BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMY/ Anggota Dewan Pengawas Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH)
Zakat Adalah Kesadaran dan Bentuk Syukur Seorang Muslim

Pertama yang harus kita pahami, Zakat itu hukumnya wajib bagi setiap muslim, sesuai dengan perintah Allah Ta’ala dalam Al Qur’an di Surat At Taubah ayat 103. Di ayat tersebut, terkandung perintah untuk “mengambil zakat”. Artinya, memang perlu ada “Perintah”.

Hanya saja, negara kita ini kan bukan negara Islam, meski mayoritas muslim. Jadi potensi zakat yang luar biasa besar, lebih dari Rp217 triliun per tahun, yang tergarap masih sangat  kecil. Mungkin oleh pemerintah dirasa perlu untuk memaksimalkan potensinya.

Bagi saya, akan sangat bagus jika potensi zakat tersebut dimaksimalkan. Saya berkeyakinan, jika dana zakat ini terkumpul, maka akan sangat bermanfaat sekali untuk umat pada khususnya, dan bangsa Indonesia pada umumnya. Namun masalahnya, apa iya pemerintah bisa dan sanggup (memiliki kapasitas) untuk mengelola (mengambil dan menyalurkan) zakat tersebut, mengingat Indonesia bukan negara Islam. Kedua, apa harus dipukul rata?

Secara basic, zakat memang wajib bagi muslim. Namun harus dipahami bahwa ada prasyarat yang harus dipenuhi dalam pengelolaan zakat ini, baik batas minimal (nishab) pendapatan yang dikenakan zakat, maupun persyaratan musytahiq-nya, muzakki-nya, maupun amil zakat-nya. Tidak semua muslim wajib mengeluarkan zakat (muzakki) –kecuali zakat fitrah. Pun juga tidak semua orang berhak mendapatkan zakat (musytahiq). Begitu juga amil (pengelola) zakat, harus memenuhi kriteria untuk bisa menjadi amil. Oleh karena itu, zakat itu tidak bisa serta merta diambil begitu saja, tanpa memenuhi prasyaratnya. Apalagi jika kemudian dipukul rata semua harus mengeluarkan zakat tanpa memperhitungkan nishabnya.

Untuk nishabnya, zakat profesi setelah diperhitungkan selama satu tahun, bisa ditunaikan setahun sekali atau boleh juga ditunaikan setiap bulan agar tidak memberatkan. Ini di-qiyas-kan dalam zakat harta (simpanan/ kekayaan). Nishabnya jika pendapatan satu tahun senilai atau lebih dari sekitar 90 gr emas (sesuai harga emas sekarang). Zakat yang dikeluarkan sebesar 2,5 persen setelah dikurangi kebutuhan pokok.

Jika dikeluarkan langsung saat menerima pendapatan, maka ini dianalogikan pada zakat tanaman. Harta penghasilan (profesi) mirip dengan panen (hasil pertanian). Jika ini yang diikuti, maka besar nisabnya adalah senilai 630 kg makanan pokok dikeluarkan setiap menerima penghasilan/gaji sebesar 2,5 persen tanpa terlebih dahulu dipotong kebutuhan pokok.

Namun yang lebih penting dari semua hitung-hitungan tersebut adalah kesadaran. Bagaimana seorang muslim--yang memiliki penghasilan sesuai nishab, mau dan berkenan dengan sadar dan ikhlas menzakatkan penghasilan yang diperolehnya. Besarnya zakat yang harus dikeluarkan tak sebesar pengeluaran untuk pengeluaran enternain yang dikeluarkan. Termasuk pengeluaran untuk rokok dan pulsa (kuota internet) di ponsel kita.

Nah, mengenai zakat yang diambil oleh pemerintah melalui pemotongan gaji ini setiap bulannya ini, sepanjang pemerintah tidak ikut campur dalam pengelolaannya, semuanya masuk wilayah Baznas, itu tidak masalah. Namun, jika kemudian zakat tersebut dimasukkan dalam APBN, itu jelas melanggar dan tidak boleh. Apalagi untuk membiayai infrastruktur, untuk membayar utang negara yang jatuh tempo, dan untuk memenuhi keperluan dalam rangka kepentingan politik, itu juga jelas sangat tidak diperbolehkan. Karena peruntukkannya di luar 8 asnaf yang berhak menerima zakat.

Zakat ini, mulai dari pengumpulannya hingga penyalurannya, sangat diatur oleh ketentuan (Syariat) Islam. Jadi, jangan berani macam-macam dan coba-coba untuk mempermainkan pengelolaannya (Mengambil dan menggunakan/menyalurkan) untuk kepentingan lain diluar ketentuan sesuai Syariat Islam.

Zakat itu bentuk syukur kita kepada Allah SWT, yang telah memberi kenikmatan sehat, kenikmatan akal dan kecerdasan, dan kenikmatan-kenikmatan yang lain, sehingga kita bisa bekerja, beribadah, dan bisa melakukan aktivitas sehari-hari secara normal dan nyaman. Jadi kembali lagi, zakat ini adalah kita berbicara tentang kesadaran kita sebagai makhluk yang telah diberi nikmat oleh Allah Ta’ala sang Khalik. (pso/afd)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF