Bahaya Investasi Portofolio Tutup Defisit
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
12 March 2019 14:30
Pasca krisis finansial 1998, negara-negara yang babak belur dihantam badai moneter bangkit, tak terkecuali Indonesia.  Kebangkitan itu diproklamirkan dalam wujud surplus neraca transaksi berjalan, berkembalikan dengan kondisi sebelum krisis dimana banyak negara  berdamai dengan defisit neraca transaksi berjalan.

Begitu ada peluang dan sumber daya yang ada mendukung setiap negara berlomba untuk mencetak surplus neraca transaksi berjalan. Upaya ini menghasilkan jumlah cadangan internasional yang meningkat, termasuk Indonesia. Setelah krisis, surplus neraca transaksi berjalan digunakan tidak hanya untuk menjamin nilai tukar mata uang stabil, tetapi juga untuk menutup defisit neraca anggaran pemerintah. Ini salah satu transformasi yang dialami Indonesia pascakrisis.

Dinamika tersebut membawa perubahan juga pada perhitungan dan metode penanggulangan defisit pada tiga neraca utama yang menjadi penjabaran dari neraca pembayaran, yaitu neraca anggaran, neraca transaksi berjalan, dan neraca modal agar sesuai  dengan pola baru pemanfaatan saldo neraca transaksi berjalan.

Sebelum krisis, perhitungan output nasional dari sisi pengeluaran adalah konsumsi ditambah investasi, belanja pemerintah, dan selisih ekspor dan impor. Sementara di sisi penerimaan, penghitungan output nasional adalah konsumsi ditambah tabungan nasional dan pajak.

Dari persamaan tersebut maka ada tiga sumber defisit yakni neraca modal (selisih tabungan dan investasi), anggaran pemerintah, dan perdagangan internasional. Jika terjadi defisit di salah satunya  atau tiga-tiganya maka harus ditambal dengan berbagai cara seperti  memotong anggaran, menerbitkan obligasi, berutang, atau menjual aset negara.

Sebelum krisis, kiat menutup defisit adalah dengan menarik pinjaman luar negeri  yang berasal dari negara sahabat, lembaga internasional atau swasta melalui pasar modal internasional. Selain itu, dengan menarik investasi baik langsung maupun tidak langsung.

Investasi langsung merupakan investasi produktif dimana uangnya digunakan untuk membangun pabrik, membeli bahan baku, atau menyerap material lokal. Sementara investasi tidak langsung ditanamkan di portofolio seperti saham, obligasi, dan lain-lain yang membuat arus masuk modal internasional menjadi  besar dan menutup sebagian defisit.

Belakangan cara menutup defisit lebih memperhitungkan sisi pendapatan. Ini berarti defisit pada salah satu neraca akan diupayakan ditutup dengan menggunakan surplus dari neraca lain. Misalnya, defisit APBN akan ditutup dengan surplus dari neraca transaksi berjalan. Neraca ini menjadi andalan untuk menutup defisit di tempat lain sehingga ia diupayakan agar tetap surplus.

Menjaga agar neraca transaksi berjalan tetap surplus merupakan hal positif, sepanjang sumbernya adalah selisih output dari investasi tetap. Namun yang terjadi  sumber surplus neraca transaksi berjalan adalah uang panas yang berasal dari investasi portofolio jangka pendek.

Kondisi ini membahayakan jika surplus neraca transaksi berjalan yang digunakan untuk menambal defisit anggaran berasal dari investasi portofolio asing yang umumnya bersifat jangka pendek, mudah kabur kapan saja, menghindari risiko atau mencari rente yang lebih besar di luar Indonesia. Rumor yang belum jelas kebenarannya saja sudah bisa membuat dana tersebut pergi sehingga wajar jika dijuluki sebagai hot money.

Jika satu saat anggaran mengalami defisit besar dan uang panas yang diparkir di investasi portofolio tiba-tiba meninggalkan Tanah Air maka negara akan mengalami kesulitan likuiditas dan kredibilitas yang membahayakan.

Kecenderung semakin membesarnya investasi portofolio dibandingkan investasi langsung belakangan ini cukup mengkhawatirkan. Bahkan data BKPM pada 2018 menunjukkan telah terjadi penurunan realisasi  investasi asing dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 8,8 persen.

Perlu ditempuh langkah yang cukup radikal untuk membalikkan arah investasi asing langsung menjadi positif, bertambah setiap tahunnya dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah harus memperbaiki peringkat daya saing agar makin deras investasi asing langsung masuk ke Tanah Air, namun tetap berdikari secara ekonomi seperti dipesankan oleh Soekarno, Presiden Pertama RI.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

FOLLOW US

Temuan TPF Novel Tidak Fokus             Bentuk TGPF Independen untuk Kasus Novel Baswedan             Pilah Skema Untuk Proyek Strategis             Risiko Penyertaan Equity Proyek Macet             Diskresi Kepolisian Bermasalah?             Penanganan Tak Sesuai Perkap             Polisi Tidak Dikondisikan Menjadi Arogan             Kita Tidak Dapat Menduga Kondisi Mental Polisi saat Menembak             MPLS Harus Diselenggarakan Sesuai Pedoman             Pendidikan Swasta Semi Militer Harus Ditertibkan