BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)
You Are What You Are

Informasi tentang volume perdagangan valutas dengan London sebagai puncak forex trading di atas New York. Jadi kita tidak bisa berpretensi jadi superman kalau kondisi kita ya memang belum superman.

Pada masa diplomasi dan negosiasi dengan Belanda, Franklin Graham, utusan khusus AS yang ditunjuk PBB jadi ketua mediator Komisi Tiga Negara menyatakan dengan gamblang kepada PM Syahrir, “You are what you are”, Anda adalah Anda dalam realitas. Kalau RI memang waktu itu hanya "de facto" menduduki Jawa Sumatera, ya harus mengakui itu sebab daerah lain sudah dikuasai NICA kembali. Average daily forex turnover in London stood at $2.73 trillion in April, up 15 percent from six months ago, with swaps trading up 18 percent in that period versus an 8 percent rise in cash trading volumes.

Nah sekarang yang jadi soal adalah kenapa waktu itu dalam perundingan KMB, RI rela mengakui utang 1,2 miliar dolar AS, warisan Hindia Belanda. Karena Graham menjanjikan akan menggelontorkan bantuan AS ke Indonesia. Ternyata cuma dikasih kredit export untuk Semen Gresik dan Pusri. Jadi Indonesia adalah satu-satunya negara jajahan yang dibebani membayar utang bekas penjajahnya. Across the Atlantic, daily currency volumes averaged $993.55 billion in April, up percent from a year ago, the New York Fed said.

Nah sekarang ini ya kita harus melihat Indonesia itu punya potensi kekayaan, tapi " memble" dalam mengelola karena "terus menerus dikibuli" seperti waktu KMB itu.  Bagaimana caranya deal dengan negara kaya dan maju itu secara canggih, supaya kita menikmati arus dana investasi, dijadikan sasaran investasi dan jadi lahan produksi untuk ekspor ke pasar global. Ini harus dijual oleh siapapun capres nya.

Jadi kalau ada yang teriak-teriak go to hell, nasionalisme dan sebagainya,  sebetulnya sudah ketinggalan zaman. Sebab, dunia semua berteriak perlu investasi, meski retorika sok bicara nasionalisme retorik gaya jurkam yang kosong melompong tidak punya data dan informasi. Diplomasi itu soal give and take, quid pro quo tit for tat.

Singapura menjadi terkenal karena jadi tuan rumah KTT Trump-Kim Jong Un. Indonesia juga bakal jadi tuan rumah Sidang Gabungan Bank Dunia IMF, tapi malah dikritik tanpa mengerti substansinya. Sidang itu bakal jadi putusan restrukturisasi pemegang saham Bank Dunia-IMF, dimana RI berpeluang naik kelas dan naik quota sahamnya jadi pengendali 10 besar. Ini yang harus diperjuangkan bukan malah kritik soal EP tetek-bengek. Jadi EO itu otomatis akan kedatangan devisa wisatawan yang spendingnya besar itu.

Yang jadi soal besar itu kita sebagai pemegang saham World Bank-IMF, dapat apa, bisa apa dengan posisi itu. Ini yang harus di lobby, bukan malah sibuk soal biaya "hajatan" WB-IMF. Indonesia Inc. punya dana bukan cuma government atau negara atau BUMN, rakyat Indonesia, juga punya aset.

Nah kalau kita kerjanya cuma saling sentimen, saling oposisi kritik tanpa pernah mau memanfaatkan aset Indonesia secara optimal, ya itu kedunguan kita sendiri. Jangan salahkan orang lain.

Kalau Trump invest kesana kemari, tapi ke Asean cuma bawa 300 juta dolar AS. Mau memanfaatkan Indo Pacific, ketimbang OBOR miliaran dollar, karena isu anti AS, anti Beijing, anti sara global macam-macam, ya Indonesia tidak akan kemana mana. Medioker saja. You are what you are.

150 orang kaliber Trump harus digerakkan sebagai aset Indonesia Inc. Sama-sama meningkatkan kelas harkat martabat Indonesia dalam percaturan ekonomi bisnis internasional. Kalau terus saling sikat sikut zero sum game, penguasa petahana diganti oposisi saling ganti kursi tapi tidak menambah kemakmuran, sebab cuma saling gonta ganti kursi dan saling kuasai aset "atas nama negara" tapi zero sum game, tidak akumulatif  berkelanjutan. Itu problemnya: you are what you are.(pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Didin S. Damanhuri, Prof., Dr., SE., MS., DEA

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik             Pengaruh High Class Economy dalam Demokrasi di Indonesia (Bagian-1)