100 Hari atau 1000 Hari, Sama Saja!
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 10 February 2020 11:50
Watyutink.com - Tanpa terasa Kabinet Kerja bentukan Presiden Jokowi, telah berumur 100 hari lebih. Sebagaimana kebiasaan, ke-100 hari ini dijadikan sebagai hari H oleh para pengamat, analis, juga media umumnya, untuk menilai kinerja Presiden terpilih, siapapun dia. Kualitas maupun kuantitas kerja kabinet bentukannya pun merupakan subyek amatan yang paling disorot.

Selang beberapa hari setelah pemerintahan Jokowi jilid dua melampaui 100 hari kerja, beberapa kawan yang aktif mengamati dunia politik, mendatangi saya. Seperti biasa, mereka langsung mengajak saya untuk melakukan bedah politik kinerja pemerintahan Jokowi jilid dua. 

Nah, celakanya, kali ini saya sedang sangat tidak antusias untuk bicara seputar dunia perpolitikan di negeri tercinta ini. Karena banyak hal yang terjadi belakangan ini tidak ada dalam buku dan catatan politik yang telah saya geluti selama setengah abad lebih.

Kepada mereka pun saya coba meyakinkan bahwa hingar bingar perpolitikan belakangan ini, terlalu banyak yang saya tidak pahami. 

Koleksi kamus politik dalam rak perpustakaan milik saya pribadi, tidak tersedia kamus politik yang berjudul ‘Politik Semaunya dan Sak Penake Dewe!”. Sehingga yang saya pahami hanya sebatas bagaimana yang seharusnya dilakukan oleh Pak Jokowi dan kabinetnya dalam mengelola manajemen kekuasaan politik pada term kedua pemerintahannya ini. 

Tapi apa yang terjadi? Ternyata banyak hal dilakukan selama 100 hari ini yang jauh dari apa yang saya pahami tentang apa yang seharusnya dilakukan dan dikerjakan oleh pemerintah yang dipimpinnya. Maka dengan jujur saya katakan kepada kawan-kawan, maaf saya kurang memahami semua ini. 

Pasalnya, apa yang dianggap mudah dan sekunder oleh Pak Presiden, bagi saya tidak begitu. Apa yang dianggap mendesak, perlu, dan wajib dilakukan menurut Pak Presiden, saya koq beranggapan tidak sebegitunya dan bukan yang bersifat urgen. Begitu juga yang menurut beliau tidak apa-apa, saya koq miris dan justru malah merasa apa-apa. 

Rentetan peristiwanya terjadi sejak pembentukan kabinet dan penunjukan para pembantunya yang beraroma ‘millenial oriented’. Selanjutnya mengenai kebijakan harus pindah ibu kota 2024. Mengenai penanganan masalah pemberantasan korupsi dan sejenisnya. Tentang ekonomi kerakyatan. Tentang kebudayaan; hingga soal pelestarian bangunan dinasti dalam dunia politik, dan seterusnya.

Semua ini masih menjadi ganjalan pemikiran saya yang tentunya dikarenakan pengetahuan saya yang terbatas. Tiba-tiba saja saya merasa sangat bodoh, terdiam, dan merenung.

Oleh karenanya saya memilih untuk menghakimi diri sendiri sambil menudingkan jari telunjuk ke muka ini dan menghardik.."Tau apa kamu? Ini permainan kelas para Dewa..Ilmu mu belum sampai...!” Dampratan terhadap diri sendiri inilah yang membuat saya jadi bersikap tau diri, dan memilih untuk diam dan belajar lagi. Sambil mencoba berdisiplin diri, nikmati saja berbagai adegan sirkus politik yang terjadi akhir-akhir ini. 

Satu hal yang tidak saya tinggalkan adalah kebiasaan untuk terus mencatat semua peristiwa yang terjadi. Kali ini buku catatan harian saya beri judul...’’How high you can fly, and how low you can go (dive)?! ”..Setinggi apa kau bisa terbang, dan sedalam apa kau bisa menyelam..?! Sementara sikap positif yang saya terapkan adalah membantu sebisanya apa yang terbaik yang bisa saya lakukan untuk membangun masa depan negeri ini yang lebih baik.  

Jadi pilihan untuk tidak ikut terlibat dengan sejumlah aksi penilaian kritik sana kritik sini, semata karena lebih memilih untuk memberikan penilaian yang bermanfaat. Atau melakukan sesuatu yang lebih produktif-bermanfaat. Kepada kawan-kawan aktivis saya berikan sejumlah alasan mengapa saya memilih tidak melibatkan diri dalam hingarbingar politik kekinian. Termasuk melakukan telaah, kritik, apalagi masukan seputar 100 hari kinerja pemerintahan Jokowi jilid 2 ini. 

Bagaimana saya bisa menilai kinerja mereka ketika angka dan bahasa yang mereka gunakan, berasal dari buku dan sekolah yang berbeda. Pemahamannya pun berbeda pula. Juga ketika obyek, subyek, dan predikat, sama saja, seperti tak ada bedanya dan tak perlu dibedakan. Begitu pun ketika masalah permukaan, simbul, dan substansi, berada di tataran yang sama. Bahkan sering kali terbalik-balik, dikaburkan oleh hingar bingarnya berbagai ilustrasi. Dan yang paling utama ketika kebohongan menjadi kata kunci dalam membangun peradaban bangsa ini ke depan. It is too far for me, man!

Tragisnya, mayoritas rakyat merespon seluruh langkah yang dilakukan Pak Presiden dalam 100 hari masa kerjanya, justru banyak yang menjadikannya sebagai sesuatu yang perlu diamini. Bahkan banyak yang menjadikannya sebagai mitos pembangunan masa depan Indonesia yang maju dan cemerlang. Seperti tersihir mempercayai bahwa mimpi dan harapan seakan sudah hadir sebagai kenyataan. Sehingga sering terperangkap dalam perilaku yang sulit membedakan antara percaya diri dan tak tahu diri, bahkan lupa diri.

Kepada kawan-kawan sejawat dan sepemikiran saya katakan kepada mereka, jangan kita merasa diri paling benar. Siapa tahu langkah yang telah dan akan diambil oleh Jokowi ke depan persis seperti yang selalu Pak Luhut katakan...We are (already) in the right track! Artinya sudah di jalan yang benar. Sementara logikanya menjadi; aku dan kalian lah tentunya yang berada dalam pemikiran dan perhitungan yang salah!

Untuk mengantisipasi hasil akhir dari the end game pemerintahan Jokowi jilid dua inilah, buku harian dengan judul ‘How high can you fly and how low you can go (dive)?’ menjadi perlu untuk saya terus isi setiap hari. Siapa tahu satu hari akan berguna. 

Karena matahari dan bumi tak pernah berbohong. Hanya manusia yang sering berulah dan membohonginya! Sementara perlu dipahami, bahwa; perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata, begitu kata Mas Wily, Rendra, Si Burung Merak. Baik untuk 100 hari... 1000 hari...berlakunya sama saja!

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Tauhid Ahmad

Executive Director INDEF

Agus Herta Sumarto

Peneliti INDEF

Deniey Adi Purwanto

Peneliti INDEF