BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Advokat, Dosen Hukum Tata Negara FH-UKI
Yerusalem, Kota Suci Ketiga Umat Islam

Aksi yang digelar oleh umat Islam di Monas pada Jumat, 11 Mei 2018 yang lalu bermaksud menentang pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem, dikarenakan hal tersebut berarti merupakan pengakuan secara sepihak dari Amerika Serikat bahwa kota Yerusalem sepenuhnya adalah milik Israel. Padahal saat ini kota tersebut dibagi menjadi dua (Yerusalem Timur dan Yerusalem Barat). Hanya sebagian yang diakui di bawah penguasaan Israel berdasarkan beberapa perundingan.

Dalam aksi ini, umat Islam menuntut agar Amerika Serikat tidak lagi ikut campur dan membatalkan niat memindahkan kedutaan besarnya di Israel ke Yerusalem (Al Quds). Oleh karena Yerusalem adalah kota suci ketiga bagi umat Islam setelah Mekah dan Madinah. Umat Islam meyakini bahwa salah satu proses perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW adalah dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem dan selanjutnya dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha (untuk menerima perintah dari Allah SWT  mendirikan sholat lima waktu).

Mengapa umat Islam di Indonesia begitu membela bangsa Palestina? Pertama, bahwa Al Quds berada di wilayah yang dipersengketakan antara Israel dan Palestina. Kedua, umat Islam memiliki konsep ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam), selain nilai ukhuwah (persaudaraan) wathaniyah (bangsa) dan basyariyah (umat manusia).

Pertanyaannya, bagaimana cara umat Islam membela bangsa Palestina? Islam mengajarkan ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk melawan kebatilan. Pertama, dengan menggunakan kekuasaan jika memilikinya. Kedua, jika tidak memiliki kekuasaan maka dengan lisan. Ketiga, selemah-lemahnya iman diam dalam doa.  

Dalam konteks berbangsa dan bernegara sebagaimana terdapat pada alinea pertama Pembukaan UUD 1945 yang menyebutkan “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.” Jadi bangsa Indonesia adalah bangsa yang mencintai perdamaian, tapi tentu lebih mencintai kemerdekaan. Sebagai bangsa kita tidak dapat melupakan sejarah bahwa bangsa Palestina adalah salah satu bangsa yang paling awal mengakui kemerdekaan bangsa Indonesia.

Peranan internasional kita juga telah digariskan dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945 “….., dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, …..”

Pengalaman sejarah bangsa Indonesia ini juga menunjukkan bahwa keberpihakan dalam konflik internasional kadangkala harus dimanifestasikan. Sebagai contoh dalam perang India melawan Pakistan pada 1965, Presiden Sukarno mengirimkan kekuatan armada Angkatan Laut Indonesia untuk membantu Pakistan melawan India yang lebih kuat dalam persenjataannya. Hal tersebut dilakukan karena budi baik yang pernah diterima oleh oleh bangsa kita dari rakyat Pakistan yang pernah dipimpin oleh Muhammad Ali Jinnah.

Mengaitkan aksi umat Islam membela hak kemerdekaan bangsa Palestina rasanya kuranglah elok jika “ditumpangi” oleh kehendak mengganti Presiden Joko Widodo di tahun 2019. Sepanjang sikap politiknya masih memihak kepada perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina dan menentang zionisme Israel.  Wallahualam. (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)