Balada Kakek Tua Bernama: INDONESIA
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
14 August 2017 00:00
Manusia dengan umur 72 tahun  sudah layak dipanggil dengan sebutan kakek atau eyang.  Wajarnya, ia sudah matang, lebih arif, dan lebih  bijak. Tutur kata dan perilakunya cenderung dihormati dan dijadikan panutan oleh para anak dan cucu.

Bagaimana dengan sang Kakek yang bernama Indonesia? Memasuki usia  ke-72 tahun, semakin matang, arif, dan bijak kah ia? Bagaimana pula dengan anak cucunya?  Semakin hormat dan menjadikan sang ‘ kakek’ sebagai panutan kah?

Menjawab pertanyaan di atas, kok terasa sangat berat. Karena gambaran  bagaimana seharusnya pribadi dan perilaku seorang kakek,  tak ada satu pun yang terwakili. Yang ada malah  berbanding terbalik! Sang kakek yang bernama Indonesia tidak kian arif dan bijak, tidak kian matang, tapi justru kian menjadi pemberang dan kekanak-kanakan.  Tidak semakin bijak terhadap anak dan cucu. Sering kali malah  membeda-bedakan dan membiarkan mereka  saling berhadapan untuk saling membenci dan baku hantam. Tragisnya, sang anak dan cucu banyak yang lupa siapa sejatinya sang Kakek. Bahkan, namanya pun sering  terlupakan.

Baca Juga

Pasalnya, sang kakek telah banyak berubah. Kepribadian dan budaya hidup kesehariannya jauh dari harapan sebagaimana cita-cita saat kelahirannya di tahun ’45. Tampilan dan wajah kesehariannya kian sulit untuk dikenali sebagai sang Kakek yang bernama Indonesia. Kalau tidak tampil  kebarat-baratan yang serba tanggung, tampil keArab-araban, atau Oriental sentris. Wajah ramah penuh senyum yang dulu  menjadi ciri khasnya, belakangan kian terasa sirna. Kakek yang bernama Indonesia ini, kondisi lahir maupun batinnya, terasa sekali menyiratkan dirinya tengah mengidap sesuatu  penyakit  yang cukup serius.

Padahal saat ia lahir, begitu sehat dan  merupakan bayi yang penuh harapan. Ia lahir dari rahim sosok  seorang  ibu (Pertiwi) yang patriotik, pejuang  dengan tubuh, pikiran, dan jiwa yang sangat sehat. Sayangnya, dalam beberapa dekade sang bayi sempat dibesarkan bukan lewat ASI (Air Susu Ibu). Ia dicekoki ‘susu’ impor dan berbagai makanan tak bergizi. Bahkan sering kali mengandung formalin yang mematikan. Para ‘dokter‘ yang seharusnya menjaga kesehatan sejak bayi, balita, hingga remaja dan dewasa, sering lupa memberi suntikan penyehat tubuh. Walhasil dalam pertumbuhannya, ia menjadi pemuda yang gemuk karena mengidap beri-beri , miskin inovasi dan kreasi karena vitamin penguat otak lupa diberikan.

Bagaimana sang kakek sekarang? Semakin lucu dan gemar berbicara yang ringan-ringan saja. Seperti hidup tanpa masalah karena dirinya telah menjadi masalah itu sendiri!

Balada kakek tua yang bernama Indonesia ini hanya sebuah nyanyian hati yang merindukan kejayaan Indonesia yang bebas dari pembodohan, pemiskinan,  dan  cengkraman para koruptor dan konglomerat hitam!

Lewat suara parauku…kuucapkan; Dirgahayu Indonesiaku. Rahayu selalu hendaknya. Amin.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Bambang Budiono MS

Pengajar Antropologi Politik Fisip Unair

FOLLOW US

Daerah Perbatasan Harus Outward Looking             Abu Bakar Ba’asyir Digoreng dalam Bungkus Politik             Pemerintah Belum Bisa Disalahkan             Pemerintah Seharusnya Tidak Perlu Terburu-buru             Kapasitas Sumber Daya Lokal yang Menjadi Hambatan             Konglomerasi Media dan Pilpres             Kuatnya Arus Golput: Intropeksi Bagi Parpol             Golput Bagian dari Dinamika Politik             Parpol ke Arah Oligharkhis atau Perubahan?             Melawan Pembajak Demokrasi