Agar Inovasi Tak Berhenti di Inovasi
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
ilustrasi muid/watyutink.com 06 January 2022 19:40
Watyutink.com – Pembubaran sejumlah lembaga riset dan pengembangan dan menggabungkan para ahlinya ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) belakangan ini heboh, lebih heboh dari output riset yang seharusnya dihasilkan oleh para peneliti di lembaga-lembaga tersebut.

Selama ini tidak cukup banyak hasil riset dan inovasi yang memberikan nilai tambah bagi bangsa Indonesia yang memperbaiki kualitas kehidupan sehari-hari menjadi lebih hemat, produktif, nyaman, aman, berkelanjutan, dan ramah lingkungan. Penemuan-penemuan yang menjadikan kita lebih baik dari hari kemarin.

Rakyat lebih merasakan hasil inovasi bangsa lain yang membantu mempermudah hidup mereka sehari-hari. Berbagai produk dan layanan seperti handphone, aplikasi e-commerce, barang elektronik, otomotif, MRT, dan sebentar lagi kereta cepat diciptakan oleh inovator asing.

Bukan tidak ada inovasi yang dihasilkan oleh anak bangsa sendiri. Inovasi terus bermunculan namun sayang tidak berumur panjang dan secara masal digunakan. Beberapa karya anak bangsa bisa disebutkan di sini antara lain CePAD antigen test untuk mendeteksi keberadaan antigen virus, GeNose sebagai detektor pengidap Covid-19, dan sistem pencitraan medis berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Selain itu ada juga alat bantu napas Vent-I berbasis continuous positive airway pressure (CPAP) untuk pasien Covid-19,  Covalescence Serum, Pesawat N-219, Vaksin Merah-Putih, Drone Elang Hitam yang mampu terbang 24 jam dan dilengkapi senjata, dan katalis Merah-Putih dalam teknologi pengolahan minyak sawit menjadi bensin, solar, maupun avtur.

Banyaknya hasil temuan tersebut tidak lepas dari kehadiran sejumlah lembaga riset. Total ada 39 kementerian/lembaga, termasuk eks Kemristek, Batan, BPPT, Lapan, LIPI yang selama ini menaungi penelitian dan pengembangan. Belum lagi lembaga penelitian yang dimiliki universitas dan BUMN.

Namun nasib hasil penemuan dari lembaga-lembaga tersebut belum jelas apakah akan meluas penggunaannya atau berhenti begitu saja. GeNose sempat melejit tapi sekarang tidak terdengar lagi kabarnya. Pesawat N-219 sudah mendapatkan lisensi terbang tapi apakah maskapai mau menggunakannya? Hal-hal ini seperti ini yang kemudian menimbulkan keraguan mengenai riset dan inovasi serta prospeknya di masa depan.

Indonesia sebenarnya sudah memiliki fondasi riset dan pengembangan yang cukup kuat yang dikembangkan oleh Presiden ke-3 RI BJ Habibie saat masih menjadi Menristek. Dia membuat landasan bagi keunggulan bersaing (competitive advantage), membangun struktur ilmu dan teknologi nasional berupa pengembangan sumber daya manusia, peralatan, kelembagaan serta jaringan secara massif.

Lahirlah kemudian BUMN Industri Strategis (BUMNIS) sebagai wahana untuk memproduksi peralatan pertahanan keamanan dan kebutuhan sipil yang canggih mulai dari pesawat, kapal, tank, senjata, komponen elektronik hingga teknologi tepat guna.

Diversifikasi penelitian dan pengembangan iptek melalui pendirian sejumlah badan atau lembaga tersebut agar produk inovasi yang dihasilkan lebih spesifik dan memiliki kekhususan iptek di dalamnya. Kompetensi yang khas dari masing-masing lembaga akan melahirkan produk inovatif yang revolusioner.

Oleh karena itu jika pemerintah sekarang menggabungkan 39 kementerian/lembaga, termasuk eks Kemristek, Batan, BPPT, Lapan, LIPI ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), maka kebijakan ini dapat diartikan membongkar landasan yang sudah susah payah dibangun sebelumnya. Lembaga inilah yang selama ini justru menjadi poros pembangunan Iptek nasional.

Pemerintah tidak perlu membubarkan lembaga riset yang sudah ada. Cukup melakukan koordinasi untuk menghasilkan penemuan yang terintegrasi. Pemusatan pada satu lembaga BRIN justru menimbulkan kesan rejim otoriter dimana semuanya serba dipusatkan agar mudah melakukan pengontrolan.

Pembubaran lembaga riset ini juga mengesankan penghapusan jejak dan karya yang dihasilkan oleh begawan Iptek BJ Habibie. Ditambah lagi sebelumnya pemerintah mencoret program pengembangan pesawat R-80 warisan BJ Habibie dari daftar proyek strategis nasional sehingga makin kental tudingan ‘dehabibienisasi’.

Seharusnya pemerintah merawat dan meneruskan apa yang sudah dibangun suami Ainun ini. Fondasi inovasi teknologi yang sudah dibangun tersebut tinggal diintegrasikan dengan model bisnis sehingga terciptalah keunggulan kompetitif, pertumbuhan, serta arah pengembangan industri secara signifikan.

Sebagai contoh Apple Computers memperkenalkan secara berturut-turut iPod yang merupakan bentuk dari perubahan teknologi dan iTunes yang merupakan perubahan model bisnis untuk mendefinisikan ulang kekuatan kompetisi mereka.

Melalui integrasi inovasi teknologi dan model bisnis Indonesia akan lebih maju dalam mendefiniskan keunggulan kompetitif agar tidak terjebak dalam perilaku inovasi hanya untuk inovasi, sehingga berhenti pada penemuan yang tidak memberikan maslahat.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF