Ancaman Lost Generation di Balik Wabah Covid-19
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 17 April 2020 10:00
Watyutink.com - Covid-19 merontokkan satu per satu kekuatan ekonomi Indonesia. Sektor pariwisata bisa dikatakan yang pertama merasakan dampak negatif wabah virus corona. Sejak pertama kasus ini meletup di Wuhan, China, ketakutan untuk berpergian ke luar negeri merebak di seluruh dunia.

Cerita mengenai kecepatan virus ini menginfeksi korban dan merusak sistem pernapasan dalam waktu singkat menimbulkan momok yang menakutkan. Masyarakat dunia mulai mengurangi perjalanan ke wilayah yang menjadi epicentrum Covid-19.

Semula mereka menghindari negara-negara yang kedapatan menjadi tempat berkembang biaknya virus corona. Namun setelah semakin banyak negara melaporkan adanya kasus Covid-19, lalu lintas orang antarnegara berkurang drastis.

Dalam waktu singkat tempat-tempat wisata di dunia kehilangan pengunjung. Pintu-pintu kamar ribuan hotel terkunci rapat. Kuncinya tersimpan rapi di meja resepsionis, menanti turis yang entah kapan akan datang kembali. Penantian panjang juga dialami para pedagang souvenir, restoran, tempat hiburan, bahkan pedagang kaki lima yang biasanya ramai dikunjungi para pelancong.

Memasuki sebuah negara, virus corona tidak berhenti di satu tempat. Interaksi antarorang dalam keramaian, kepadatan, dan kegiatan bersama membawanya memasuki lokasi baru; provinsi, kota/kabupaten, kecamatan, kelurahan, hingga tingkat RT/RW. Titik-titik zona merah pun semakin rapat menutupi peta.

Tindakan keras menjadi pil pahit yang harus ditelan untuk menyetop penyebaran virus corona. Daerah-daerah harus dikunci (lock down) agar pergerakan orang yang menjadi medium perluasan Covid-19 berhenti. Kantor, usaha, tempat wisata, tempat ibadah ditutup.

Pada tingkatan ini, tidak lagi sektor pariwisata yang kena. Perusahaan besar, pedagang, artis, ojol, buruh bangunan, penjaja kaki lima, guru ngaji hingga supir angkot kehilangan pendapatan. Kalau pun masih ada yang kecipratan rejeki, jumlahnya sudah sangat jauh merosot.

Mereka adalah tulang punggung keluarga. Tuhan menitipkan rejeki orang tua, anak, dan istri kepada mereka. Ketika tidak banyak uang yang dibawa pulang, bahkan nihil, apa yang bisa dibeli untuk makan keluarga. Risiko kematian yang paling dekat.

Dalam jangka panjang ada risiko yang tidak kalah buruknya bagi bayi dalam kandungan dan anak balita mereka. Kehilangan pendapatan membuat daya beli mereka anjlok sehingga tidak mampu menyediakan asupan yang cukup. Anak-anak mereka terancam kekurangan gizi kronis. Stunting membayangi.

Sebelum ada wabah virus corona saja, Indonesia sudah kedodoran mengatasi gizi buruk yang menjadi aib dan menyebabkan stunting, yakni kondisi gagal tumbuh yang dialami oleh anak-anak dengan gizi buruk, selain mengalami infeksi berulang juga, dan tidak mendapatkan stimulasi psikososial memadai.

Anak stunting tinggi badannya tak sesuai grafik pertumbuhan standar dunia. Namun kondisi ini bisa diperbaiki saat remaja. Yang mengerikan adalah pertumbuhan otak, ketika sudah besar, tidak bisa diobati lagi,

Bank Dunia mengungkapkan, Indonesia berada di peringkat ke-4 dunia dalam jumlah balita dengan stunting tertinggi, sedikit lebih rendah dari India, Pakistan, dan Nigeria. Hasil riset studi status gizi balita Indonesia (SSGBI) 2019 menyebutkan jumlah balita stunting di Indonesia mencapai 27,67 persen.

Angka tersebut menunjukkan sedikitnya 6,3 juta dari 23 juta balita di Indonesia mengidap masalah stunting, melebihi standar maksimal yang digariskan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni sebesar 20 persen dari total anak balita di satu negara.

Sekalipun status gizi masyarakat Indonesia terlihat membaik, tidak banyak perbaikan dalam masalah stunting. Mengacu pada data 2013, prevalensi stunting di Tanah Air lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain di Asean, seperti Myanmar (35 persen), Vietnam (23 persen), dan Thailand (16 persen).

Tingginya tingkat stunting tersebut akan berimplikasi buruk pada kemajuan Indonesia. Stunting mengancam produktivitas sumber daya manusia, karena mereka menjadi rentan diserang oleh berbagai penyakit.

Menurut kalkulasi Bank Dunia, stunting mengurangi daya saing SDM. Stunting menjadi beban dan menimbulkan kerugian ekonomi cukup signifikan, mencapai dua hingga tiga persen dari produk domestik bruto per tahun satu negara.

Pemerintah sudah mengumumkan paket stimulus ekonomi untuk mengatasi dampak wabah covid-19 senilai Rp405,1 triliun. Di dalamnya ada alokasi angggaran sektor kesehatan sebesar Rp75 triliun, dan perlindungan sosial senilai Rp110 triliun.

Dana tersebut harus dipertajam penyalurannya bagi keluarga dimana istri-istrinya sedang hamil dan memiliki balita untuk menyelamatkan masa depan SDM Indonesia. Dibutuhkan akurasi data dan pelayanan yang amanat dalam menjalankan kebijakan itu. Kalau tidak, kita akan mengalami lost generation, kehilangan satu generasi, karena gizi buruk.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF