Aku Merindukan Gema Pidato Bung Tomo
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
05 November 2019 14:00
Watyutink.com - Tengah malam di minggu-minggu jelang Hari Pahlawan 10 November, aku terbangun dalam hening, menerawang jauh, hanyut dalam kerinduan. Entah apa yang sedang terjadi, tiba-tiba saja aku begitu merindukan menggemanya kembali suara seorang orator yang tujuh puluh empat tahun lalu begitu dahsyat membakar semangat para pemuda di kota Surabaya. Suara lantang Bung Tomo, sang orator revolusioner yang memang layak menyandang gelar Pahlawan Nasional, begitu menggetarkan dan telah berhasil membakar semangat para pemuda di kota Surabaya untuk tak gentar bangkit melawan tentara Inggris yang lengkap bersenjata. Mereka bangkit melawan dengan tekad dan semangat  pantang menyerah berbekal semboyan: MERDEKA atau MATI!!  

Ada penggalan kalimat dalam pidatonya yang selalu terngiang di telinga dan menggema memenuhi ruang-ruang di rongga dada ini. Begini bunyi cuplikan pidato yang setiap kali ia datang, selalu mengheningkan diri ini, hanyut dalam kerinduan revolusioner…

’’Selama banteng-banteng Indonesia
masih mempunyai darah merah yang
dapat membikin secarik kain putih,
merah dan putih… maka selama itu
tidak akan kita akan mau menyerah
kepada siapa pun juga..!’’

Kalimat yang singkat namun kaya ini begitu sarat akan muatan nilai-nilai patriotisme, nasionalisme, dan kepahlawanan seorang pejuang sejati. Surabaya pun bangkit melawan Inggris sang penjajah. Penggalan isi pidato Bung Tomo ini sungguh membuat dada ini terasa terbebani dan penuh sesak oleh rasa malu menatap kenyataan hari ini. Terutama saat meneropong lewat kacamata nilai-nilai kejuangan dan Kepahlawanan.

Lantang Bung Tomo menyatakan penuh keyakinan…"selama banteng banteng Indonesia masih berdarah merah…dst.’’ Penggalan kalimat pidato ini telah membenturkan diriku pada kenyataan bahwa warna darah banteng-banteng Indonesia hari ini tidak lagi sepenuhnya berwarna merah. Ada yang warna merahnya sudah ditelan oleh darah biru, dan ada yang malah hilang sama sekali ditelan darah putih, menjadi loyo dan menunggu kematian. Semangat kepahlawanan yang rela berkorban, mengorbankan jiwa raga demi kejayaan Indonesia merdeka, telah lama digantikan oleh semangat mematikan kemerdekaan dan kejayaan Indonesia, demi kejayaan pribadi dan kelompoknya. Sungguh tragis dan menyedihkan!

Taman Makam Pahlawan pun menjadi tempat yang belakangan ini telah kehilangan makna dari arti kata Pahlawan dan nilai kepahlawanan itu sendiri. Karena bukan hanya satu dua di antara mereka yang dimakamkan di tempat terhormat ini; yang catatan perjalanan hidupnya sama sekali tak memenuhi kriteria nilai seorang pahlawanan kusuma bangsa, bahkan cenderung sebaliknya! Hanya karena pada saat berpulang berada di lingkaran kekuasaan, maka secarik kertas atas nama institusi kekuasaan, jadilah ia seorang Pahlawan yang layak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.

Semua kesalahkaprahan tentang arti kata Pahlawan dan nilai-nilai kepahlawanan yang begitu menggelisahkan ini, membuatku merindukan hadirnya kembali gema pidato Bung Tomo agar terus bergelora dan tersimpan di setiap dada dan sanubari Pemuda Indonesia. Agar rasa hormat yang tinggi dapat diberikan oleh segenap warga bangsa ini kepada para Pahlawan Pejuang bangsa, pendiri bangsa dan penerusnya.

Satu hal yang menjadi catatan penting bagiku, Bung Tomo menutup orasinya dengan pekik takbir Allahuakbar…Allahuakbar..Allahuakbar…dengan penuh semangat dan gelora perjuangan mengusir penjajah. Kalimat takbir ini melengkapi perjalanan hidup Bung Tomo yang mengakhiri hidupnya saat menunaikan ibadah Haji di tahun 1981, sebagai pejuang yang senantiasa meminta pertolongan dan menyembah hanya kepada sang Chalik.

Pekik takbir Bung Tomo kala itu sungguh terasa nilai dan getarannya jauh berbeda dengan ribuan pekik takbir yang diobral setiap kerumunan massa melakukan demo belakangan ini. Atas perbedaan ini, di minggu-minggu tengah malam jelang 10 November, kutemukan jawabannya! Pekik takbir bung Tomo adalah pekik rakyat pejuang kemerdekaan Indonesia, yang tulus tanpa pamrih, pekik seorang Pahlawan sejati!

Bung Tomo, gema suara pidatomu kurindukan selalu!
Selamat Memperingati Hari Pahlawan.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Defiyan Cori, Dr.

Ekonom Konstitusi

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

FOLLOW US

Figur Menjadi Penting untuk Melaksanakan Dua Peran BUMN             Restrukturisasi, Reorganisasi untuk Efisiensi dan Efektivitas BUMN             Kembalikan Proses Pemilihan Pejabat BUMN kepada Spirit Reformasi             Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong             Data Angka Konsumsi dan Investasi Masih Menunjukkan Peningkatan             Rakyat Harus Diuntungkan dalam Jangka Pendek             Jangan Kejar Target Pembangunan Fisik Saja             Kemampuan Investasi dalam Menyerap Tenaga Kerja Semakin Rendah