Adu Jangkrik
Achmad Fuad
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
09 September 2018 10:00
Di dalam dunia pewayangan, masyarakat yang ideal adalah masyarakat yang setiap pribadi atau individunya mengetahui posisi, porsi, dan perannya masing-masing, yang telah disepakati bersama dan telah ‘digariskan’ oleh Dewata.

Masyarakat yang tersusun atas kasta tersebut memahami apa fungsi dirinya dihadirkan di dunia. Oleh karena itu, prinsip dasar kehidupan dalam dunia pewayangan adalah segala kepentingan pribadi dan dorongan ego harus ditekan. Tatanan ini berjalan sesuai ‘jadwal’ yang telah digariskan para Dewa demi lancarnya roda kehidupan.

Namun, sebab ‘jadwal’ ini pula lah yang kemudian membuat Arjuna mengajukan keberatan pada Batara Kresna. Karena sesuai dengan ‘garis’ yang telah ditetapkan Dewa, Arjuna yang menjadi ‘jangkrik’ dalam perang Baratayuda, harus melakukan perang tanding melawan saudara tirinya, Adipati Karno, yang juga’ jangkrik’. Jangkrik dalam tataran metafora sebagai individu yang harus di’adu’.

Sesuai ‘jadwal’, Adipati Karno akan kalah dan mati di tangan Arjuna. Batara Kresna, sang mentor para Pandawa, sekaligus tukang ‘kili-kili’ (mengkilik-kilik) menyampaikan statemen yang menghibur Arjuna dengan argumen bersyair seperti yang dikemukakan dalam Bhagavadgita; para Dewa telah mengambil putusan bahwa Adipati Karno harus mati. Dan, gugur di medan perang adalah kematian yang paling indah.

Arjuna akhirnya memenuhi kewajibannya sebagai ksatria, menekan ego dan memendam dalam-dalam rasa persaudaraannya, menghabisi Adipati Karno. Apakah Arjuna adalah pemenang? Tentu tidak. Siapapun yang hidup atau mati dalam pertempuran itu, pemenangnya tetaplah sang konseptor ‘adu jangkrik’.

Simbol-simbol ‘adu-jangkrik’ banyak dijumpai dalam cerita wayang. Perselisihan dan pertempuran antara Pandawa dan Kurawa yang masih saudara, dalam perang Baratayuda di medan Kurusetra, telah mengisahkan kepada kita betapa bahayanya politik ‘adu jangkrik’. Manusia dibentuk dalam kelompok-kelompok, dikotakkan dalam golongan-golongan, dipisahkan menjadi Pandawa dan Kurawa.

Meski kisah pewayangan adalah mitos dan bersifat simbolik, namun perilaku ‘adu jangkrik’ masih berlangsung hingga era milenial ini. Pengelompokan atas manusia tetap terjadi. Termasuk di negeri ini. Masyarakat Indonesia dibagi dalam kotak-kotak, saling dipertentangkan dan diadu sesuai ‘jadwal’, demi kepentingan sang konseptor.

Jika dalam dunia wayang konseptornya adalah Dewa, tujuannya untuk menegakkan kebenaran, maka dalam dunia nyata, konseptornya adalah manusia tamak yang memiliki modal (harta) dan kekuasaan. Ia merasa berkehendak atas segala yang ia ingini dan berbuat apapun yang ia maui. Manusia yang merasa dirinya adalah ‘Dewa’. Tujuannya adalah kekuasaan dan kekayaan dengan menciptakan kekacauan.

Para ‘Dewa’ baru ini dahulu oleh Bung Karno disebut dengan istilah Neo Kolonialisme-Neo Imperialisme. Cukup dengan menguasai ekonomi, dan menghancurkan kebudayaan dan akal sehat rakyat dan pemimpinnya, lalu merubahnya menjadi ‘jangkrik-jangkrik’ yang siap di’adu’.

Para pemimpin dan rakyat yang sudah kehilangan kesadarannya untuk bersatu, di ‘kili-kili’ agar semakin semangat bertarung. Fanastisme dan devide et impera yang menjadi strategi wajib dalam politik ‘adu jangkrik’. Fenomena ‘Cebong-Kampret’ menjadi gambaran nyata terjadinya politik ‘adu jangkrik’ saat ini.

Fanatisme cebong maupun kampret kepada masing-masing pemimpinnya telah menempatkan diri mereka dalam kotak-kotak kardus. Fanatisme yang telah menjadikan mereka ‘jangkrik-jangkrik’. Jangkrik yang sesuai 'jadwal', siap diadu demi kepentingan kekuasaan. Pilpres 2019 dijadikan momentum membunyikan peluit sebagai penanda pertandingan adu jangkrik dilaksanakan.

Saling serang, saling gigit, saling sikut, saling tendang, saling caci maki, saling fitnah para jangkrik pun terjadi. pertarungan para jangkrik ‘cebong-kampret’ semakin sengit, seolah sudah tak bisa lagi diakurkan. Semakin mendekati waktu pelaksanaan Pilpres 2019, pertarungan semakin menjadi-jadi. Walhasil, budaya gotong-royong dan tepo sliro (saling menghargai) yang menjadi dasar kebudayaan dan kehidupan bangsa kita hancur berantakan.

Semakin para jangkrik bersemangat untuk saling sikat dan saling ‘bunuh’ dalam pertempuran ‘adu jangkrik’ Pilpres, semakin para ‘Dewa’ baru (baca: penjajah) tersenyum bahagia dan tertawa lega. ‘Dewa penjajah’ itu telah sukses menjajah Indonesia dengan cara mudah dan biaya murah: Adu Jangkrik.

Untuk itu, jangan pernah mau dijadikan jangkrik. Berhenti saling serang, saling memaki, saling fitnah. Jangan mau diadu. Sadarlah untuk bersatu. Jangan ada lagi cebong-kampret.

Tetaplah menjadi Indonesia yang waras dan merdeka!

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Nyoman Sudarsa

Ketua DPW KOMBATAN Provinsi Bali

FOLLOW US

Reformasi Struktural: Darimana Kita Memulai?             Kemenag Perlu Jelaskan Manfaat Kartu Nikah             Focus ke Penetrasi Ekspor Produk Bernilai Tambah Tinggi             Gerindra dan PDIP Diuntungkan pada Pemilu 2019             Darurat, pembenahan Sektor Manufaktur dan Kapasitas SDM (Bagian-1)              Darurat, pembenahan Sektor Manufaktur dan Kapasitas SDM (Bagian-2)             Masih Ada Waktu untuk Perbaharui Komitmen             Penguatan Upaya Pemberantasan Korupsi             Kasus Century Tanggung Jawab KSSK              Komnas Perempuan: BN Korban Pelecehan Seksual yang Dikriminalkan