Armada Pemburu Hidangan Laut
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
01 June 2019 10:30
Watyutink.com - Le Crabe Marteau di Paris, Sushi Sugita di Tokyo dan Maison Premiere di New York, adalah beberapa restoran ternama yang menyajikan hidangan laut (seafood) yang segar dan sedap. 

Indonesia tidak kalah, dengan garis pantai 108.000 km bertebaran rumah makan seafood dari sederhana sampai mewah, dengan kelezatan tiada tara. Sebut saja Rumah Makan Melky Brazil di Gorontalo, Restoran Kepiting Kenari di Balikpapan, atau Wisma Benteng Seafood di Medan.

Ragam dan olahan seafood di berbagai negara memang menggiurkan, macam kepiting saos lada hitam, udang crispy mayo, calamari, kerapu bakar kecap, shima ebi, lobster Thermidor dan grilled Alaska king crab.

Sedemikian berbahayanya menangkap kepiting raja dari Alaska yang berat per ekornya dapat mencapai 5 kg,  sehingga Discovery Channel menayangkan serial dokumenter menegangkan, Deadliest Catch (Tangkapan Paling Mematikan). Armada pemburu hidangan laut dipimpin kapten kapal masing-masing bersaing untuk mendapatkan kepiting raja terbanyak di Laut Bering yang sangat dingin dengan gelombang tinggi, kadang berakhir dengan kematian. 

Sangat digemarinya hidangan laut membuat pertumbuhan tahunan konsumsi ikan global 50 tahun terakhir, dua kali lebih tinggi dari pertumbuhan jumlah penduduk. 

Meskipun konsumsi ikan meningkat pesat, produksi perikanan tangkap, yang diperoleh dengan menjelajah lautan, relatif statis sejak akhir 1980-an, bahkan menurun sebagaimana tercatat pada 2018 The State of World Fisheries and Aquaculture. Total tangkapan perikanan laut dunia (termasuk kepiting, udang, lobster, kerang, dan tiram)  mencapai 81,2 juta ton pada 2015 dan menurun menjadi 79,3 juta ton pada 2016.

Bukan hanya jumlah tangkapan yang menurun, proporsi mereka yang bekerja untuk perikanan tangkap pun menurun dari 83 persen pada 1990 menjadi 68 persen pada 2016 dengan jumlah 40 juta orang. Menurunnya jumlah pemburu hidangan laut ini, berarti meningkatnya jumlah mereka di sektor akuakultur, atau budidaya perairan.

Temuan mencengangkan datang dari sekelompok peneliti Australia yang mengkaji evolusi armada penangkapan ikan global dan menerbitkannya  di jurnal ilmiah multidisiplin, PNAS.

Armada pemburu hidangan laut meningkat dua kali lipat antara tahun 1950 dan 2015, dari 1,7 juta menjadi 3,7 juta kapal penangkap ikan skala industri dan artisanal (kapal kecil dengan atau tanpa mesin). Namun ini bukan berarti ikan yang ditangkap lebih banyak, karena kesehatan perikanan dan indeks kelimpahan, secara konsisten menurun sejak 1950. 

Berkurangnya tangkapan ikan disebabkan oleh tekanan bertubi-tubi yang menimpa lautan di Bumi. Douglas McCauley dari Unversity of California di Santa Barbara menulis untuk World Economic Forum, ancaman utama bagi semua lautan di Bumi adalah perubahan iklim yang menyebabkan lautan tambah panas dan lebih asam sehingga biota laut kian sulit bertahan hidup. 

Ancaman lain adalah polusi plastik yang kini mulai memenuhi perut ikan-ikan yang dijual di pasaran. Penangkapan ikan yang berlebihan serta subsidi di sektor ini, juga membuat kondisi sumber daya lautan menjadi kritis. Tambahan lagi kawasan suaka laut yang dapat melindungi biota laut hanya ada 2 persen dari dari seluruh kawasan laut global, padahal proporsi idealnya harus 30 persen.

Semua tantangan yang mengancam kesehatan lautan di Bumi ini seharusnya sudah dapat dijawab dengan mengurangi emisi karbon, menghindari penggunaan plastik sekali pakai, menolak seafood yang langka, membantu penetapan kawasan suaka laut, dan melarang subsidi perikanan.

Lautan yang sehat bukan hanya memikat untuk lokasi film serial  dokumenter Deadliest Catch yang karena larisnya kini sudah memasuki tahun ke 15. Lautan yang afiat adalah andalan penghidupan para nelayan pemburu hidangan laut sebagai pemasok rumah tangga dan restoran seafood di mancanegara. Lautan yang sehat adalah penanda peradaban yang sehat. 

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

FOLLOW US

Maskapai Asing, Investasi yang Buruk Bagi Ekonomi Nasional              Hilangnya Kompetisi di Pasar Penerbangan Domestik             Masalah pada Inefisiensi dan Pengkonsentrasian Pasar              SBY Harus Bisa Menenangkan              Lebih Baik Kongres 2020             Ketegasan SBY, Redakan Tensi Faksionalisasi             Langkah PKS di Oposisi Perlu Diapresiasi             Insentif Pajak, Daya Tarik Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei