh temeh dan sepele. Betapa banyak bangsa ini menghabiskan tenaga, pikiran dan anggaran hanya untuk membahas masalah usang issu khilafah. Sejak bangsa ini bersepakat menjadikan NKRI sebagai bentuk negara dan Pancasila sebagai dasarnya, maka mestinya sudah bisa bergerak maju untuk melaksanakan agenda mencerdaskan kehidupan bangsa dan menciptakan kemakmuran yang adil dan beradab. Karena inilah persoalan yang lebih besar dan lebih penting bagi bangsa ini. Namun karena nalar kekanak-kanakan yang terbelenggu imajinasi usang khilafah, akhirnya bangsa ini malah berjalan mundur memperdebatkan isu khilafah. 

Selanjutnya, berapa banyak waktu bangsa ini tersita untuk berdebat kasus Habib Rizieq, Ahok, penyataan Agnes Monica, hukum catur, ucapan Natal dan seterusnya yang terus berulang setiap tahun. Bangsa ini lebih sibuk dan bersemangat berdebat soal Reuni 212 daripada nasib petani yang kehilangan tanah, atau inovasi teknologi anak-anak millennia apalagi berdebat soal strategi kebudayaan menyongsong revolusi industri 4.0. Seolah-olah bangsa ini akan hancur, akidah umat akan luntur dan agama akan rusak hanya karena Habib Rizieq, Ahok, Agnes, catur, ucapan Natal dan sejenisnya, sehingga bangsa ini harus mempertaruhkan segalanya untuk memperdebatkan persoalan tersebut. Akibat sibuk berdebat soal-soal seperti ini, bangsa ini lupa memperbincangkan agenda kebangsaan yang lebih penting dan mendasar. 

Melihat semua fenomena ini, terbayang bagaimana sibuknya anak-anak kecil saling sikut dan saling dorong untuk berebut layang-layang putus hingga lupa belajar, karena beranggapan bisa mendapatkan layang-layang putus adalah simbol yang lebih prestisius daripada ilmu pengetahuan. Terbayang juga betapa serunya anak-anak berantem hanya karena berebut makanan dan tempat bermain hingga melupakan tanah lapang yang ada dan makanan yang banyak tersedia. 

Jika semua fenomena ini bisa dijadikan sebagai bahan pelajaran untuk membangun proses penyadaran menuju pendewasaan, maka bangsa ini akan bisa bertahan. Tapi sebaliknya jika bangsa ini masih terus berdebat urusan remeh temeh, berebut eksis dengan menginjak yang lain, memiliki sensitivitas emosional yang berlebihan, mementingkan sesuatu yang sebenarnya tidak penting, maka sesungguhnya bangsa ini adalah bangsa yang kekanak-kanakan yang tidak akan pernah menjadi dewasa. Dan bangsa yang kekanak-kanakan tidak akan bisa bertahan menghadapi persaingan yang makin ketat.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir