BUMN Tak Untung, Negara Buntung
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 26 October 2021 20:45
Watyutink.com – BUMN rugi, bisa. Bangkrut, tidak bisa. Pernyataan tersebut seperti sudah menjadi kepercayaan para pegawai dan pengurus perusahaan plat merah.  Mereka tetap aman bekerja tanpa takut ditutup karena ada negara di belakangnya sebagai bohir yang siap menyuntikkan dana segar saat korporasi oleng diterpa kerugian yang membangkrutkan.

Sudah triliunan rupiah uang negara yang disuntikkan ke BUMN dengan berbagai macam dalih. Bahkan yang jelas-jelas merugi karena dikorupsipun masih diselamatkan. Sungguh indah berada di BUMN. Bahkan di saat perusahaan rugi, bonus masih didapatkan.

Cerita di atas bisa jadi tinggal menjadi sejarah lantaran Presiden Joko Widodo (Jokowi) mulai tegas kepada BUMN sakit.  Di hadapan para direktur utama BUMN belum lama ini, Jokowi menyentil keras BUMN terkait Penyertaan Modal Negara (PMN).

Sebelumnya BUMN terlalu sering mendapatkan proteksi. Sakit sedikit disuntik dana segar, PMN ditambah, membuat perusahaan negara keenakan. Lantaran sering dilindungi, kemampuan untuk berkompetisi berkurang, tidak berani bersaing, tidak berani mengambil risiko. BUMN pun menjadi tidak profesional. Begitu keluh kesah Jokowi kepada BUMN.

Jokowi mengancam tidak akan memberikan lagi proteksi. Jika ada laporan dari Menteri BUMN bahwa ada perusahaan negara yang sakit maka akan langsung diminta ditutup, tidak akan diselamatkan. Menteri BUMN diminta melupakan perlidungan kepada perusahaan plat merah.

Menteri BUMN Erick Thohir menggunakan kata yang lebih halus dari Jokowi, yakni perampingan, tidak penutupan. Dia tidak menutup kemungkinan bakal kembali merampingkan BUMN yang saat ini sudah berjumlah 41 dari sebelumnya 108.

BUMN harus menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi terkini dari masing-masing industrinya sehingga perampingan harus dilakukan sebagai sebuah respon. Hal itu juga sebagai salah satu langkah strategis dalam proses transformasi yang sedang berlangsung sejak dua tahun terakhir. BUMN harus melakukan transformasi model bisnis karena negara mengharapkan perusahaan plat merah memberikan pemasukan sebesar-besarnya.

Pernyataan tegas Jokowi tidak akan memberikan lagi proteksi kepada BUMN dan tidak tertutupnya kemungkinan merampingkan BUMN membuat direksi BUMN bergidik. Mereka tidak hanya akan kehilangan kursi empuk, kapal yang selama ini mereka tumpangi pun akan karam.

Apakah akan setegas itu Jokowi kepada BUMN? Faktanya dalam APBN 2021 dan APBN 2022, dana triliunan rupiah masih akan digelontorkan kepada perusahaan plat merah dalam bentuk PMN. Jumlah yang tidak sedikit untuk menyelamatkan perusahaan negara yang merugi.

Tahun ini saja sedikitnya delapan perusahaan negara mendapatkan PMN senilai total Rp 52 triliun. Jumlah tersebut terdiri dari PMN BUMN tahun 2021 sebesar Rp35,1 triliun dan PMN tambahan sebanyak Rp16,9 triliun.

Tahun depan pemerintah masih akan memberikan PMN sebesar Rp35,4 triliun kepada lima BUMN, menambah PMN senilai Rp20,48 triliun untuk empat BUMN, sehingga total yang digelontorkan Rp 55,88 triliun untuk sembilan perusahaan pelat merah.

Salah satu yang diselamatkan melalui penyuntikan PMN adalah PT Jiwasraya melalui Indonesia Financial Group atau PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia senilai Rp20 triliun. Injeksi dana itu merupakan bagian dari restrukturisasi perusahaan asuransi yang rugi sebesar Rp16,8 triliiun.

Sikap Jokowi untuk menutup BUMN sakit sudah tepat. Pemerintah sudah mengeluarkan banyak dana yang dihimpun dari pajak masyarakat untuk membantu BUMN, namun kinerjanya hanya sebagian yang kinclong. Selebihnya banyak yang masih bergelut dengan utang, inefisiensi, dan berselubung penugasan pemerintah.
Pada saat kondisi perekonomian normal saja banyak BUMN yang merugi.  Apalagi dengan adanya pandemi Covid-19, BUMN yang memberikan bagian keuntungannya kepada negara hanya 11 perusahaan, padahal total aset perusahaan negara lebih dari Rp9.000 triliun.

Sudah saatnya perusahaan negara diperlakukan sama seperti perusahaan swasta agar BUMN bekerja secara profesional. BUMN yang sehat akan menguntungkan negara dan rakyat. 

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF