Balada Para Gadungan
Al-Zastrouw
Budayawan, Dosen Pasca Sarjana UNSIA Jakarta, Kepala UPT Makara Art Center UI Jakarta
berita
Berpikir Merdeka
11 May 2018 10:00
Tak pernah sekolah dokter bikin resep dan diagnosis penyakit namanya dokter gadungan, meskipun dia sudah membaca buku kedokteran secara langsung. Dokter gadungan biasanya lebih agresif dalam menawarkan diri dengan tampilan yang lebih menarik.

Tak pernah belajar agama terus bikin fatwa dan pendapat agama namanya ulama gadungan, meskipun dia sudah merasa membaca sumber aslinya, kitab suci terjemahan. Tanpa kedalaman ilmu, kepekaan hati kearifan. Sehingga tuna akhlak dan miskin adab.

Ulama gadungan ini biasanya juga lebih berani mengobral ayat tanpa mendalami ilmu, ceramahnya lebih agitatif dan provokatif seperti pemain teater. Bahkan berani mengusir orang dari Masjid. Menuding dan menelanjangi keimanan seseorang, seolah dirinya yang paling benar, paling suci dan paling berani memperjuangkan Islam. Tindakan Nur Sugi yang terlihat di Youtube melebihi keberanian seorang ulama besar yang selalu mengedepankan ilmu dan sikap tawadlu' dalam memberikan kritik.

Ada juga yang berani mengukur kedalaman iman dan ilmu agama seseorang hanya dengan ukuran menolak politisasi masjid. Orang yang menolak politisasi masjid dianggap tidak mengerti Islam dan pengetahuan sejarah Islamnya rendah. Pernyataan seorang jenderal ini melebihi fatwa seorang ulama yang alim di bidang ilmu agama.

Apa yang terjadi menunjukkan, akhir-akhir ini muncul berbagai jenis gadungan yang bergentayangan memenuhi panggung kehidupan; travel gadungan, intelektual gadungan, bahkan ulama gadungan yang menyodorkan janji dan berbagai tawaran yang menarik dan meyakinkan dengan retorika dan tampilan yang menggiurkan . 

Gadungan akan tetap gadungan sekalipun ditutup dengan barbagai jabatan dan bersembunyi di balik simbol-simbol agama dan dibungkus dengan ayat-ayat suci. Itulah sebabnya ada orang yang berani menyatakan agar umat Islam jangan mau ditipu pake ayat-ayat kitab suci. Ucapan ini muncul karena dia melihat para gadungan ini pandai sekali menggunakan ayat dari kitab suci untuk menipu dan mengelabuhi ummat. 

Bagi orang-orang yang arif dan memiliki kedalaman spiritual, ucapan tersebut lebih dilihat sebagai bagian dari amar makruf nahi mungkar. Peringatan agar seluruh ummat dan bangsa mau bermuhasabah, bersikap waspada, dan hati-hati dalam menanggapi setiap pernyataan, karena tidak semua pernyataan baik yang menggunakan ayat berangkat dari niat dan tujuan baik.

Tapi bagi para pecundang dan gadungan, peringatan tersebut dijadikan bara api untuk membakar emosi massa, mengobarkan api permusuhan pada siapapun yang berbeda atas nama agama. Ini terjadi karena pernyataan tersebut sangat berbahaya bagi para gadungan. Seluruh agenda dan kedok mereka akan mudah terungkap jika rakyat bersikap kritis padanya. 

Untuk itu mereka memelintir berbagai pernyataan dan pemikiran. Sikap kritis pada kelakuan seseorang yang sering bertopeng ayat untuk mewujudkan kepentingan politik diri sendiri dan kelompoknya, dianggap mengkritik dan melecehkan ayat, sehingga dengan mudah dituduh menistakan agama. Akibatnya para gadungan terus melaksanakan agenda politiknya sendiri secara aman dan nyaman di balik selubung ayat.

Perlu hati-hati dan waspada terhadap para gadungan seperti ini. Karena pada dasarnya tak ada gadungan yang punya niat untuk memperjuangkan kepentingan ummat, kecuali untuk kepentingannya sendiri. Tabik.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Budi Arie Setiadi

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Indonesia

Edgar Ekaputra

Pakar Industri Keuangan dan Ekonomi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI

Lia KIan, Dr.

Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila