Bang Anies, Belajar Jadi Gubernur Betawi
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
20 October 2017 15:40
Andai kemenangan Anies-Sandi dalam Pilkada Pilgub DKI yang lalu tidak menggunakan isu politik penistaan agama seputar Surah Al Maidah yang menyebabkan Ahok harus meringkuk di penjara, seperti apa reaksi masyarakat menanggapi pidato pertama Anies sebagai Gubernur? Mungkin penggunaan kata ‘pribumi’ tidak akan seheboh sekarang ini. Bisa jadi malah disambut tepuk tangan rakyat yang menyaksikan langsung di Balai Kota maupun yang mendengar dari rumah. Masyarakat Jakarta tidak akan terbelah dua menjadi: Ahok Yes, Anies No! atau sebaliknya, Anies Yes, Ahok No!

Terbukti, penggunaan kata 'pribumi'  oleh Jokowi, Megawati dan entah siapa lagi, tidak begitu dipersoalkan. Mengapa? Karena pada saat Jokowi, misalnya, yang menyuarakan kata ‘pribumi’, dalam benak masyarakat yang tergambar di balik kata ‘pribumi’ adalah rakyat kebanyakan. Seakan masyarakat sudah memahami apa maksud terminologi yang diucapkan Jokowi maupun Megawati.

Mayoritas warga bangsa yang sudah jenuh dengan ulah para konglomerat serakah yang hampir semuanya berasal dari hanya satu ras dalam komunitas bangsa ini, malah menyambut dengan penuh harapan. Kata ‘pribumi’ malah menjadi seakan mewakili komunitas kaum Marhaen, Nahdliyin,  dan sejenisnya, yang masih harus berjuang untuk dapat hidup layak di negeri ini. Karena diucapkan oleh Jokowi yang kemenangannya pada Pemilu Pilpres 2014 melalui proses demokrasi yang dinilai relatif berjalan baik dan sehat, maka kata 'pribumi' versi Jokowi dianggap meluncur tanpa pretensi.

Diterima penuh semangat oleh mayoritas rakyat yang setiap hari dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka hanyalah kumpulan dari baboe dan koeli-nya para konglomerat serakah. Hanya bedanya, ada koeli yang telanjang dada dan koeli yang berdasi! Tapi pangkatnya sama, ya tetap KOELI!

Tanpa dibumbui muatan rasialisme, kita bisa dengan lantang meneriakkan agar pemerintah pusat melihat realita kepincangan ekonomi antara rakyat kebanyakan dan sekelompok kecil keluarga dan kroni konglomerat serakah yang hampir semua hanya berasal dari satu ras. Bukan untuk membenci rasnya. Justru menjaga jangan sampai gara-gara ulah segelintir orang (konglomerat serakah) warga keturunan, seluruh masyarakat keturunan dari ras tersebut yang sudah berbaur, menyatu dan patriotik sebagai genuine Indonesia, malah yang menelan getah pahitnya. Padahal konglo serakah orangnya hanya itu-itu saja. Segelintir orang tapi menguasai dunia keuangan dan perdagangan hampir seluruhnya, minimal 70 persen berada dalam kontrol mereka. 

Bayangkan, satu orang dari mereka saja menguasai hampir semua jenis usaha. Dari mulai bisnis retail, kebutuhan orang hidup dalam seluruh dimensi keperluannya, sampai dengan bisnis kebutuhan orang mati pun dilahap semua. Padahal penumpukan perputaran uang dan usaha yang hanya  di tangan sekelompok orang dari satu ras saja, merupakan ancaman bahaya bagi persatuan Indonesia dalam jangka panjang. Cepat atau lambat, amok sosial pasti terjadi!

Kepada para pemimpin yang berkuasa hal ini sering saya sampaikan. Terakhir kepada SBY-Boediono pada saat masih menjabat. Sayang warning saya ini ditanggapi seakan saya menawarkan penanganan masalah sosial yang berbau rasialis. Padahal saya ajukan dalam kerangka perimbangan kekuatan yang jauh dari semangat rasialisme. Tujuannya menciptakan equilibrium kekuatan antar ras, golongan dan suku, agar tercipta tujuan Indonesia untuk semua dan semua untuk Indonesia!

Kembali pada Bang Anies, yang sabar dan buktikan saja lewat kerja bahwa Anda bukan seorang rasialis tapi seorang pemimpin yang ingin melihat rakyat kecil dapat juga mengenyam nikmat kemerdekaan. Jangan banyak dipidatokan, malah dikira kampanye untuk hajatan 2019. Sementara ini, ikuti saja kata Jokowi: Kerja..kerja..kerja…dengan misi dan visi yang lebih jelas!

Kepada masyarakat Betawi, berilah waktu pada Gubernur dan Wakil Gubenur kita yang baru untuk bisa tenang bekerja membuktikan dirinya. Namanya juga baru belajar jadi Gubernur. Nobody is perfect! Tapi dengan niat, pikiran,  dan hati yang bersih, mendekati perfek pasti bisa!

Welcome on board Mr. Governor..!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF