2020: Tahun Krusial bagi Lingkungan Hidup
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com) 11 January 2020 10:00
Watyutink.com - Masalah lingkungan hidup di Bumi datang silih berganti, baik di tingkat lokal, nasional, regional, maupun global. Pencemaran air dan udara, sampah yang terus menggunung, punahnya keanekaragaman hayati, serta krisis iklim, tiada hentinya terjadi.

Semua masalah lingkungan harus dicermati dan ditangani, namun tahun 2020 merupakan momen krusial untuk meninjau kembali komitmen global yang telah disepakati oleh Negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Di kota New York, bulan September 2015 negara-negara menetapkan agenda global Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) untuk mengakhiri kemiskinan pada 2030. Juga untuk mencapai pembangunan berkelanjutan, memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kepentingan generasi mendatang.

Selanjutnya di kota Paris, bulan Desember tahun yang sama, negara-negara menyepakati Persetujuan Paris (Paris Agreement) untuk memerangi perubahan iklim. Melaksanakan berbagai aksi dan investasi menuju masa depan yang rendah karbon, berdaya tahan dan berkelanjutan harus diberlakukan pasca 2020.

Secara rinci, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan untuk periode 2015-2030 memiliki 17 tujuan, dan 169 target guna mengatasi tantangan global. Ini termasuk kemiskinan, ketidaksetaraan, perubahan iklim, degradasi lingkungan, perdamaian dan keadilan. SDGs diberlakukan dengan prinsip-prinsip universal dan inklusif sehingga tidak boleh ada seorang pun yang terlewatkan (no-one left behind).

Sementara itu, tujuan utama Persetujuan Paris adalah untuk menjaga peningkatan suhu global di abad ini agar tidak melampaui 2 derajat Celcius dibanding sebelum Revolusi Industri dengan ambisi untuk tidak melebihi 1,5 derajat Celsius. Ini karena batas 1,5 derajat Celcius secara signifikan lebih aman terhadap dampak terburuk dari perubahan iklim.

Cara menjaga peningkatan suhu adalah dengan mengurangi emisi gas rumah kaca (karbon) dari kegiatan seperti penggunaan bahan bakar fosil dan perubahan tata guna lahan.
 
Tahun 2020 merupakan tahun ke lima diselenggarakannya Forum Politik Tingkat Tinggi tentang Pembangunan Berkelanjutan (High Level Political Forum/HLPF), yaitu platform multi-pemangku kepentingan untuk bertukar pengalaman dan menindaklanjuti pelaksanaan SDGs.
 
HLPF 2020 yang akan diselenggarakan pada bulan Juli di Kota New York dirancang untuk meningkatkan integrasi dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan dari pembangunan berkelanjutan, serta juga menyediakan platform untuk terciptanya kemitraan dan kerja sama internasional.

Dengan berbagai tantangan yang ada, menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Indonesia berhasil mengurangi kesenjangan melalui pertumbuhan ekonomi yang inklusif, perluasan lapangan pekerjaan, dan akses terhadap pendidikan. Selain itu Indonesia juga telah meluncurkan “Inisiatif Pembangunan Rendah Karbon.”

Tahun 2020, untuk pertama kalinya negara-negara akan berkumpul, sejak Persetujuan Paris disepakati tahun 2015  untuk inventarisasi global penurunan gas rumah kaca. Persetujuan ini mewajibkan “global stock take” setiap lima tahun sekali, untuk menilai seberapa banyak yang telah dilakukan dan apa lagi yang bisa dicapai. Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim, COP 26, bulan November di Glasgow, Inggris, adalah waktu penyerahan informasi ini.

COP 25 akhir tahun lalu di Madrid, Spanyol berakhir mengecewakan. Menurut Sekretaris Jenderal PBB: “Komunitas internasional kehilangan kesempatan penting untuk menunjukkan peningkatan ambisi pada mitigasi (mengurangi emisi), adaptasi (meningkatkan daya tahan) dan keuangan untuk mengatasi krisis iklim.”

Bagi Indonesia, komitmen yang ditetapkan tahun 2015 telah menunjukkan pencapaian yang berarti. Terkait hal ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan baru saja meluncurkan buku yang terdiri atas tiga volume, yakni Urgensi, Politik, dan Tata Kelola Perubahan Iklim (volume 1), Pembangunan dan Emisi Gas Rumah Kaca (volume 2), serta Perubahan Iklim: Krisis Sosial-Ekologis dan Keadilan Iklim (volume 3).

Judul utama trilogi tersebut adalah "Indonesia Menghadapi Perubahan Iklim" dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai Editor Utama dan sebanyak 78 penulis dari berbagai profesi menyumbangkan pemikiran mereka.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)