Bahaya Laten Investasi
Gigin Praginanto
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
berita
Berpikir Merdeka
18 July 2019 10:00
Watyutink.com - Para pedagang kakilima dan kecil yang hanya berpendidikan SD sekalipun paham betul bahwa investasi bisa menjadi mesin pembunuh tak kenal ampun. Ini tentu saja berdasarkan kenyataan bahwa demikian banyak rekan seprofesi tergusur dari lapak mereka karena ada tuan besar mau berinvestasi. Kalau di perkotaan investasi yang disukai antara lain perhotelan, perkantoran, dan pusat perbelanjaan.

Setelah tergusur, bila tak ingin menganggur, adalah mencari lapak baru yang aman meski penjualan merosot atau nekat main kucing-kucingan dengan Satpol PP. Orang-orang nekat ini tentu selalu dihantui penyitaan bahkan penghacuran barang dagangan mereka oleh para petugas penertiban kota.

Agar tampak lebih manusiawi, ada juga kepala darah yang membangun kawasan khusus untuk pedagang kakilima. Ini mengingatkan pada perlakuan pemerintah Amerika terhadap orang Indian. Setelah dikalahkan dalam perang, kaum pribumi Amerika ini dipaksa tinggal di tempat penampungan khusus. Pemerintah Amerika tak perduli bahwa di tempat barunya mereka bakal menderita secara turun-temurun.

Para mahasiswa junior administrasi bisnis tentu juga paham betul bahwa, selain bisa menjadi predator, investasi juga bersifat kanibal. Mereka tentu memperoleh pelajaran dari para dosen bahwa di dunia bisnis, perusahaan dengan kemampuan investasi lebih unggul biasa mencaplok para pesaingnya melalui merjer dan akuisisi. Lalu, demi efisiensi dan peningkatan daya saing, PHK dilakukan.

Ada lagi yang lebih runyam. Yaitu membeli perusahaan 'pengganggu' untuk dibunuh begitu saja demi penguasaan pasar.

Para insinyur perangkat lunak maupun keras tentu juga paham bahwa investasi makin sulit dipisahkan dari PHK massal. Ini karena investasi kian akrab dengan otomatisasi dan robotisasi. Ketergantungan pada manusia pun terus melemah.

Situasi ini membuat para pemilik modal makin kaya karena penurunan biaya produksi, distribusi dan administrasi. Situasi ini mirip dengan revolusi industri di Inggris pada tahun 1760, di mana penemuan mesin uap menyebabkan penumpukan modal secara besar-besaran ke tangan penguasa mesin produksi.

Bedanya dengan zaman sekarang, teknologi informasi berperan strategis dalam penumpukan kekayaan di tangan para pemilik modal yang unggul dalam berinvestasi dan berinovasi di bidang otomatisasi dan robotisasi. Kenyataan ini juga mempermudah mereka menindas para pekerjanya yang posisinya dipereteli oleh mesin.

Presiden Sukarno sesungguhnya sudah lama mengkhawatirkan perkembangan yang merunyamkan para pekerja ini. Inilah mengapa dia pernah berulang kali mengingatkan perlunya memerangi "exploitation de l’homme par l’homme (penindasan manusia oleh manusia)."

Kaum neo kolonialis, menurut Soekarno, tak ragu mengirimkan serdadu untuk memperluas koloninya. Cukup dengan menebar modal untuk diinvestasikan dalam bentuk mesin-mesin modern sebagai sarana eksploitasi terhadap kekayaan alam negara-ngara target.

Kalau hidup lagi Sukarno mungkin shock menyaksikan kenyataan bahwa mesin-mesin investasi yang ditanamkan oleh para penguasa modal di zaman ini juga bisa dikendalikan dari kamar mereka. Seperti pesawat-pesawat drone pembunuh milik angkatan udara Amerika di Afghanistan yang dikendalikan oleh para pilot dari ruang kerja masing-masing nun jauh di Pentagon.

Semua ini menggambarkan bahwa kita boleh saja percaya bahwa investasi dibutuhkan untuk menciptakan lapangan kerja. Tapi harus waspada pada bahaya laten investasi, yang justru bisa membunuh lapangan kerja.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar             GBHN Isu Elite Politik Saja             Kepentingan Politik Lebih Menonjol